Robot Bebek Micro Duck Seharga US$399 Viral, Pesanan Tembus 10.000 Unit dalam Sepekan

- Kamis, 03/09/2026
 Robot Bebek Micro Duck Seharga US$399 Viral, Pesanan Tembus 10.000 Unit dalam Sepekan
Robot mungil berbentuk bebek bernama Micro Duck

Citraselebriti- Robot mungil berbentuk bebek bernama Micro Duck tengah menjadi perhatian di industri robotika. Dikembangkan oleh Hugging Face bersama Pollen Robotics, robot ini dilaporkan mencatat lebih dari 10.000 pesanan hanya dalam minggu pertama peluncurannya.

Dengan harga mulai US$399 atau sekitar Rp6,5 juta sebelum pajak, Micro Duck menghasilkan nilai pesanan lebih dari US$4 juta. Angka tersebut terbilang besar untuk kategori robot konsumen, bahkan melampaui performa awal sejumlah robot pendamping yang pernah populer.

Sebagai perbandingan, robot anjing Aibo dari Sony yang diperkenalkan pada 1999 mencatat penjualan sekitar 5.000 unit pada periode awal, meski harganya jauh lebih mahal, yakni di atas US$2.000. Sementara itu, robot Jibo yang diperkenalkan melalui crowdfunding pada 2014 mengumpulkan sekitar US$1 juta dalam enam hari pertama.

Namun, tingginya antusiasme terhadap Micro Duck belum tentu menjamin keberhasilan jangka panjang. Sejumlah robot konsumen sebelumnya juga sempat mencuri perhatian ketika diluncurkan, tetapi menghadapi tantangan dalam mempertahankan permintaan dan keberlanjutan bisnis.

Berawal dari Proyek Open Source

Konsep Micro Duck sebenarnya telah dikembangkan sejak beberapa tahun lalu melalui proyek bernama Open Duck Mini. Proyek tersebut digagas Antoine Pirrone, seorang engineer di Pollen Robotics.

Pollen Robotics sebelumnya dikenal melalui pengembangan robot humanoid Reachy yang ditujukan untuk kebutuhan penelitian. Versi generasi keduanya bahkan dijual dengan harga sekitar US$70.000 dan digunakan oleh sejumlah institusi akademik.

Open Duck Mini kemudian dipublikasikan di GitHub pada awal 2025. Proyek tersebut menyediakan daftar komponen serta desain CAD sehingga pengguna dapat mencoba membuat robot sendiri dengan biaya yang ditargetkan di bawah US$400.

Pengembangan ini juga terinspirasi oleh robot BDX dari Disney yang mulai diperkenalkan di kawasan Galaxy’s Edge. Robot berkaki dua tersebut dirancang agar bergerak dan berperilaku layaknya karakter animasi, bukan sekadar robot taman hiburan.

Pollen Robotics Bergabung dengan Hugging Face

Pada April 2025, Hugging Face mengumumkan akuisisi Pollen Robotics dengan nilai yang tidak diungkapkan. Kolaborasi tersebut bertujuan menggabungkan teknologi perangkat lunak AI open source milik Hugging Face dengan kemampuan perangkat keras robotik Pollen.

Tidak lama kemudian, keduanya memperkenalkan Reachy Mini, robot desktop berukuran sekitar 28 sentimeter dengan bobot sekitar 1,5 kilogram. Robot tersebut dilengkapi kamera sudut lebar, empat mikrofon, speaker 5 watt, serta berbagai mekanisme gerak untuk berinteraksi dengan pengguna.

Reachy Mini ditawarkan mulai US$399, sementara versi wireless dibanderol US$449. Dalam waktu sekitar satu tahun, jumlah unit yang digunakan pengguna disebut telah mencapai sekitar 10.000 unit.

Micro Duck kemudian mencapai angka pesanan yang sama hanya dalam waktu kurang dari satu minggu.

Berukuran Mungil dengan Kemampuan AI

Micro Duck memiliki tinggi sekitar 25 sentimeter dan bobot kurang dari 800 gram. Robot ini mempunyai 15 derajat kebebasan pada bagian kaki, kepala, dan leher.

Desainnya dibuat menyerupai karakter orisinal berbentuk bebek dengan tubuh membulat, proporsi pendek, paruh yang dapat bergerak, serta tampilan seperti mainan. Paruhnya bahkan dapat digunakan untuk mengambil benda-benda kecil.

Untuk memahami lingkungan, Micro Duck dibekali kamera depan dan sensor kedalaman LiDAR berukuran kecil. Dua sensor gerak membantu robot menjaga keseimbangan dan merespons perubahan lingkungan.

Sistem AI-nya ditenagai prosesor Rockchip dengan kemampuan komputasi hingga 8 TOPS, ditambah memori 8 GB dan penyimpanan 32 GB.

Menurut pengembangnya, Micro Duck dapat melakukan sejumlah gerakan dasar sejak pertama digunakan. Pengguna juga dapat mengajarkan kemampuan baru melalui simulasi.

Permintaan Tinggi Picu Antrean hingga Enam Bulan

Tingginya permintaan membuat produksi Micro Duck kewalahan. Jika sebelumnya pengiriman ditargetkan sebelum Natal, pelanggan kini diperingatkan harus menunggu sekitar empat hingga enam bulan.

Hugging Face dan Pollen Robotics bekerja sama dengan Seeed Studio yang berbasis di Shenzhen untuk meningkatkan kapasitas produksi. Perusahaan tersebut juga menjadi mitra manufaktur Reachy Mini.

Dengan harga jual sekitar US$399, Micro Duck diperkirakan dijual dengan margin yang sangat tipis. Komponen seperti memori saja disebut dapat menyumbang lebih dari 10 persen biaya produksi robot.

Strateginya bukan semata-mata mengejar keuntungan dari penjualan perangkat keras, melainkan memperluas ekosistem robot open source Hugging Face dan membuka peluang monetisasi dari layanan serta pengembangan AI di masa mendatang.

Bisa Dibuat Sendiri

Bagi konsumen yang tidak ingin menunggu hingga enam bulan, terdapat alternatif berupa membuat Micro Duck sendiri. Andrea Esposito, mantan engineer Tesla Optimus, mengklaim telah melakukan reverse engineering terhadap desain robot tersebut.

Esposito bahkan menyiapkan situs dengan formulir pendaftaran bagi orang-orang yang tertarik membuat versi rakitan. Ia mempertimbangkan untuk membuka source bill of materials, file CAD, hingga panduan perakitan apabila minat masyarakat cukup besar.

Fenomena Micro Duck menunjukkan bahwa robotika konsumen mulai bergerak ke arah yang berbeda. Robot tidak lagi hanya diposisikan sebagai perangkat mahal untuk penelitian atau demonstrasi teknologi, tetapi juga sebagai platform eksperimental yang dapat dipelajari, dimodifikasi, dan dikembangkan oleh komunitas.

Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Micro Duck mampu mempertahankan popularitas setelah sensasi peluncurannya mereda. Jika berhasil, robot bebek mungil ini berpotensi menjadi salah satu contoh bagaimana open-source AI dan perangkat keras robotik terjangkau dapat membawa teknologi robotika lebih dekat kepada konsumen.

Tags

Artikel Terkait

Terkini