Citraselebriti- China terus memperkuat program eksplorasi luar angkasanya dengan ambisi yang jauh melampaui sekadar kembali mengirim manusia ke Bulan. Negara tersebut disebut tengah mempersiapkan rangkaian teknologi untuk membangun pangkalan permanen di kutub selatan Bulan, memanfaatkan sumber daya lokal, dan menjadikan Bulan sebagai pijakan menuju Mars.
Salah satu komponen penting dalam rencana tersebut adalah roket Long March 10, yang dirancang untuk mendukung misi berawak ke Bulan. Dalam narasi yang menjadi bahan tulisan ini, roket tersebut disebut memiliki kemampuan membawa sekitar 27.000 kilogram muatan menuju orbit Bulan.
Namun, roket bukan satu-satunya bagian penting dari rencana China. Fokus terbesar justru berada di kutub selatan Bulan, kawasan yang diperkirakan menyimpan cadangan es air di dalam kawah-kawah yang selalu berada dalam bayangan.
Air menjadi sumber daya yang sangat berharga dalam eksplorasi luar angkasa. Air dapat digunakan untuk kebutuhan kehidupan astronot, sementara hidrogen dan oksigen hasil pemisahannya berpotensi digunakan sebagai bahan bakar roket. Jika teknologi pemanfaatan sumber daya tersebut berhasil dikembangkan, Bulan dapat berfungsi seperti titik pengisian bahan bakar bagi perjalanan menuju wilayah luar angkasa yang lebih jauh.
Program Chang’e Jadi Fondasi
Ambisi China tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Program eksplorasi Bulan Chang’e telah menjalankan serangkaian misi robotik yang secara bertahap meningkatkan kemampuan negara tersebut.
Pada 2013, Chang’e 3 berhasil mendarat di permukaan Bulan dan mengoperasikan rover Yutu. Misi tersebut memberikan pengalaman penting dalam pendaratan lunak, pengoperasian kendaraan di permukaan Bulan, serta komunikasi jarak jauh.
Kemudian pada 2019, Chang’e 4 mencatat sejarah dengan melakukan pendaratan di sisi jauh Bulan. Karena wilayah tersebut tidak memiliki komunikasi langsung dengan Bumi, China terlebih dahulu menggunakan satelit relay untuk menjaga hubungan komunikasi dengan wahana.
Tonggak berikutnya terjadi melalui Chang’e 6 pada 2024. Misi tersebut berhasil mengambil sampel batuan dan tanah dari sisi jauh Bulan lalu membawanya kembali ke Bumi. Keberhasilan tersebut memberikan pengalaman penting dalam melakukan pendaratan, pengambilan material, peluncuran kembali dari Bulan, dan pengiriman sampel ke Bumi.
Rangkaian misi tersebut menunjukkan pola pengembangan bertahap, mulai dari pendaratan, pengoperasian rover, komunikasi dari sisi jauh, hingga pengambilan sampel.
Mengincar Kutub Selatan Bulan
China kemudian mengarahkan perhatian ke wilayah kutub selatan Bulan. Kawasan tersebut menarik perhatian para ilmuwan karena keberadaan kawah yang berada dalam bayangan permanen dan berpotensi menyimpan es air.
Misi Chang’e 7 dirancang untuk melakukan eksplorasi lebih lanjut terhadap wilayah tersebut. Salah satu teknologi yang menjadi perhatian adalah wahana yang dapat melakukan lompatan atau berpindah menggunakan sistem pendorong untuk memeriksa area yang sulit dijangkau.
Data dari misi robotik tersebut nantinya dapat membantu menentukan lokasi sumber daya sebelum pembangunan fasilitas permanen dilakukan.
Menuju Pangkalan Permanen
Setelah misi pendaratan berawak, China juga memiliki rencana untuk mengembangkan International Lunar Research Station (ILRS) bersama sejumlah mitra internasional.
Salah satu konsep penting dalam pembangunan pangkalan tersebut adalah penggunaan sumber daya lokal. China disebut ingin menguji teknologi seperti pemanfaatan regolit Bulan untuk membuat struktur dan mengekstraksi oksigen dari material permukaan.
