Citraselebriti — Perkembangan teknologi terus menghadirkan berbagai inovasi yang sebelumnya hanya bisa dibayangkan dalam film fiksi ilmiah. Mulai dari reaktor nuklir berukuran kecil yang dapat diangkut menggunakan trailer, robot bedah otak, hingga kebun bawah laut, berbagai teknologi baru kini telah dikembangkan dan menjalani pengujian.
Sejumlah inovasi tersebut dirancang untuk membantu manusia dalam berbagai bidang, mulai dari eksplorasi luar angkasa, pertanian, industri, pertahanan, kesehatan, hingga pelestarian lingkungan.
Berikut 15 teknologi masa depan yang telah diperkenalkan atau diuji coba di berbagai negara.
1. Virgin Galactic Apiron, Pesawat untuk Wisata Luar Angkasa
Virgin Galactic memperkenalkan pesawat luar angkasa bernama Apiron, yang merupakan bagian dari generasi baru pesawat Delta Class. Nama Apiron dipilih melalui pemungutan suara publik yang diikuti peserta dari 83 negara di enam benua. Dalam bahasa Yunani kuno, Apiron berarti tanpa batas.
Pesawat ini diperkenalkan pada 28 Oktober 2026 dan diterbangkan dari pabrik di Mesa, Arizona, menuju Spaceport America, New Mexico, dengan menumpang pesawat induk Eve.
Seperti generasi sebelumnya, Apiron akan dibawa terlebih dahulu oleh pesawat induk sebelum menyalakan mesin roketnya sendiri untuk mencapai tepi luar angkasa.
Desain Delta Class dikembangkan agar proses penerbangan dan perawatan lebih efisien. Pesawat ini mampu membawa hingga enam penumpang dalam satu penerbangan.
Virgin Galactic sebelumnya menjual tiket dengan harga 750.000 dolar AS per kursi. Perusahaan kini menargetkan penerbangan komersial pertama pada awal kuartal II 2027.
2. PsiQuantum, Teknologi Sakelar Optik untuk Pusat Data AI
Perusahaan teknologi kuantum PsiQuantum mengembangkan sakelar sirkuit optik yang dapat membantu meningkatkan konektivitas pusat data kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Teknologi ini memanfaatkan chip fotonik silikon yang mampu mengarahkan partikel cahaya dengan tingkat kehilangan sinyal rendah.
Pada 28 Oktober 2026, PsiQuantum memperlihatkan perangkat demonstrasi berukuran 8x8 yang memungkinkan delapan koneksi serat optik dihubungkan dengan delapan koneksi lainnya.
Dalam pengujian, perangkat tersebut mencatat kehilangan sinyal sekitar 1,2 dB dan mampu melakukan konfigurasi ulang dalam waktu kurang dari tiga milidetik.
Inovasi ini dikembangkan untuk membantu pusat data AI menghubungkan kelompok prosesor dalam jumlah besar secara lebih efisien tanpa membutuhkan penguat optik yang boros energi.
3. Airbus U740 Valkyrie, Pesawat Tempur Tanpa Pilot
Airbus U740 Valkyrie merupakan pesawat tempur nirawak yang dirancang untuk beroperasi bersama pesawat tempur berawak.
Pesawat ini dapat lepas landas menggunakan pendorong roket berbahan bakar padat dari sebuah trailer sehingga tidak membutuhkan landasan pacu konvensional.
Pada 12 Oktober 2026, Airbus bersama mitranya dari Amerika Serikat, Kratos, melakukan penerbangan perdana Valkyrie di Eropa.
Pengujian tersebut dilaporkan berhasil memenuhi seluruh sasaran, termasuk kemampuan mengubah misi ketika pesawat sudah berada di udara.
Menggunakan basis pesawat Kratos XQ-58 Valkyrie, teknologi ini dilengkapi sistem kendali misi Airbus yang disebut MARS (Multiplatform Autonomous Reconfigurable and Secure).
Pesawat memiliki panjang sekitar 30 kaki dengan rentang sayap 27 kaki. Valkyrie dirancang membawa persenjataan di ruang internal dan bagian bawah sayap.
Airbus menargetkan teknologi tersebut siap digunakan Angkatan Udara Jerman pada 2029.
4. Neuralink, Robot Bedah untuk Menanam Chip di Otak
Neuralink mengembangkan robot bedah khusus untuk membantu proses pemasangan benang elektroda berukuran lebih tipis daripada rambut manusia ke dalam jaringan otak.
Benang tersebut menjadi bagian dari implan yang menghubungkan otak manusia dengan perangkat komputer.
Untuk memastikan pemasangan berlangsung akurat, Neuralink mengembangkan robot yang bekerja menyerupai mesin jahit mikroskopis.
