Akula, Submarino Terbesar di Dunia yang Dirancang untuk Bertahan di Bawah Es Arktik

- Minggu, 27/09/2026

Citraselebriti — Uni Soviet pernah membangun salah satu kapal selam paling besar dan kompleks dalam sejarah, yakni kelas Akula yang dikenal di Barat dengan nama Typhoon. Ukurannya bahkan membuat kapal selam ini menyerupai kota terapung yang mampu membawa sekitar 160 awak.

Kapal selam tersebut memiliki panjang hampir 173 meter, lebar lebih dari 23 meter dan bobot sekitar 48.000 ton ketika berada di bawah air. Sebagai gambaran, panjangnya setara dengan gedung pencakar langit yang dibaringkan, sementara bobotnya jauh melampaui sejumlah kapal perang berukuran besar.

Namun, ukuran raksasa Akula bukan sekadar simbol kekuatan militer. Di balik desain tersebut terdapat persoalan teknis yang harus dipecahkan para insinyur Soviet pada era Perang Dingin.

Pada awal 1970-an, Amerika Serikat mengembangkan program Trident dan kapal selam strategis kelas Ohio yang mampu membawa 24 rudal balistik antarbenua. Uni Soviet kemudian membutuhkan sistem tandingan yang dapat membawa rudal balistik dan beroperasi dalam waktu lama di bawah lapisan es Arktik.

Proyek tersebut dipercayakan kepada biro desain Rubin di Leningrad dengan Sergei Nikitich Kovalev sebagai salah satu perancang utamanya.

Rudal besar memaksa desain kapal selam berubah

Persoalan utama muncul dari rudal balistik berbahan bakar padat yang dikembangkan bersamaan dengan kapal selam.

Rudal Soviet tersebut memiliki bobot sekitar 90 ton dan panjang 16 meter. Setiap rudal dapat membawa hingga 10 hulu ledak dan memiliki jangkauan lebih dari 8.000 kilometer.

Akula dirancang membawa 20 rudal tersebut. Masalahnya, ukuran rudal membuatnya sulit ditempatkan di dalam satu lambung kapal selam konvensional tanpa membuat kapal menjadi terlalu tinggi.

Uni Soviet juga tidak ingin membangun fasilitas pelabuhan baru dengan perairan yang jauh lebih dalam. Kapal selam tersebut harus tetap dapat menggunakan fasilitas yang sudah tersedia.

Solusinya sangat tidak biasa. Alih-alih membuat satu lambung silinder berukuran sangat besar, para perancang mengembangkan struktur dengan dua lambung tekan yang ditempatkan berdampingan, menyerupai konsep katamaran.

Di antara kedua lambung tersebut ditempatkan silo rudal.

Konstruksi kapal selam dilakukan di galangan Sevmash, Severodvinsk. Kapal pertama diluncurkan pada 1976 dan mulai bertugas pada Desember 1981.

Mengapa ukurannya begitu besar?

Di bagian dalam Akula terdapat dua lambung tekan dengan diameter sekitar tujuh meter. Keduanya menjadi bagian utama yang benar-benar menahan tekanan laut.

Sementara itu, bagian luarnya merupakan lambung ringan berukuran sangat besar. Ketika kapal menyelam, ruang antara lambung ringan dan lambung tekan diisi air laut.

Inilah yang membuat Akula mendapatkan julukan tidak resmi sebagai “water carrier” atau pengangkut air.

Bobot kapal ketika berada di permukaan sekitar 23.200 ton, sedangkan displacement di bawah air dapat meningkat lebih dari dua kali lipat karena air laut memenuhi bagian lambung ringannya.

Desain tersebut memberikan daya apung besar sehingga kapal dapat tetap relatif tinggi di air sekaligus mampu beroperasi di wilayah perairan yang tidak terlalu dalam.

Desain itu juga berguna ketika Akula beroperasi di kawasan Arktik. Kapal dirancang untuk dapat muncul menembus lapisan es hingga sekitar 2,5 meter.

Bagian menara dan perlindungan di atasnya diperkuat, sementara beberapa bagian kemudi horizontal dibuat dapat ditarik agar tidak rusak ketika kapal menembus es.

Mengandalkan bentuk dan material untuk menghadapi tekanan

Pada kedalaman sekitar 400 meter, tekanan air mencapai kira-kira 40 kali tekanan atmosfer di permukaan. Batas kedalaman Akula disebut dapat mencapai sekitar 500 meter.