Konsep pencetakan tiga dimensi menggunakan material lokal dapat mengurangi kebutuhan membawa material konstruksi dari Bumi. Jika berhasil, teknologi tersebut dapat menjadi bagian penting dalam pembangunan fasilitas jangka panjang di Bulan.
Long March 10 dan Sistem Pendaratan Berawak
Untuk misi berawak, China mengembangkan roket Long March 10 bersama pesawat ruang angkasa Mengzhou dan wahana pendarat Bulan.
Konsep misinya menggunakan pendekatan dua peluncuran. Satu roket membawa wahana berawak menuju orbit Bulan, sedangkan peluncuran lainnya membawa wahana pendarat. Kedua kendaraan kemudian bertemu dan melakukan docking di orbit Bulan sebelum astronaut berpindah ke wahana pendarat untuk menuju permukaan.
Konsep tersebut memungkinkan misi membagi beban antara dua peluncuran, dibandingkan menggunakan satu roket yang harus membawa seluruh komponen sekaligus.
Sistem keselamatan juga menjadi bagian penting. Wahana berawak Mengzhou dikembangkan dengan sistem penyelamatan darurat untuk membawa astronaut menjauh dari roket apabila terjadi masalah saat peluncuran.
Bulan sebagai Jalan Menuju Mars
Ambisi China tidak berhenti di Bulan. Negara tersebut juga telah mengungkapkan rencana misi berawak menuju Mars pada dekade 2030-an.
Bulan dipandang sebagai tempat ideal untuk menguji berbagai teknologi yang nantinya dibutuhkan dalam perjalanan Mars, mulai dari sistem pendukung kehidupan, pemanfaatan sumber daya lokal, pembangunan habitat hingga kemampuan memperbaiki peralatan di lingkungan ekstrem.
Perbedaan jarak membuat Bulan menjadi lokasi latihan yang lebih aman. Jika terjadi masalah serius di Bulan, bantuan dari Bumi masih dapat dikirim dalam hitungan hari. Sementara itu, perjalanan menuju Mars membutuhkan waktu berbulan-bulan dan memberikan jauh lebih sedikit peluang untuk melakukan penyelamatan.
Dengan demikian, berbagai eksperimen yang dilakukan di Bulan dapat menjadi pengalaman penting sebelum manusia melakukan perjalanan lebih jauh.
Persaingan Eksplorasi Bulan
Program China berlangsung di tengah meningkatnya persaingan eksplorasi Bulan. Amerika Serikat melalui program Artemis juga menargetkan pendaratan manusia di Bulan, khususnya kawasan kutub selatan.
Selain Amerika Serikat dan China, sejumlah negara lain seperti India dan Jepang juga aktif melakukan eksplorasi Bulan.
Persaingan tersebut tidak hanya berkaitan dengan siapa yang lebih dulu menancapkan kaki di Bulan. Infrastruktur, teknologi pemanfaatan sumber daya, kerja sama internasional, serta standar operasional yang dikembangkan pada masa awal pembangunan fasilitas Bulan berpotensi memengaruhi eksplorasi luar angkasa dalam jangka panjang.
Meski demikian, keberadaan es air dalam jumlah besar di Bulan masih menjadi objek penelitian dan belum dapat diperlakukan sebagai sumber daya yang sudah terbukti dapat ditambang dalam skala industri.
Rencana China menunjukkan bahwa eksplorasi Bulan sedang memasuki tahap baru. Jika misi-misi robotik, pendaratan berawak, dan eksperimen pemanfaatan sumber daya berjalan sesuai rencana, Bulan dapat berubah dari sekadar tujuan ekspedisi menjadi tempat manusia melakukan aktivitas jangka panjang.
Pada akhirnya, pendaratan manusia di Bulan mungkin bukan tujuan akhir. Bagi China, Bulan berpotensi menjadi laboratorium, pangkalan penelitian, sekaligus batu loncatan menuju Mars.
Artikel Terkait
Yogurt Keju Homemade, Cuma Pakai Susu, Keju, dan Starter Yogurt
NAQT VANE Hadirkan “Breathe (English Ver.)”, Bawa Emosi Baru untuk Pendengar Global
Wansui Mountain, Kota Bela Diri di Kaifeng yang Hidupkan Dunia Wuxia China
IVE Nikmati Keseruan Liburan di Kebun Binatang Sydney, dari Koala hingga Kanguru