• Minggu, 18/10/2026

Guntur Soeharjanto Ungkap Tantangan Garap The Doll: Ghawiah, Hadirkan Kisah Prekuel Bu Laras

- Sabtu, 17/10/2026

Citraselebriti — Sutradara Guntur Soeharjanto mengungkapkan tantangan dalam menggarap film horor terbaru The Doll: Ghawiah, yang menjadi bagian dari semesta film The Doll sebelumnya. Film ini menghadirkan cerita berbeda dengan tetap mempertahankan karakteristik utama waralaba horor tersebut.

Guntur mengatakan, The Doll: Ghawiah memiliki keistimewaan tersendiri karena dikembangkan dari semesta cerita The Doll 1, The Doll 2, dan The Doll 3. Tantangan utamanya adalah mempertahankan roh cerita yang sudah dikenal penonton, sekaligus menghadirkan karakter dan alur cerita baru.

“Ini kali keempat saya dengan Pak Rocky Soraya. Ini agak spesial buat saya karena ini universe yang sudah ada sebelumnya, The Doll 1, 2, 3. Tantangannya adalah bagaimana membuat The Doll-nya, rohnya tetap ada, tetapi dengan karakter dan cerita yang berbeda,” ujar Guntur di Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat ( 16/10).

Dalam mengembangkan cerita, Guntur menjelaskan bahwa film tersebut mengambil inspirasi dari legenda urban di wilayah Siliwangi. Dari sumber cerita tersebut, tim produksi mengembangkan kisah boneka bernama Ghawiah yang menjadi bagian penting dalam jalan cerita film.

Menurut Guntur, proses penggarapan film ini juga menghadirkan tantangan dari sisi produksi. Ia menyebut tim produksi membangun sejumlah set berukuran besar untuk mendukung kebutuhan visual dan atmosfer cerita.

Salah satu set yang menjadi perhatian adalah rumah kaca berukuran besar, yang menurut Guntur dibuat secara nyata dengan luas kurang lebih setara lapangan tenis.

“Kalau sudah dengan Hitmaker, pasti ada sesuatu yang selalu wah. Mungkin teman-teman sudah lihat semuanya di belakang itu, rumah kaca itu kita bikin sebesar lapangan tenis. Itu benar-benar real,” tuturnya.

Kembangkan karakter Bu Laras dalam cerita prekuel

Selain menghadirkan kisah boneka Ghawiah, film ini juga mengeksplorasi karakter Bu Laras  ( Sara Wijayanto )melalui pendekatan cerita prekuel. Guntur menjelaskan, pengembangan karakter tersebut menjadi salah satu bagian yang memerlukan pembahasan khusus bersama tim kreatif.

Sebab, karakter Bu Laras dalam film sebelumnya sudah memiliki gambaran tersendiri. Untuk cerita The Doll: Ghawiah, tim harus merancang versi karakter tersebut pada masa sebelum peristiwa dalam film-film terdahulu.

“Bu Laras itu sebenarnya menarik karena ini prekuel. Jadi, diskusinya adalah bagaimana kita membuat karakternya mundur,” kata Guntur.

Ia menambahkan, tim kreatif melakukan berbagai eksplorasi untuk membentuk detail karakter, mulai dari gestur, gaya rambut, hingga cara berkomunikasi dengan boneka.

Menurutnya, detail-detail tersebut menjadi bagian penting untuk membangun karakter yang berbeda dari penampilan Bu Laras dalam film sebelumnya.

Guntur juga mengakui bahwa proses syuting menghadirkan pengalaman tersendiri bagi para pemain dan kru. Ia menyebut suasana di lokasi terkadang menimbulkan sensasi merinding ketika mereka menjalani adegan-adegan horor.

Berharap The Doll: Ghawiah diterima penonton

Menutup keterangannya, Guntur berharap The Doll: Ghawiah dapat diterima masyarakat dan menjadi pilihan hiburan bagi penonton film Indonesia.

Ia juga berharap keberhasilan film tersebut dapat ikut mendukung perkembangan industri perfilman nasional agar semakin mendapat tempat di hati masyarakat.

“Semoga film ini dapat diterima sama masyarakat kita dan bisa jadi hiburan di tengah apa yang kita rasakan sekarang. Terus bisa sukses sehingga film Indonesia terus berkibar, didukung sama masyarakat kita semuanya,” pungkas Guntur.

Tags

Artikel Terkait

Terkini