Robot dilengkapi delapan kamera dan pemindai Optical Coherence Tomography (OCT) yang memungkinkan sistem melihat kondisi jaringan otak secara langsung.
Versi terbarunya menggunakan lengan robot lima sumbu berukuran lebih kecil agar dapat menjangkau berbagai titik pemasangan.
Teknologi ini juga dikembangkan agar jarum dapat menembus lapisan pelindung luar otak tanpa harus mengangkatnya terlebih dahulu.
Meski robot mengambil alih pekerjaan pemasangan yang membutuhkan ketelitian tinggi, dokter bedah tetap memegang kendali prosedur.
5. Vast Haven-1, Stasiun Luar Angkasa Komersial
Perusahaan Vast mengembangkan Haven-1, sebuah stasiun luar angkasa komersial yang dirancang menjadi fasilitas hunian sekaligus laboratorium penelitian di orbit.
Stasiun ini memiliki satu modul dengan ruang hidup sekitar 1.600 kaki kubik dan direncanakan diluncurkan menggunakan roket SpaceX Falcon 9.
Setelah mencapai orbit, Haven-1 akan menjalani pemeriksaan tanpa awak selama sedikitnya dua minggu untuk memastikan tekanan udara, sistem navigasi, dan seluruh perangkat berfungsi dengan baik.
Selanjutnya, empat astronaut akan dikirim menggunakan pesawat SpaceX Crew Dragon.
Haven-1 juga disiapkan sebagai tempat penelitian dan eksperimen manufaktur dalam kondisi gravitasi mikro.
Vast mengembangkan proyek tersebut tanpa pendanaan NASA. Haven-1 nantinya menjadi tahap awal menuju Haven-2, stasiun luar angkasa berukuran lebih besar yang dirancang sebagai penerus Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Peluncurannya ditargetkan pada kuartal pertama 2027.
6. Carbon Autonomy, Traktor Pertanian Tanpa Pengemudi
Carbon Robotics mengembangkan Carbon Autonomy, teknologi yang memungkinkan traktor pertanian bekerja secara otomatis tanpa pengemudi di dalam kabin.
Sistem ini dapat dipasang pada traktor John Deere seri 6R dan 8R tanpa melakukan perubahan permanen pada kendaraan.
Perangkat tersebut dilengkapi kamera, radar keselamatan, sistem penentuan posisi satelit berakurasi tinggi, serta teknologi kecerdasan buatan untuk membaca kondisi lahan dan mengarahkan traktor mengikuti jalur pertanian.
Pengoperasiannya tetap diawasi manusia melalui pusat kendali jarak jauh. Operator dapat mengambil alih kendali apabila traktor menghadapi hambatan seperti hewan, benda asing, atau sistem irigasi.
Teknologi ini dapat digunakan untuk pekerjaan penyiangan menggunakan laser, pemotongan rumput, pengolahan tanah, hingga persiapan lahan.
Petani juga dapat kembali menggunakan kendali manual hanya dengan menekan sebuah tombol.
7. Radiant Kaleidos, Pembangkit Nuklir Mini di Atas Trailer
Radiant mengembangkan Kaleidos, reaktor nuklir mikro berkapasitas satu megawatt yang dirancang untuk dibawa menggunakan trailer.
Pembangkit listrik berukuran kecil ini ditujukan untuk memasok energi ke pangkalan militer, pusat data, rumah sakit, dan komunitas terpencil.
Radiant menyebut reaktor tersebut mampu menghasilkan listrik untuk kebutuhan sekitar 1.000 rumah.
Teknologi ini menggunakan bahan bakar partikel TRISO yang dirancang mampu bertahan pada suhu lebih dari 2.900 derajat Fahrenheit. Sistem pendinginnya menggunakan kipas sehingga tidak membutuhkan pasokan air di lokasi operasional.
Pada Agustus 2026, unit reaktor tersebut dikirim lebih dari 1.000 mil melalui jalur darat dari fasilitas produksi Radiant di El Segundo, California, menuju Idaho National Laboratory.
Di sana, reaktor menjalani serangkaian pengujian dalam lima tahap, termasuk pengoperasian pada daya penuh selama sedikitnya 150 jam tanpa bantuan operator.
Radiant menargetkan pengiriman pertama ke Buckley Space Force Base pada 2028.
8. Sarcos Guardian XO, Eksoskeleton untuk Mengangkat Beban Berat
Sarcos Guardian XO merupakan teknologi eksoskeleton bertenaga baterai yang dirancang untuk meningkatkan kemampuan fisik manusia saat bekerja.
Perangkat yang dikenakan pada seluruh tubuh ini memungkinkan penggunanya mengangkat beban hingga 200 pon atau sekitar 90 kilogram secara berulang, dengan beban yang dirasakan jauh lebih ringan.
Guardian XO memiliki 24 titik gerak bertenaga yang mengikuti pergerakan tubuh manusia.
