Citraselebriti- Sebuah perjalanan kereta api bergaya steampunk membawa penonton memasuki dunia alternatif bernuansa Belle Époque melalui episode terbaru Retrofutura. Karya ini memadukan estetika retrofuturisme, fiksi ilmiah Neo-Victorian, serta konsep slow cinema dengan iringan musik orisinal.
Retrofutura menghadirkan atmosfer nostalgis sekaligus melankolis. Cerita dalam episode ini menjadi perjalanan sinematik yang seolah mengajak penonton menjelajahi dunia masa depan yang telah hilang, sekaligus menemukan kembali kenangan dari masa lalu.
Perjalanan Menuju Wilayah Vulkanik
Kisah mengikuti sosok pengelana yang sebelumnya telah diperkenalkan dalam perjalanan menggunakan kereta malam. Dalam perjalanan kali ini, sang pengelana tiba di sebuah persimpangan sunyi yang berada jauh di kawasan pegunungan.
Ia kemudian meninggalkan kereta sebelumnya dan menaiki kereta bernama Volcano Express. Kereta tersebut membawanya menuju sebuah wilayah yang jarang didatangi orang luar.
Setelah melewati punggung pegunungan terakhir dari Mountain Nation, perjalanan memasuki Volcano Region, sebuah kawasan tempat bumi seolah masih terus bernapas.
Wilayah tersebut dihuni masyarakat yang memilih bertahan hidup di sekitar kawasan vulkanik. Mereka tidak meninggalkan tanah yang berada di antara kawah-kawah gunung berapi, melainkan membangun kehidupan di tengah lingkungan yang penuh tantangan.
Kota Batu di Lereng Gunung Api
Dalam perjalanan, penonton diajak melihat kota-kota berbahan batu yang berdiri di lereng hitam kawasan vulkanik. Di tengah lanskap tersebut, berdiri pula observatorium besar berbentuk kubah.
Bangunan-bangunan observatorium itu masih dalam proses pembangunan dan dikelilingi rangka perancah yang diterangi lampu pada malam hari. Fungsinya untuk mengamati langit di atas wilayah yang masih dipengaruhi aktivitas lava.
Dunia yang ditampilkan dalam Retrofutura memperlihatkan perpaduan unik antara masa lalu dan masa depan. Kemajuan teknologi tidak digambarkan sebagai sesuatu yang menghilangkan keindahan dunia lama.
Sebaliknya, teknologi modern hadir berdampingan dengan arsitektur dan atmosfer klasik. Robot-robot bergerak di antara lingkungan bergaya kuno, sementara mesin yang dirancang untuk menjelajahi luar angkasa menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Pertemuan dengan Takdir
Perjalanan Volcano Express akhirnya membawa sang pengelana menuju stasiun terakhir. Di tempat tersebut, ia memiliki sebuah janji yang disebut berkaitan dengan takdir.
Adegan perjalanan menuju stasiun terakhir menjadi bagian penting dari kisah karena menempatkan sang pengelana di antara masa lalu, kemajuan teknologi, dan sesuatu yang telah menunggunya di ujung perjalanan.
Selain visual dan narasi, musik menjadi elemen penting dalam membangun atmosfer karya ini. Seluruh musik dalam perjalanan tersebut disebut merupakan komposisi orisinal yang ditulis, dimainkan, dan di-mixing oleh Martin Misenta secara khusus untuk proyek Retrofutura.
Dengan perpaduan kereta steampunk, kota-kota vulkanik, robot, observatorium futuristis, serta estetika Neo-Victorian, Volcano Express menawarkan pengalaman sinematik yang berbeda.
Karya ini tidak hanya mengandalkan cerita petualangan, tetapi juga menghadirkan perjalanan atmosferik mengenai nostalgia, teknologi, kenangan, dan bayangan masa depan yang mungkin tidak pernah terwujud.
Artikel Terkait
Perkedel Kentang Air Fryer, Renyah di Luar dan Lembut di Dalam
BlackBerry Athena 5G Disebut Bakal Kembali pada 2026, Bawa Kamera 500 MP dan Baterai 7.500 mAh
Bertrand Tio, Aphang Vanvan, Regina Phoenix, dan Kenny Lukman Hadirkan Energi Penuh Lewat “So Bark”
“Volcano Express” Hadirkan Perjalanan Steampunk ke Dunia Alternatif Belle Époque