Namun, bukan seluruh bagian kapal yang harus menahan tekanan tersebut.

Lambung ringan di bagian luar tidak dibuat sebagai ruang kedap air. Air laut dapat masuk ke ruang tersebut sehingga tekanan dari kedua sisi lambung relatif seimbang.

Tekanan utama ditahan oleh lambung tekan berbentuk silinder.

Lambung tersebut menggunakan paduan titanium, material yang memiliki kekuatan tinggi dengan bobot lebih ringan dibandingkan baja. Titanium juga memiliki ketahanan terhadap korosi air laut dan sifat magnetik yang rendah.

Penggunaan titanium membuat konstruksi Akula menjadi sangat kompleks. Proses pengelasan harus dilakukan dengan perlindungan gas argon karena titanium dapat menjadi rapuh ketika bereaksi dengan oksigen dan nitrogen pada temperatur tinggi.

Bentuk silinder juga memiliki fungsi penting. Tekanan air dapat didistribusikan lebih merata pada permukaan melengkung dibandingkan permukaan datar.

Di bagian dalam, lambung diperkuat dengan rangka memanjang dan cincin struktural yang membantu mempertahankan bentuk ketika kapal berada di kedalaman.

Dua reaktor nuklir

Akula menggunakan dua reaktor nuklir, masing-masing dengan daya termal sekitar 190 megawatt.

Reaktor menghasilkan panas untuk menghasilkan uap yang kemudian menggerakkan turbin. Sistem propulsinya mampu menghasilkan sekitar 100.000 tenaga kuda untuk dua poros.

Masing-masing poros menggerakkan baling-baling tujuh bilah. Dalam kondisi menyelam, kapal dapat mencapai kecepatan sekitar 25 knot atau hampir 50 kilometer per jam.

Energi nuklir membuat kapal dapat beroperasi selama berbulan-bulan tanpa harus kembali ke pangkalan untuk mengisi bahan bakar.

Namun, batas operasional bukan hanya soal bahan bakar. Persediaan makanan dan kemampuan manusia untuk hidup dalam ruang tertutup menjadi faktor penting.

Akula dirancang memiliki kemampuan operasi hingga sekitar 180 hari.

Seperti kota kecil di bawah laut

Salah satu aspek paling unik dari Akula adalah fasilitas bagi awaknya.

Dari sekitar 160 awak, sebagian merupakan perwira dan spesialis yang bertanggung jawab mengoperasikan sistem kompleks kapal.

Berbeda dari sejumlah kapal selam era tersebut yang memiliki ruang tidur sangat terbatas, Akula menyediakan kabin yang relatif lebih nyaman. Beberapa kabin dilengkapi fasilitas seperti televisi dan pendingin udara.

Kapal ini juga memiliki ruang makan, ruang olahraga, salon, solarium dan sauna dengan lapisan kayu ek.

Fasilitas yang paling menarik adalah kolam renang berukuran sekitar 4 x 2 meter dengan kedalaman dua meter. Kolam tersebut dapat diisi air tawar maupun air laut dan dapat dipanaskan.

Di salah satu bagian kapal juga terdapat area yang digunakan untuk memelihara ikan, tanaman dan bahkan burung.

Fasilitas tersebut bukan sekadar kemewahan. Kehidupan selama berbulan-bulan tanpa sinar matahari dan tanpa melihat dunia luar dapat memberikan tekanan psikologis yang besar kepada awak.

Operasi senyap di bawah es

Dalam operasi patroli, keheningan menjadi salah satu faktor paling penting. Kapal selam tidak selalu bergerak dengan kecepatan tinggi karena suara yang dihasilkan dapat meningkatkan kemungkinan terdeteksi.

Di bawah permukaan laut, komunikasi radio juga menjadi persoalan karena gelombang radio sulit menembus air asin. Karena itu, kapal menggunakan antena dan pelampung khusus untuk menerima komunikasi pada kedalaman tertentu.

Akula juga dilengkapi sistem keselamatan berskala besar. Dua kapsul penyelamat ditempatkan di bagian atas kapal dan dirancang untuk membawa seluruh awak apabila terjadi keadaan darurat.

Rudal balistik yang dibawa kapal juga ditempatkan dalam silo dengan sistem suspensi yang membantu meredam guncangan dan getaran.

Akula dapat meluncurkan rudal dari kedalaman tertentu maupun dari permukaan, termasuk setelah muncul melalui lapisan es.

