Citraselebriti – Menjelajahi pasar tradisional menjadi salah satu cara terbaik untuk mengenal budaya dan kehidupan masyarakat setempat. Hal itu dapat dirasakan saat mengunjungi tiga pasar tradisional di Kota Guiyang, Provinsi Guizhou, China, yang menyuguhkan beragam kuliner khas, aroma masakan yang menggoda selera, serta suasana pasar yang hidup dari pagi hingga malam.
Perjalanan kuliner dimulai dari stan sup jeroan sapi yang menjadi salah satu hidangan favorit warga Guiyang. Dalam sebuah panci berdiameter lebih dari satu meter, pedagang memasak lebih dari 100 kilogram jeroan sapi yang diklaim habis terjual hanya dalam waktu sekitar satu jam. Hidangan ini berisi babat, usus, tendon, hingga daging kepala sapi yang disiram kaldu hasil rebusan tulang selama berjam-jam, kemudian disantap bersama mi beras hangat.
Selain olahan daging sapi, pasar tradisional Guiyang juga menawarkan beragam makanan khas Guizhou. Salah satunya adalah Wan Er Gao, kue beras kukus yang dibuat dari beras fermentasi dan gula merah. Kue tradisional ini memiliki tekstur lembut, kenyal, serta aroma beras yang harum setelah dikukus.
Kuliner berbahan ayam tak kalah menggugah selera. Guiyang Spicy Chicken, salah satu hidangan ikonik Guizhou, dimasak menggunakan ayam kampung, cabai fermentasi, bawang putih, jahe, dan aneka rempah. Perpaduan bumbu tersebut menghasilkan cita rasa pedas, gurih, dengan sensasi sedikit kebas dari lada Sichuan yang menjadi ciri khas masakan daerah ini.
Kecintaan masyarakat Guiyang terhadap olahan daging terlihat hampir di setiap sudut pasar. Berbagai makanan seperti usus babi rebus, kaki babi, ham asap, sosis tradisional, hingga aneka daging asap dijajakan di banyak kios. Menariknya, sejumlah pedagang memberikan sampel gratis kepada pengunjung sebelum mereka memutuskan untuk membeli.
Tak hanya hidangan utama, pasar juga dipenuhi beragam camilan tradisional, mulai dari kue kacang merah goreng, kue jagung, bola tahu goreng, bola wijen, keripik kentang khas Guiyang, hingga panekuk soba. Aneka jajanan tersebut dijual dengan harga yang terjangkau dan menjadi pilihan favorit untuk sarapan maupun camilan sehari-hari.
Salah satu menu yang paling populer adalah Changwang Noodles, mi khas Guiyang yang disajikan dengan usus babi rebus, darah babi, tauge, daun bawang, serta kuah merah bercita rasa pedas. Hidangan ini telah lama menjadi menu sarapan favorit masyarakat setempat.
Selain mi, ketan kukus juga menjadi makanan yang banyak diburu. Ketan disajikan bersama acar sayuran, kulit babi renyah, minyak cabai, kecap, dan sedikit lemak babi sehingga menghasilkan cita rasa gurih yang kaya.
Produk fermentasi turut menjadi bagian penting dari kekayaan kuliner Guiyang. Mulai dari tahu fermentasi, hairy tofu, hingga saus cabai tradisional diproduksi langsung di pasar menggunakan resep turun-temurun. Saus cabai yang dibuat dari cabai lokal, bawang putih, jahe, wijen, dan lada Sichuan menjadi bumbu utama dalam berbagai hidangan khas Guizhou.
Selain makanan siap santap, pasar juga menawarkan hasil pertanian segar seperti tebu hijau, jeruk, biji bunga matahari sangrai, serta berbagai produk olahan kedelai yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Melalui kunjungannya, Xiaorui memperlihatkan bahwa pasar tradisional di Guiyang bukan sekadar tempat berbelanja, tetapi juga menjadi pusat aktivitas sosial dan budaya. Keramaian para pedagang, kekayaan kuliner autentik, serta tradisi memasak yang masih terjaga menjadikan pasar-pasar tersebut sebagai destinasi menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati cita rasa asli Provinsi Guizhou sekaligus merasakan denyut kehidupan masyarakat lokal.
Artikel Terkait
Kaleb J Rilis “I Found You”, Lanjutkan Kisah Cinta dalam EP Tanda Cinta
Fatin Rilis Single Baru “Tidur Siang”, Ajak Pendengar Menikmati Setiap Fase Kehidupan
Rizky Febian Masih Pertimbangkan Langkah Hukum Terkait Sengketa Ahli Waris Lina Jubaedah
Rizky Febian dan Rizwan Fadilah Kompak Debut di Indonesia Fashion Week