Andovi Da Lopez dan Soleh Solihun Bicara Kejujuran Lewat Film Bapak Paling Jujur

- Rabu, 16/09/2026

Citraselebriti — Cahaya Pictures berkolaborasi dengan Studio Antelope resmi meluncurkan poster dan trailer film Bapak Paling Jujur. Film yang dibintangi Andovi Da Lopez, Soleh Solihun, Claresta Taufan, Benidictus Siregar, David Nurbianto, Elwina (Ceritaibun), Akim Bagil, Mieke Shahir, dan Rizki M. Firman ini mengangkat tema kejujuran dengan balutan komedi dan satire kehidupan politik.

Dalam film tersebut, karakter Jonas digambarkan sebagai sosok yang tidak bisa berbohong. Kondisi itu kemudian menjadi pintu masuk cerita untuk melihat berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan pemerintahan maupun masyarakat.

Ketika ditanya apa yang akan terbongkar jika seluruh pejabat pemerintah tiba-tiba tidak bisa berbohong seperti karakter Jonas, Andovi Da Lopez memberikan jawaban bernada satire.

“Jikalau semua pejabat pemerintah tidak bisa bohong, yang kebongkar pertama adalah semua masalah korupsi di negara,” ujar Andovi di Senayan City, Jakarta, Rabu (16/9/2026).

Meski demikian, karakter Jonas ditegaskan bukan representasi dari pejabat tertentu. Para pemain menjelaskan bahwa tokoh-tokoh dalam film Bapak Paling Jujur merupakan rangkuman dari berbagai karakter yang mereka lihat dalam kehidupan sehari-hari.

“Kami ini adalah rangkuman dari semua yang kami lihat. Jadi yang Jonas tampilkan, yang Sambodo tampilkan itu adalah intisari dari semua pejabat-pejabat yang ada yang mungkin pernah Anda lihat,” katanya.

Menurut Andovi dan Soleh, penonton nantinya bisa saja menemukan kemiripan karakter dalam film dengan sosok tertentu yang mereka kenal. Namun, kemiripan tersebut bukan dimaksudkan untuk menyudutkan atau meniru satu tokoh tertentu.

“Jadi mungkin kalau Anda melihat, kok ini mirip ini, tapi ini mirip ini juga. Semua kami ambil, kami serap yang menarik. Ini menjadi tes, setiap penonton berbeda akan mengambil makna yang berbeda,” ujar Soleh.

Soleh menambahkan, film tersebut memang menghadirkan karakter yang memungkinkan penonton menghubungkannya dengan figur-figur yang pernah mereka lihat.

“Semua orang pasti bakal relate dengan tokoh yang mereka kenal. Kayaknya mirip ini, tapi di satu adegan lain mirip ini juga. Intinya kami hanya ingin menceritakan apa yang kami lihat yang mungkin juga para penonton relate atau mungkin pernah lihat ada dejavu-dejavu,” tuturnya.

Meski mengangkat kehidupan politik, Bapak Paling Jujur tidak dibuat untuk memojokkan kelompok atau pihak tertentu. Para pemain justru berharap komedi yang ditampilkan dapat menjadi bahan refleksi bersama, termasuk bagi masyarakat.

“Semua kami tampilkan dan intinya ingin mengajak, ya sudah kita menertawakan ini. Mudah-mudahan kena ke rakyat juga. Bahwa yang bisa jadi tukang bohong itu bukan cuma para politikus, tapi kita juga sebagai rakyat tukang bohong,” kata Soleh.

Hal tersebut disampaikan Soleh saat berbicara mengenai isu krisis kepercayaan terhadap pemerintah yang kembali menjadi perbincangan publik. Menurutnya, persoalan kepercayaan bukan sesuatu yang baru muncul belakangan.

“Kalau ngomong soal krisis kepercayaan sudah bertahun-tahun. Kita dari dulu juga, bukan sekarang krisis kepercayaan. Jadi kalau ditanya apakah momennya tepat, kayaknya setiap hari juga dari sejak bertahun-tahun,” ujar Soleh.

Ia menilai pembahasan mengenai kejujuran dan janji politik selalu relevan karena masyarakat berhadapan dengan berbagai persoalan yang berkaitan dengan kepercayaan.

“Kalau dibilang krisis kepercayaan, dari dulu juga mungkin kita punya krisis kepercayaan terhadap para politikus. Karena sebagian besar janji politikus kan banyak yang tidak ditepati,” katanya.

Namun, Bapak Paling Jujur tidak hanya diarahkan untuk menyindir pihak yang berada di posisi kekuasaan. Soleh mengatakan pesan mengenai kejujuran juga ditujukan kepada masyarakat sebagai individu.

“Jangan-jangan kita juga semua tidak jujur sama diri sendiri. Kita juga enggak jujur sama rekan kerja kalau ditanya apakah dia kerjanya benar atau enggak, atau apakah ada atasan yang tidak baik kinerjanya. Kita kadang-kadang kan tidak bisa berkata jujur juga,” tuturnya.

Menurut Soleh, meskipun Bapak Paling Jujur dikemas sebagai komedi politik, film tersebut diharapkan dapat membuat penonton bercermin terhadap perilaku mereka sendiri.

“Selain mau menyentil-nyentil yang di atas, harapannya mungkin kita juga yang di bawah tersentil. Minimal jangan jadi seperti mereka. Kita kan tidak suka melihat orang tidak jujur. Ya kalau gitu coba kita terapkan sama diri kita sendiri. Kita juga jangan jadi orang yang tidak jujur,” kata Soleh.

Sementara itu, mengenai tantangan memerankan karakter yang dianggap memiliki kemiripan dengan figur di dunia nyata, Andovi dan Soleh menegaskan bahwa mereka tidak secara khusus meniru atau mengimpersonasi tokoh tertentu.

“Tantangannya lebih ke pertama nahan ketawa ya pas syuting. Itu tantangan pertama,” ujar Andovi.

Selain menahan tawa, tantangan lainnya berkaitan dengan dialog dan proses menjalankan karakter. Mereka kembali menegaskan bahwa karakter dalam film merupakan hasil pengamatan terhadap berbagai fenomena di masyarakat, bukan tiruan dari satu figur tertentu.

“Kita tidak sengaja untuk mengimpersonate siapapun secara spesifik. Itu tergantung persepsi kalian sebagai penonton,” ujar Claresta.

Film Bapak Paling Jujur disutradarai Fajar Nugros dengan Rino Sarjono sebagai penulis. Aoura Lovenson Chandra bertindak sebagai produser.

Film ini menjadi kolaborasi Cahaya Pictures dan Studio Antelope yang menghadirkan cerita komedi mengenai kejujuran, kehidupan masyarakat, serta dinamika politik dari sudut pandang satire.

Tags

Artikel Terkait

Terkini