Sistem kendalinya dirancang agar gerakan robot mengikuti pengguna tanpa jeda yang terasa. Baterainya juga dapat diganti sehingga perangkat bisa digunakan dalam durasi kerja panjang.
Teknologi ini pernah menjalani uji coba oleh Delta Airlines dan dibeli Angkatan Laut Amerika Serikat.
Namun, ada catatan penting. Sarcos menghentikan bisnis perangkat kerasnya pada 2023 dan berganti nama menjadi Paladine AI pada 2024. Dengan demikian, Guardian XO merupakan teknologi yang pernah dikembangkan dan diuji, tetapi tidak lagi menjadi produk aktif perusahaan.
9. Inversion Space Arc, Pengiriman Barang dari Luar Angkasa
Inversion Space mengembangkan Arc, kendaraan pengiriman kargo dari orbit yang dirancang mampu mengantarkan barang ke hampir semua lokasi di Bumi dalam waktu kurang dari satu jam.
Perusahaan rintisan asal Los Angeles tersebut memperkenalkan Arc pada 1 Oktober 2025.
Kendaraan ini memiliki desain lifting body yang memungkinkan tubuhnya menghasilkan gaya angkat ketika kembali memasuki atmosfer Bumi.
Dengan ukuran sekitar empat kaki lebar dan delapan kaki tinggi, Arc mampu membawa kargo hingga 500 pon atau sekitar 227 kilogram.
Barang yang dapat dibawa antara lain perlengkapan medis, perangkat komunikasi, dan pesawat nirawak berukuran kecil.
Arc dirancang ditempatkan di orbit rendah Bumi dan dapat menunggu hingga lima tahun sebelum digunakan.
Ketika dibutuhkan, kendaraan tersebut akan memasuki atmosfer dengan kecepatan hipersonik, bergerak menuju lokasi tujuan, kemudian mendarat menggunakan parasut yang dapat diarahkan.
Teknologi ini dirancang dapat digunakan kembali dan terutama ditujukan untuk kebutuhan militer Amerika Serikat.
10. Gento Luna dan Wuji, Robot dengan Tangan Mirip Manusia
Perusahaan robotika asal China, Gento Robotics, mengembangkan Gento Luna, robot beroda dengan tubuh bagian atas menyerupai manusia.
Robot ini memiliki tinggi sekitar 5 kaki 7 inci dan dapat dilipat hingga sekitar 2 kaki 7 inci agar lebih mudah dibawa menggunakan lift.
Setiap lengannya mampu mengangkat beban hingga sekitar 13 pon. Sensor pada lengan, pinggang, dan kaki memungkinkan robot merasakan tekanan ketika berinteraksi dengan benda.
Sementara itu, Wuji menghadirkan teknologi tangan robot dengan motor penggerak langsung di dalam jari.
Masing-masing tangan memiliki 20 sendi yang dapat dikendalikan secara aktif, dengan empat sendi pada setiap jari.
Dalam demonstrasi yang dibagikan pada September 2026, Gento Luna menggunakan tangan Wuji untuk memegang botol, menyusun balok, dan merapikan mainan.
Robot tersebut mampu menyesuaikan genggaman sesuai bentuk dan ukuran benda yang dipegang.
11. Nemo’s Garden, Kebun Tanaman di Bawah Laut
Nemo’s Garden merupakan proyek pertanian bawah laut yang dikembangkan di lepas pantai Noli, Italia.
Proyek ini menggunakan kubah transparan berisi udara yang disebut biosfer dan dipasang sekitar 20 hingga 33 kaki di bawah permukaan laut.
Di dalam kubah tersebut, berbagai tanaman seperti basil, selada, tomat, kacang-kacangan, stroberi, dan tanaman herbal ditanam menggunakan sistem hidroponik.
Air laut yang menguap di dalam kubah akan mengalami kondensasi pada dinding bagian dalam sehingga menghasilkan air tawar.
Suhu laut juga membantu menjaga kestabilan temperatur di dalam biosfer. Karena tanaman terlindungi dari hama dan penyakit yang berasal dari lingkungan luar, penggunaan pestisida dapat dihindari.
Proyek ini dimulai pada 2012 sebagai eksperimen menanam basil di bawah laut.
Penelitian Universitas Pisa pada 2020 menemukan bahwa basil yang ditanam di bawah laut memiliki kandungan minyak esensial dan antioksidan lebih tinggi.
Selain menjadi tempat pertanian, kubah tersebut juga berkembang menjadi terumbu buatan yang menarik ikan dan kuda laut.
12. Interstellar Lab Biopod, Rumah Kaca untuk Misi Bulan dan Mars
Interstellar Lab mengembangkan Biopod, rumah kaca berteknologi tinggi yang dirancang untuk mendukung pertanian di lingkungan ekstrem, termasuk Bulan dan Mars.
