Citraselebriti — Ahmad Dhani mengungkap perjalanan panjang Dewa 19 dalam menemukan karakter musiknya hingga akhirnya berani tampil dengan identitas sendiri. Menurut Dhani, proses tersebut tidak terjadi secara instan, melainkan melalui perjalanan panjang sejak awal berdirinya Dewa 19 hingga melewati masa vakum selama satu dekade.
Dhani mengatakan, pada masa awal perjalanan Dewa 19, dirinya bersama Andra Ramadhan masih banyak dipengaruhi oleh berbagai musisi dan band yang mereka kagumi. Kondisi tersebut menurutnya merupakan bagian dari proses pencarian jati diri sebuah band yang masih berada dalam tahap awal perkembangan.
“Ibarat seorang remaja dalam dunia musik, kami, khususnya Andra dan saya, memang awal-awal pasti labil. Semua pasti labil karena kita belum punya konsep,” ujar Ahmad Dhani dalam jumpa pers yang digelar di Java Rock, Kemang, Jakarta Selatan, Senin (14/9/2026).
Ia kemudian mengenang bagaimana Dewa 19 sempat memiliki referensi musik yang berbeda-beda di setiap album. Pada album pertama yang dirilis pada 1992, misalnya, mereka ingin memiliki karakter seperti Toto. Sementara pada album berikutnya, pengaruh musik dari Counting Crows hingga berbagai musisi lain mulai masuk dalam proses kreatif mereka.
“Album pertama tahun 1992 kita itu penginnya seperti Toto. Nanti album kedua penginnya seperti Counting Crows. Andra membawa influence Jane’s Addiction, saya suka Counting Crows. Itu mempengaruhi album ketiga juga,” tutur Dhani.
Menurut Dhani, titik penting dalam perjalanan Dewa 19 justru terjadi ketika band tersebut berhenti beraktivitas selama sekitar 10 tahun. Dewa 19 vakum sejak 2010 hingga 2020, dan masa tersebut secara tidak langsung memberikan ruang bagi para personelnya untuk tidak lagi terpaku pada identitas musik yang sebelumnya mereka jadikan referensi.
“Justru puncak daripada kematangan kami itu semenjak kita vakum. Kita enggak mikirin apa-apa. Dari 2010 sampai 2020, 10 tahun Dewa 19 enggak ada,” katanya.
Dhani menilai periode tersebut menjadi salah satu fase penting karena selama satu dekade dirinya maupun Andra tidak secara aktif memikirkan Dewa 19. Setelah kemudian kembali membangun Dewa 19 dengan formasi dan energi baru, mereka mulai memiliki kepercayaan diri untuk sepenuhnya menjadi diri sendiri.
“Saya enggak mikirin Dewa 19. Andra juga enggak mikirin Dewa 19 selama 10 tahun. Begitu ketemu Firza sama Elo, atau memulai newborn Dewa 19, di situ kita sudah mulai pede untuk tidak memakai atau mencontoh karakter musik daripada Toto, Queen, atau yang lain,” ungkapnya.
Dhani mengatakan, salah satu perubahan paling mencolok setelah kebangkitan Dewa 19 adalah keputusan untuk menggunakan brass section sebagai bagian penting dalam karakter musik mereka. Menurutnya, keberadaan trompet, trombon, dan saksofon membuat warna musik Dewa 19 semakin mudah dikenali.
“Semenjak itu mulailah ada brass dalam Dewa 19. Karena waktu itu saya pikir, bagaimana caranya band Dewa 19 ini berbeda dengan band-band yang lain. Maka dari itu kita rekrut tiga pemain brass, trompet, trombon, saksofon, untuk membentuk karakter musik Dewa yang baru,” jelasnya.
Dhani menyebut penggunaan brass tersebut menjadi salah satu pembeda Dewa 19 dibandingkan sejumlah band lain yang berada dalam genre yang sama. Ia kemudian membandingkan pendekatan tersebut dengan beberapa band yang menjadi referensi musik Dewa 19 pada masa sebelumnya.
“Queen tidak pakai brass, Toto pakai brass tapi enggak semua lagu. Chicago pakai brass, tapi musiknya kan enggak sama dengan Dewa 19,” katanya.
Menurut Dhani, karakter tersebut mulai semakin kuat sejak sekitar 2020 hingga 2022, terutama ketika Dewa 19 menjalani tur 30 tahun. Pada periode tersebut, publik mulai semakin mengenal Dewa 19 sebagai band yang menghadirkan brass section dalam pertunjukan mereka.
“Semenjak 2020, 2021 sampai 2022, dimulainya 30 tahun tur, kita mulai dikenal sebagai band yang menggunakan brass section. Itu yang membuat perbedaan cukup mencolok dengan band-band lain yang segenre dengan kita,” ujar Dhani.
Ia bahkan menilai penggunaan brass kini sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas Dewa 19. Dhani merasa karakter musik tersebut telah melekat begitu kuat sehingga Dewa 19 seolah kehilangan salah satu ciri khasnya apabila tampil tanpa brass section.
“Kalau melihat Dewa enggak pakai brass sekarang, kayaknya bukan Dewa jadinya,” tegasnya.
Dhani menyebut perubahan tersebut sebagai bagian dari metamorfosis Dewa 19. Setelah melalui masa vakum selama 10 tahun, mereka kembali bukan dengan keinginan untuk meniru karakter musik band lain, melainkan dengan keyakinan untuk membangun identitas sendiri.
“Di situlah metamorfosa Dewa 19. Dari mati suri dari 2010 sampai 2020, bangkit lagi dengan kepercayaan diri untuk tidak bikin musik seperti Jane’s Addiction, tidak bikin musik seperti Toto. Tapi ya Dewa 19, ya kayak gini,” pungkas Ahmad Dhani.