Citraselebriti — Malta selama ini dikenal melalui laut biru Mediterania, bangunan bersejarah Valletta, serta warisan Ksatria Ordo St. John. Namun, di balik citra tersebut, kepulauan kecil ini menyimpan sejumlah peninggalan arkeologi yang masih menjadi bahan perdebatan para peneliti.
Dari kompleks bawah tanah berusia ribuan tahun, jalur misterius yang membelah batu kapur hingga menghilang ke bawah laut, sampai peradaban pembangun kuil megalitik yang kemudian menghilang, Malta menawarkan berbagai teka-teki yang belum sepenuhnya terjawab.
Salah satu penemuan paling terkenal terjadi pada 1902 di kawasan Paola. Saat para pekerja menggali sebuah cistern untuk pembangunan rumah, tanah tiba-tiba runtuh dan membuka akses menuju ruang bawah tanah.
Di bawah permukiman tersebut ternyata terdapat kompleks nekropolis bawah tanah bertingkat yang kemudian dikenal sebagai Ħal Saflieni Hypogeum. Kompleks yang dipahat langsung ke batu kapur itu memiliki kedalaman lebih dari 10 meter dan terdiri atas sejumlah ruangan serta lorong.
Penggalian yang dipimpin arkeolog Malta, Sir Themistocles Zammit, mengungkap ribuan sisa manusia serta berbagai artefak. Dindingnya dihiasi warna oker merah, sementara sejumlah ruang dibuat dengan bentuk arsitektur yang meniru struktur bangunan di permukaan.
Salah satu bagian yang terus menarik perhatian adalah penemuan sejumlah tengkorak dengan bentuk bagian belakang kepala yang memanjang. Tengkorak tersebut pernah dipamerkan di Museum Arkeologi Nasional Malta, tetapi kemudian ditarik dari ruang pamer pada sekitar 1980-an.
Bentuk tengkorak tersebut memunculkan berbagai interpretasi. Salah satu kemungkinan adalah deformasi kepala yang dilakukan secara sengaja sejak masa kanak-kanak, sebuah praktik yang pernah ditemukan dalam sejumlah kebudayaan kuno. Namun, bentuk serupa juga dapat muncul secara alami dan dikenal dalam antropologi sebagai dolichocephaly.
Hingga kini, perdebatan mengenai tengkorak tersebut belum sepenuhnya berakhir karena analisis antropologis modern yang komprehensif terhadap seluruh temuan tersebut masih terbatas.
Selain misteri bawah tanah, Malta juga memiliki fenomena yang terlihat jelas di permukaan. Di sejumlah kawasan, terutama sekitar Misraħ Għar il-Kbir, terdapat ribuan alur sejajar yang terukir pada batu kapur.
Jalur-jalur tersebut dikenal sebagai cart ruts. Sebagian membentuk persilangan dan percabangan yang kompleks, sementara beberapa jalur tampak menuju tepi tebing dan berlanjut ke wilayah yang kini berada di bawah permukaan laut.
Hipotesis yang paling umum menyebutkan bahwa alur tersebut terbentuk akibat aktivitas transportasi menggunakan kendaraan atau alat angkut berat. Pergerakan berulang di atas batu kapur yang relatif lunak dapat menghasilkan alur secara bertahap.
Namun, sejumlah jalur tidak menunjukkan hubungan yang jelas dengan tambang atau lokasi aktivitas ekonomi tertentu. Keberadaan alur yang mengarah ke kawasan pesisir juga menimbulkan pertanyaan mengenai perubahan permukaan laut di kawasan tersebut.
Para peneliti masih memperdebatkan kapan tepatnya seluruh jaringan cart ruts dibuat dan bagaimana fungsi masing-masing jalur. Penelitian bawah laut yang lebih luas masih dibutuhkan untuk mengetahui apakah sebagian jaringan tersebut memang berlanjut di bawah permukaan laut.
Teka-teki berikutnya berkaitan dengan kemampuan masyarakat prasejarah Malta membangun struktur megalitik berukuran luar biasa.
Di Pulau Gozo terdapat Ġgantija, kompleks kuil megalitik yang dibangun sekitar milenium ke-4 sebelum Masehi. Situs tersebut bahkan lebih tua daripada piramida Giza dan menjadi salah satu kompleks bangunan berdiri bebas tertua yang masih bertahan di dunia.
Nama Ġgantija berkaitan dengan legenda tentang kaum raksasa. Tidak sulit memahami mengapa cerita tersebut berkembang. Beberapa blok batu penyusun kompleks memiliki bobot yang sangat besar, dengan sejumlah perkiraan mencapai puluhan ton.