Namun, teknologi ini juga sudah digunakan untuk menumbuhkan tanaman di Bumi.
Biopod berbentuk kubah yang dapat mengatur temperatur, kelembapan, oksigen, serta kadar karbon dioksida di dalamnya.
Sistem tersebut memungkinkan kondisi lingkungan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing tanaman.
Perusahaan asal Prancis itu menyebut Biopod mampu mendukung lebih dari 300 jenis tanaman yang dapat dipanen.
Teknologi ini juga digunakan untuk penelitian yang berkaitan dengan produksi molekul tertentu pada tanaman. Sejumlah perusahaan kecantikan dan parfum, termasuk L’Oreal, menjadi pelanggan teknologi tersebut.
Interstellar Lab juga mengembangkan sistem pertanian untuk kebutuhan luar angkasa. Modul produksinya pernah memenangkan tahap pertama NASA Deep Space Food Challeng pada 2021.
Selainitu, perusahaan mendapatkan kontrak NASA untuk mengadaptasi teknologi Biopod bagi kebutuhan pertanian di Bulan.
13. AirSeed Artemis, Drone Penanam Hutan dari Udara
AirSeed Technologies asal Australia mengembangkan Artemis, drone yang dirancang untuk menanam pohon dengan menembakkan kapsul benih ke tanah dari udara.
Drone ini diklaim mampu menanam hingga 40.000 kapsul benih dalam satu hari atau sekitar dua kapsul setiap detik.
Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan metode penanaman manual yang rata-rata mencapai sekitar 800 benih per orang dalam sehari.
Sebelum drone terbang, perangkat pemetaan akan memindai kondisi lahan. Sistem kecerdasan buatan kemudian menentukan lokasi penanaman dengan menghindari bebatuan, jalan, dan pohon tumbang.
Keunggulan lainnya terdapat pada kapsul benih yang dibuat dari limbah biomassa kaya karbon.
Kapsul tersebut berfungsi melindungi benih dari serangga, hewan pengerat, dan burung. Ketika hujan turun, kapsul menyerap air sekaligus membantu proses perkecambahan dengan menyediakan nutrisi dan probiotik.
Setiap lokasi penanaman juga tercatat sehingga drone dapat kembali untuk memantau pertumbuhan pohon.
AirSeed mengklaim metode tersebut 25 kali lebih cepat dan 80 persen lebih murah dibandingkan penanaman konvensional.
14. IROV SeaUrchin, Kapal Patroli Tanpa Awak
Perusahaan teknologi kelautan asal Kochi, India, IROV mengembangkan SeaUrchin, kapal berkecepatan tinggi yang dapat melakukan patroli tanpa awak.
Teknologi ini disebut High-Speed Surface Autonomous Craft (HISAC) dan dirancang untuk kebutuhan pertahanan, keamanan pesisir, serta pemantauan wilayah laut.
IROV didirikan oleh dua lulusan Indian Institutes of Technology, John T. Matai dan Kaniper Palaniappan.
Sebelumnya, perusahaan tersebut dikenal melalui pengembangan Tuna, drone bawah laut komersial pertama India yang mampu menyelam hingga hampir 1.000 kaki.
Robot bawah laut buatan IROV juga telah digunakan dalam berbagai penelitian, termasuk eksplorasi laut Antarktika dan studi gunung berapi bawah laut.
Perusahaan tersebut bahkan telah menandatangani kerja sama untuk memasok robot bawah laut kepada Angkatan Laut India.
Melalui SeaUrchin, IROV memperluas teknologi robotika kelautannya dari bawah permukaan menuju kapal patroli otonom di permukaan laut.
Hingga kini, perusahaan belum mengumumkan secara lengkap spesifikasi kecepatan dan jangkauan operasional SeaUrchin.
Berbagai inovasi tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi robotika, kecerdasan buatan, energi nuklir, dan rekayasa luar angkasa mulai diterapkan untuk menjawab kebutuhan manusia.
Meski sebagian masih berada dalam tahap pengujian atau pengembangan, teknologi-teknologi tersebut memberikan gambaran mengenai kemungkinan perubahan besar dalam cara manusia bekerja, bertani, menjelajahi luar angkasa, hingga menjaga lingkungan pada masa mendatang.
Artikel Terkait
BABYMONSTER Hadirkan Lagu ‘DESERVE’, Angkat Kisah Cinta dan Ketulusan
Teknologi Masa Depan yang Sudah Dikembangkan, dari Reaktor Nuklir Portabel hingga Robot Penanam Hutan
Lemaire Hadirkan Koleksi di Paris Men’s Fashion Week
Roti Goreng Tape Singkong, Camilan Renyah di Luar dan Lembut di Dalam