Instagram akan menghilangkan likes

Munady
Jum'at, 02/08/2019 08:21 WIB
Instagram akan menghilangkan likes
Ist

Di awal tahun 2019, Instagram melakukan percobaan yang cukup kontroversial dalam penghilangan jumlah like pada postingan di aplikasi tersebut. Percobaan tersebut yang awalnya dimulai di Kanada, kini melebar ke beberapa negara lain seperti, Australia, Brasil, Irlandia, Italia, Jepang dan Selandia Baru. 

Motif dibalik penghapusan Likes 

Hasil riset dari `The Royal Society for Public Health` di Britania Raya menemukan adanya kelemahan dalam aplikasi Instagram yang berubah menjadi destruktif untuk kesehatan mental para penggunanya. Instagram Like telah menjadi perangkat validasi diri oleh para pengguna untuk mencapai social approval melalui konten yang mereka unggah. Instagram Like menjadi sesuatu yang sangat kuat sampai mendapatkannya dengan banyak itu menjadi tolak ukur harga diri seseorang. Sebaliknya, orang-orang yang tidak mendapatkan Likes yang cukup dapat merasa depresi dan menurunkan tingkat kepercayaan diri. Fenomena yang terjadi ini menjadi perhatian sendiri untuk Instagram agar dapat memperbaiki pengalaman pengguna dengan aplikasi tersebut. 

Dampak Penghapusan Instagram Likes untuk Influencer Marketing 

Hilangnya likes mungkin akan menjadi hal yang baik untuk membuat suasana platform tersebut menjadi lebih sehat. Namun, ini dapat mempengaruhi bagaimana influencer marketing beroperasi di kemudian hari. Saat ini like menjadi alat ukur paling penting untuk brand dan agensi untuk menentukan influencer yang sesuai untuk  di sebuah kampanye digital. Karena, kerjasama tersebut akan terlaksana berdasarkan engagement yang melalui pengukuran numerik. Bagi influencer, like adalah metrik yang sangat berguna untuk penghasilan mereka. 

“Sebenarnya, hilangnya like ini bukan sebuah masalah besar, tapi like ini sudah menjadi tolak ukur untuk sebuah brand atau agensi untuk bekerja sama dengan saya. Menurut saya, maaf saja, menurut saya mereka pasti enggan untuk bekerja sama dengan influencer jika hanya ditentukan oleh jumlah followers. Karena followers ini kan sebenarnya sangat mudah untuk dibeli, jadi sayang aja,” ungkap Reza Pahlevi, salah satu influencer lifestyle. 

“Sepertinya lebih masuk akal apabila Instagram mengembalikan lagi ke algoritma menurut kronologis waktu, daripada menghapus salah satu metrik performa terpenting yang dapat mengukur seberapa baik kinerja influencer tersebut,” tambah Reza. 

Berdasarkan temuan perusahaan 99Firms, ada sekitar 250 juta pengguna aktif dari Instagram Stories. Jika Instagram menjalankan perubahan tersebut, Instagram Story dianggap akan mencapai puncaknya dikarenakan tidak terlalu berpengaruhnya kampanye digital di Instagram feed. Dengan fitur swipe up link, brand dan agensi akan lebih mudah melacak kinerja dan mengakses ROI dengan kemungkinan curang yang kecil yang bisa dilakukan oleh influencer. 

Masa depan Instagram Story yang menjanjikan ini memberikan kita bayangan tentang perubahan yang akan terjadi di aplikasi tersebut. Pembaruan ini akan memaksa brand untuk melihat lebih dari jumlah like dan followers yang seorang influencer miliki, seperti impresi atau jumlah klik yang dapat mereka hasilkan. 

“Perubahan ini jelas akan membuat orang beranggapan bahwa Instagram dan isinya adalah lebih dari sekedar media placement,” kata Oddie Randa, COO Gushcloud International. 

“Marketers akan terdorong untuk melihat Instagram influencers sebagai key opinion leaders sesungguhnya dan menggunakan konten (dan mengukur) konten mereka dengan kreativitas mereka yang berfokus pada kualitas engagement dibandingkan dengan cara kita mengukur kinerja influencer sekarang yang hanya berdasarkan engagement dan reach,” tambah Oddie. 

Pada akhirnya, bagaimanapun hasil pembaruan ini akan direalisasikan secara resmi atau tidak, influencer, brand, dan juga agensi harus bersiap-siap dan beradaptasi dengan pendekatan baru di platform ini. Masa depan influencer marketing di Instagram masih sangat optimis dengan perubahan strategi yang harus selalu mengikuti dan menyesuaikan. 

 

 

 

KOMENTAR