Tanpa alat berat modern, masyarakat pada masa itu diperkirakan menggunakan kombinasi tenaga manusia, kayu gelondongan, tuas, serta tali untuk memindahkan batu.
Eksperimen arkeologi menunjukkan bahwa teknologi sederhana tersebut pada prinsipnya dapat digunakan untuk memindahkan batu berukuran besar. Tantangannya adalah bagaimana masyarakat prasejarah tersebut mampu mengatur seluruh proses pembangunan dan menghasilkan struktur dengan tingkat presisi yang mengesankan.
Misteri lain terdapat di dalam Ħal Saflieni Hypogeum, khususnya sebuah ruangan yang dikenal sebagai Oracle Room atau Ruang Orakel.
Ruangan tersebut terkenal karena karakteristik akustiknya. Suara manusia dengan nada tertentu dapat menghasilkan resonansi kuat sehingga getarannya tidak hanya terdengar melalui telinga, tetapi juga terasa pada tubuh.
Penelitian akustik terhadap ruangan tersebut menunjukkan adanya karakteristik resonansi pada frekuensi tertentu. Temuan itu memunculkan dugaan bahwa desain ruang mungkin memiliki fungsi ritual yang berkaitan dengan suara.
Namun, para arkeolog tetap berhati-hati dalam menyimpulkan bahwa karakteristik akustik tersebut memang sengaja dirancang untuk menghasilkan kondisi kesadaran tertentu. Bisa saja efek tersebut merupakan konsekuensi dari bentuk ruangan, material batu kapur, dan geometri bangunan.
Yang membuatnya menarik adalah kenyataan bahwa efek akustik serupa juga ditemukan di sejumlah ruang megalitik lainnya di Malta. Hal ini membuka kemungkinan bahwa masyarakat pembangun kuil memiliki pemahaman tertentu mengenai hubungan antara arsitektur dan suara.
Pertanyaan terbesar kemudian mengarah kepada masyarakat yang membangun seluruh kompleks tersebut.
Sekitar 2500 SM, budaya megalitik Malta mengalami perubahan besar dan tradisi pembangunan kuil tersebut berhenti. Setelah periode tersebut, muncul masyarakat dengan karakter budaya, keramik, serta tradisi pemakaman yang berbeda.
Tidak ditemukan bukti kuat mengenai perang besar, kebakaran massal, atau bencana yang secara langsung dapat menjelaskan berakhirnya masyarakat pembangun kuil tersebut. Perubahan lingkungan, tekanan terhadap sumber daya, perubahan iklim, serta kondisi ekonomi menjadi sejumlah kemungkinan yang dipertimbangkan.
Penelitian genetika juga memberikan petunjuk bahwa perubahan populasi terjadi di Malta setelah berakhirnya periode budaya kuil. Namun, alasan pasti di balik perubahan tersebut masih menjadi objek penelitian.
Dengan demikian, misteri Malta bukan hanya tentang bangunan kuno yang mengesankan. Ia juga menyangkut bagaimana masyarakat prasejarah mampu mengorganisasi tenaga, mengembangkan teknologi, memahami lingkungan, dan membangun ruang yang bertahan selama ribuan tahun.
Ħal Saflieni, cart ruts, Ġgantija, karakteristik akustik ruang bawah tanah, serta hilangnya tradisi megalitik menunjukkan bahwa Malta menyimpan sejarah yang jauh lebih kompleks daripada ukurannya.
Hingga kini, berbagai pertanyaan masih terbuka: untuk apa seluruh jaringan jalur batu tersebut digunakan, bagaimana tepatnya batu-batu raksasa dipindahkan dan dipasang, apakah desain ruang akustik memang disengaja, serta apa yang sebenarnya menyebabkan berakhirnya budaya pembangun kuil Malta.
Jawaban atas sejumlah pertanyaan tersebut mungkin masih menunggu penelitian arkeologi dan teknologi modern. Justru karena itulah Malta tetap menjadi salah satu kawasan paling menarik untuk memahami kehidupan manusia di Mediterania prasejarah.
Artikel Terkait
Lesti Kolaborasi Istimewa Dengan Syahrini dan Afgan di HUT SCTV ke-36
Irish Bella Hamil Anak Ketiga Lewat Program Bayi Tabung di Malaysia
eaJ Rilis Single Comeback “feel myself”, Rayakan Perjalanan Menemukan Kembali Kepercayaan Diri
Dea Annisa Minta Mahar Sesuai Tanggal Lahir 29 Februari, Mazaki Ahmad Berburu Uang Kertas Hampir 3 Minggu