Citraselebriti — Teknologi militer tidak selalu identik dengan kendaraan berukuran besar dan berbobot berat. Dalam beberapa tahun terakhir, kendaraan berukuran kompak justru semakin menarik perhatian karena mampu melintasi medan ekstrem, membawa muatan besar, hingga beroperasi tanpa pengemudi.
Mulai dari kendaraan taktis lapis baja, kendaraan segala medan, hingga robot beroda dan berantai, berbagai platform tersebut dikembangkan untuk membantu pasukan menjalankan misi di wilayah yang sulit dijangkau kendaraan konvensional.
Berikut 15 kendaraan militer berukuran relatif kecil dengan kemampuan yang jauh melampaui dimensinya.
1. Scout AI Nomad
Scout AI Nomad merupakan kendaraan darat tanpa awak atau unmanned ground vehicle (UGV) yang dirancang sebagai pendukung mobilitas pasukan.
Bobotnya kurang dari 650 pon atau sekitar 295 kilogram, tetapi mampu membawa muatan lebih dari 1.000 pon atau sekitar 454 kilogram. Nomad dapat digunakan untuk mengangkut perbekalan, perlengkapan, dan berbagai peralatan misi.
Kendaraan ini juga dirancang agar mudah ditarik, diterjunkan, maupun diangkut melalui udara. Sistem Fury milik Scout AI memungkinkan Nomad dikendalikan dari jarak jauh maupun beroperasi secara otonom.
Teknologi follow-me memungkinkan kendaraan mengikuti orang atau objek yang telah dipilih menggunakan kamera di dalam kendaraan.
2. Rheinmetall Mission Master CXT
Rheinmetall Mission Master CXT menggabungkan kemampuan membawa muatan besar, sistem penggerak hybrid, dan teknologi otonom dalam satu kendaraan tak berawak.
UGV ini mampu membawa hingga 1.000 kilogram peralatan dan dirancang untuk bergerak di berbagai medan, mulai dari salju, pasir, bebatuan, pegunungan hingga permukaan air.
Sistem diesel-elektriknya memberikan jarak tempuh hingga sekitar 255 kilometer. Mode elektrik juga dapat digunakan ketika diperlukan pengoperasian yang lebih senyap.
Mission Master CXT dapat berjalan secara otonom, mengikuti kendaraan lain dalam mode konvoi, maupun merencanakan rute secara dinamis. Bahkan, satu operator dapat mengendalikan beberapa kendaraan otonom sekaligus.
3. LD1 Armored ATV
LD1 Armored ATV mengambil pendekatan berbeda dengan menggabungkan kelincahan kendaraan ATV dan perlindungan lapis baja.
Dibangun berdasarkan Polaris Sportsman 850 Premium, kendaraan ini dilengkapi perlindungan balistik di sekeliling kabin tanpa menghilangkan kemampuan bermanuver di medan sulit.
Perlindungannya diklaim mampu mencapai standar NIJ Level III, dengan kaca balistik sebagai perlindungan tambahan bagi operator.
Dengan panjang sekitar 84,5 inci dan lebar 52 inci, LD1 tetap tergolong sangat kompak. Kendaraan ini memiliki ground clearance sekitar 9,5 inci dan kemampuan menarik beban hingga 1.500 pon.
4. Rheinmetall Ermin
Rheinmetall Ermin merupakan keluarga kendaraan hybrid ringan yang mengutamakan fleksibilitas. Platform ini tersedia dalam konfigurasi 4x4, 6x6, hingga versi tanpa awak.
Ermin dapat dioperasikan secara manual, dikendalikan dari jarak jauh, maupun menjalankan fungsi otonom sesuai kebutuhan misi.
Versi 6x6 mampu menempuh jarak hingga 400 kilometer dan membawa muatan sampai 1.000 kilogram. Dalam mode elektrik, kendaraan dapat bergerak hingga sekitar 50 kilometer dengan tingkat kebisingan yang lebih rendah.
Platform ini dapat digunakan untuk berbagai misi, seperti pengintaian, operasi khusus, evakuasi korban, pengangkutan peralatan, hingga penyediaan sumber listrik bergerak.
5. Arquus Scarabee
Arquus Scarabee merupakan kendaraan lapis baja 4x4 berukuran kompak yang dirancang untuk misi pengintaian.
Dengan bobot sekitar 8 ton, kendaraan ini mampu mencapai kecepatan hingga 130 km/jam dan membawa hingga empat personel.
Salah satu fitur paling uniknya adalah sistem kemudi roda belakang yang memungkinkan Scarabee melakukan putaran sangat tajam, bahkan bergerak menyamping dalam gerakan menyerupai kepiting.
Suspensinya juga dapat dinaikkan untuk menghadapi medan kasar atau diturunkan ketika kendaraan membutuhkan profil yang lebih rendah.