Pernah mengalami insiden peluncuran rudal

Salah satu insiden terjadi pada 27 September 1991 ketika kapal selam Arkhangelsk melakukan latihan peluncuran di Laut Putih.

Rudal latihan mengalami ledakan dan kebakaran di dalam silo. Ledakan tersebut merusak bagian penutup silo dan menyebabkan hulu ledak jatuh ke laut.

Meski mengalami kerusakan serius, kapal selam tetap mampu bertahan dan kembali ke pangkalan. Insiden tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai kemampuan struktur multihull kapal dalam menghadapi kerusakan.

Enam kapal dibangun

Nama Akula juga kerap membingungkan karena dalam terminologi Barat, nama tersebut digunakan untuk kapal selam Soviet lain yang berukuran lebih kecil. Sementara kelas raksasa ini lebih dikenal NATO dengan kode Typhoon.

Sebanyak enam kapal kelas tersebut dibangun dan mulai bertugas antara 1981 hingga 1989. Kapal-kapal itu ditempatkan di Armada Utara dan beroperasi dari kawasan Semenanjung Kola.

Sebuah kapal ketujuh sempat dimulai pembangunannya, tetapi tidak pernah diselesaikan dan akhirnya dibongkar di galangan.

Untuk mendukung operasi kapal-kapal tersebut, Uni Soviet juga membangun kapal transportasi khusus yang mampu membawa rudal balistik dalam jumlah besar.

Berakhir setelah Perang Dingin

Setelah Uni Soviet bubar, biaya pemeliharaan kapal selam berukuran raksasa tersebut menjadi persoalan.

Pada dekade 1990-an, keterbatasan anggaran membuat perawatan armada strategis menjadi semakin sulit. Selain itu, fasilitas produksi rudal yang digunakan kapal-kapal tersebut berada di wilayah negara yang berbeda setelah runtuhnya Uni Soviet.

Beberapa kapal akhirnya dibongkar pada 2000-an, termasuk melalui program pengurangan ancaman bersama dengan Amerika Serikat.

Proses pembongkaran dilakukan secara bertahap, mulai dari pengeluaran bahan bakar dan peralatan reaktor hingga pemotongan bagian reaktor untuk kemudian disimpan dalam fasilitas khusus.

Sementara itu, kapal utama kelas tersebut, Dmitriy Donskoy, bertahan lebih lama setelah dikonversi menjadi platform pengujian rudal Bulava.

Kapal tersebut kemudian digunakan dalam berbagai kegiatan pengujian dan pada 2017 sempat mengikuti parade angkatan laut di Kronstadt.

Pada 2023, Dmitriy Donskoy akhirnya ditarik dari dinas.

Era kapal selam raksasa berakhir

Kapal selam strategis Rusia generasi berikutnya, seperti kelas Borei, memiliki ukuran lebih kecil dan membawa lebih sedikit rudal. Perkembangan teknologi rudal yang semakin ringan serta sistem propulsi dan teknologi peredaman suara membuat kapal selam berukuran ekstrem seperti Akula tidak lagi diperlukan.

Akula pada akhirnya menjadi contoh bagaimana sebuah desain dapat berkembang karena serangkaian kompromi teknis.

Rudal yang besar membutuhkan silo besar. Silo besar membutuhkan lambung yang lebar. Keterbatasan pelabuhan membuat kapal harus memiliki daya apung tinggi. Operasi di Arktik membutuhkan perlindungan tambahan terhadap es.

Bahkan fasilitas seperti kolam renang dan sauna berkaitan dengan kebutuhan mempertahankan kondisi fisik serta psikologis awak selama berbulan-bulan di bawah laut.

Akula bukan sejak awal dirancang untuk menjadi kapal selam terbesar di dunia. Ukurannya merupakan hasil dari berbagai persoalan yang harus dipecahkan para insinyur Soviet.

Namun, rangkaian solusi tersebut akhirnya melahirkan salah satu kapal selam paling besar dan unik yang pernah dibuat.

Kapal ini dirancang untuk menghadapi kemungkinan perang nuklir di bawah es Arktik, tetapi pada akhirnya bukan peperangan yang mengakhiri eranya. Berakhirnya Perang Dingin dan perubahan teknologi justru membuat kapal selam raksasa tersebut kehilangan alasan untuk terus dipertahankan.

Tags

Artikel Terkait

Terkini