Scarabee menggunakan mesin diesel V6 300 tenaga kuda dan dapat diangkut menggunakan helikopter maupun pesawat angkut C-130.
6. Plasan Wilder
Plasan Wilder memadukan karakter kendaraan off-road dengan perlindungan kendaraan lapis baja.
Bobotnya sekitar 3,7 ton dan mampu membawa hingga 800 kilogram muatan. Kendaraan ini memberikan perlindungan STANAG 4569 Level 2 untuk empat personel.
Sistem suspensinya memiliki wheel travel sekitar 370 milimeter untuk membantu menghadapi medan berat. Mesin dengan torsi 420 Nm menggerakkan seluruh roda melalui transmisi otomatis delapan percepatan.
Wilder juga menggunakan teknologi drive-by-wire yang memungkinkan pengoperasian jarak jauh serta menjadi dasar pengembangan kemampuan otonom.
7. Overland AI Autonomous Convoy
Teknologi Overland AI membawa konsep konvoi militer ke tingkat berbeda dengan memungkinkan kendaraan bergerak secara otonom.
Sistem Overdrive autonomy stack dirancang agar kendaraan dapat menghadapi lumpur, salju, pasir, es, semak, dan berbagai medan sulit lainnya.
Teknologi tersebut dirancang untuk tetap bekerja ketika GPS, peta detail, maupun komunikasi tidak tersedia secara optimal.
Dengan sensor dan komputer di dalam kendaraan, sistem dapat memperkirakan posisi, memahami medan sekitar, serta mengikuti kendaraan utama dalam formasi konvoi.
Konsep ini berpotensi memungkinkan satu personel mengatur beberapa kendaraan sekaligus untuk misi seperti pengiriman logistik.
8. Plasan Stinger
Plasan Stinger merupakan kendaraan tempur 4x4 yang dapat dioperasikan dengan awak maupun tanpa awak.
Platform ini menggunakan arsitektur HMMWV dan memanfaatkan teknologi armor ringan Plasan untuk memberikan perlindungan balistik tanpa membuat kendaraan menjadi terlalu besar.
Kemampuan paling menariknya adalah opsi operasi jarak jauh. Dalam situasi berbahaya, kendaraan dapat dikendalikan dari luar sehingga personel tidak harus berada langsung di dalam kendaraan.
Stinger dirancang untuk digunakan di medan off-road maupun perkotaan, sehingga dapat menjalankan berbagai misi taktis.
9. Rheinmetall Wiesel
Rheinmetall Wiesel merupakan salah satu kendaraan militer berantai berukuran kecil yang terkenal karena fleksibilitasnya.
Dimensinya memungkinkan Wiesel 1 dibawa menggunakan helikopter atau ditempatkan di dalam pesawat seperti CH-53. Meski kecil, platform ini telah digunakan dalam berbagai konfigurasi untuk misi antirudal, dukungan tembakan, pengintaian, hingga tugas khusus lainnya.
Wiesel 2 menawarkan ruang dan kapasitas lebih besar serta dapat dikonfigurasi untuk komando, pertahanan udara, evakuasi medis, teknik tempur, dan pos komando bergerak.
Platform Wiesel juga telah dikembangkan untuk aplikasi tanpa awak, termasuk misi pembersihan rute menggunakan sensor untuk mendeteksi ranjau dan bahan peledak.
10. Polaris MRZR Alpha
Polaris MRZR Alpha merupakan kendaraan taktis ringan yang dirancang untuk membawa personel dan peralatan melewati medan berat.
Versi dengan mesin diesel turbo 1,5 liter menghasilkan sekitar 118 tenaga kuda dan torsi 199 lb-ft. Varian empat tempat duduk mampu membawa muatan hingga 2.000 pon.
Dengan ground clearance sekitar 12 inci dan ban berukuran 32 inci, MRZR Alpha memiliki kemampuan off-road yang mumpuni.
Kendaraan ini dapat diangkut menggunakan pesawat taktis, digantung dengan sling, maupun diterjunkan dari udara.
Selain transportasi, MRZR Alpha dapat dikonfigurasi untuk pengintaian, komunikasi, evakuasi korban, komando dan kendali, hingga misi menghadapi drone.
11. UNEX UGV
UNEX UGV merupakan kendaraan robotik amfibi yang dirancang untuk melewati medan ekstrem.
Sistem penggerak elektrik memungkinkan operasi yang relatif senyap, sementara kendali jarak jauh membuat operator dapat berada jauh dari area berbahaya.
Ban lebar dan distribusi bobot khusus membantu mengurangi tekanan ke permukaan tanah sehingga kendaraan dapat melintasi lumpur, pasir, rawa, dataran banjir, salju, dan es.
UNEX juga mampu melewati rintangan air serta memanjat batang pohon, bebatuan, dan rintangan lain dengan ketinggian hingga sekitar satu meter.
Kapasitas muatnya mencapai 1.700 kilogram dengan kecepatan darat sekitar 20 km/jam. Platform ini dapat digunakan untuk logistik, evakuasi korban, pengintaian, komunikasi, hingga pembersihan ranjau.
12. Milrem Robotics THeMIS Observe
THeMIS Observe merupakan kendaraan berantai tanpa awak yang dirancang khusus untuk misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian atau ISR.
Platform buatan Milrem Robotics ini dapat membawa kamera elektro-optik, radar pengawasan darat, sistem pendeteksi suara tembakan, serta berbagai peralatan misi lainnya.
THeMIS mampu mencapai kecepatan hingga 20 km/jam dan menggunakan sistem tenaga hybrid untuk memberikan waktu operasi yang lebih panjang.
Mode senyap dapat digunakan ketika tingkat kebisingan harus diminimalkan. Sistem otonomnya juga mendukung fungsi follow-me, navigasi berdasarkan titik tujuan, serta pendeteksian dan penghindaran rintangan.
13. Ripsaw M5
Ripsaw M5 merupakan kendaraan berantai robotik berukuran lebih besar yang dirancang sebagai platform multifungsi.
lBobotnya sekitar 21.000 pon dan mampu membawa hingga 8.000 pon atau sekitar 3,6 ton peralatan misi. Kecepatan maksimumnya lebih dari 25 mph.
Ripsaw M5 dapat menggunakan tenaga diesel maupun hybrid elektrik. Versi M5E yang sepenuhnya elektrik juga dikembangkan untuk kebutuhan operasi yang lebih senyap.
Desain dek terbukanya memungkinkan kendaraan membawa berbagai peralatan, mulai dari perangkat pengintaian, sistem antidrone, peperangan elektronik, hingga perlengkapan pembersihan ranjau.
14. Capstone UAV
Berbeda dari kendaraan darat, Capstone UAV merupakan pesawat angkut berat tanpa awak yang dirancang untuk menjalankan misi tanpa pilot di dalamnya.
Pesawat dengan sistem rotor koaksial ini dapat melakukan lepas landas dan mendarat secara vertikal sehingga tidak membutuhkan landasan pacu konvensional.
Capstone dirancang membawa muatan hingga 280 kilogram dan dapat mengudara hingga sekitar 10 jam dengan jarak jelajah yang dilaporkan mencapai sekitar 300 mil.
Platform modular ini berpotensi digunakan untuk pengiriman logistik, pengintaian, evakuasi korban, peperangan elektronik, hingga penyediaan tenaga listrik di wilayah terpencil.
15. Forterra dan Chaos Industries Autonomous Counter-UAS
Konsep terakhir menggabungkan kendaraan darat otonom dengan sistem radar untuk mendeteksi ancaman udara.
Forterra dan Chaos Industries mengembangkan integrasi sistem radar CAESUS Vanquish dengan kendaraan transportasi peralatan multifungsi yang menggunakan sistem otonom AutoDrive.
Sistem tersebut memungkinkan kendaraan bergerak tanpa pengemudi sambil menggunakan radar untuk mencari dan melacak objek di udara.
Teknologi AutoDrive menangani fungsi seperti persepsi lingkungan, penentuan posisi, perencanaan rute, hingga komunikasi komando dan kendali. Sistem juga dirancang untuk tetap bernavigasi ketika GPS tidak dapat diandalkan.
Konsep ini menunjukkan kemungkinan hadirnya sistem kontra-drone bergerak yang dapat mengikuti pasukan dan berpindah posisi sesuai perubahan situasi di lapangan.
Era Baru Kendaraan Militer
Ke-15 platform tersebut menunjukkan bagaimana kendaraan militer modern tidak selalu harus berukuran besar untuk memiliki kemampuan strategis. Kombinasi antara mobilitas, perlindungan, sensor, kecerdasan buatan, tenaga hybrid, dan teknologi otonom membuat kendaraan berukuran kecil dapat menjalankan tugas yang sebelumnya membutuhkan kendaraan berawak dan personel dalam jumlah lebih besar.
Perkembangan ini juga mengarah pada konsep robotic teammate, yakni kendaraan yang bekerja bersama pasukan untuk membawa perlengkapan, melakukan pengintaian, menghadapi medan berbahaya, hingga menjalankan misi logistik tanpa menempatkan manusia langsung di garis depan.
Artikel Terkait
Troye Sivan Hadirkan “She’s the Best”, Potret Perempuan Penuh Percaya Diri dan Karakter
“Avengers: Doomsday” Hadirkan Ancaman Baru, Victor Menjadi Sosok Misterius yang Mengguncang Para Avengers
NGLZ dan NOIR3LLA Hadirkan “EASY”, Rayakan Kepercayaan Diri dengan Energi Pop yang Berani
Acura NEXERA Vision Debut di Monterey Car Week, Jadi Arah Desain Generasi Baru