Citrseelebriti- Wansui Mountain Martial Arts City di Kaifeng, Provinsi Henan, China, menjadi salah satu destinasi wisata yang menawarkan pengalaman berbeda bagi pengunjung. Kawasan ini memadukan budaya Dinasti Song dengan dunia bela diri tradisional China atau wuxia yang selama ini populer melalui film, drama, dan cerita klasik Negeri Tirai Bambu.
Kaifeng sendiri memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kota penting dalam sejarah China. Kota ini pernah menjadi ibu kota pada masa Dinasti Song Utara. Nuansa sejarah tersebut kemudian dihidupkan kembali di Wansui Mountain melalui bangunan bergaya tradisional, gerbang besar, lentera merah, pertunjukan seni, hingga atraksi laga yang membuat pengunjung seolah masuk ke dalam film wuxia.
Sejak memasuki kawasan wisata, pengunjung langsung disambut deretan bangunan bergaya China kuno dan ornamen tradisional. Lentera merah yang menghiasi jalan membuat suasana semakin kuat, seperti berada di sebuah kota pada masa lampau.
Salah satu pertunjukan yang menarik perhatian adalah pertunjukan drum dan tari. Irama drum yang kuat berpadu dengan gerakan para penampil yang serempak, menciptakan suasana meriah di tengah kawasan wisata.
Dalam budaya tradisional China, drum tidak hanya digunakan sebagai alat musik, tetapi juga memiliki peran dalam berbagai perayaan, upacara, hingga kegiatan militer. Dentuman drum yang menggema di antara bangunan bergaya Dinasti Song membuat pengalaman wisata terasa seperti perjalanan kembali ke masa lalu.
Wansui Mountain bukan sekadar tempat untuk menyaksikan pertunjukan. Kawasan ini dirancang sebagai dunia imersif yang menggambarkan konsep jianghu, yakni dunia para pendekar, petualang, dan ahli bela diri yang banyak ditemukan dalam cerita-cerita klasik China.
Salah satu area yang menarik adalah Wuxia Film Street. Kawasan ini dibuat menyerupai lokasi syuting terbuka untuk film sejarah dan drama bela diri China. Jalanan, toko, serta bangunannya dirancang untuk menghadirkan atmosfer cerita wuxia.
Pengunjung juga dapat menemukan berbagai pameran berkaitan dengan dunia perfilman, termasuk Film Art Exhibition Hall. Berbagai pertunjukan interaktif digelar secara bergantian sehingga wisatawan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menemukan atraksi baru.
Di tengah cuaca musim panas yang cukup terik, kawasan tersebut tetap dipadati wisatawan. Salah satu pertunjukan tradisional yang menarik perhatian adalah tari singa dan aksi perubahan wajah atau face-changing.
Tari singa telah menjadi bagian dari tradisi China selama berabad-abad dan kerap dikaitkan dengan keberuntungan, kemakmuran, serta perlindungan dari hal-hal buruk. Para penari bekerja sama menggerakkan kostum singa sehingga tampak hidup dan mampu melakukan berbagai gerakan akrobatik.
Sementara itu, face-changing merupakan salah satu teknik populer dalam opera China. Penampil dapat mengganti riasan wajah dalam waktu yang sangat cepat sehingga penonton hampir tidak dapat melihat proses pergantiannya.
Perjalanan kemudian berlanjut menuju area rekreasi air. Suasana di kawasan ini terasa lebih santai dibandingkan jalanan bertema bela diri. Pengunjung dapat menikmati air terjun, tebing batu, serta berbagai atraksi yang tetap mempertahankan nuansa wuxia.
Salah satu atraksi unik yang dapat ditemukan adalah bamboo pole drifting. Dalam pertunjukan tersebut, para penampil berdiri di atas satu batang bambu sambil menjaga keseimbangan di atas permukaan air. Dengan menggunakan batang bambu tersebut, mereka mengendalikan arah dan gerakan.
Atraksi tersebut terlihat sederhana, tetapi membutuhkan keseimbangan dan keterampilan yang tinggi agar penampil tidak terjatuh ke dalam air.
Dari area air, pengunjung kemudian memasuki kawasan Water Margin dan Wuxia. Water Margin merupakan salah satu karya sastra klasik paling terkenal di China yang mengisahkan sekelompok pendekar dan pemberontak yang berkumpul di Gunung Liang.
Di kawasan ini, wisatawan juga dapat menyaksikan pertunjukan opera tradisional serta prosesi pernikahan bergaya China yang berlangsung di atas air. Pengantin pria dan rombongan pernikahan bergerak perlahan menggunakan perahu yang dihiasi ornamen tradisional.
Warna merah mendominasi pertunjukan tersebut karena dalam tradisi pernikahan China, merah kerap dikaitkan dengan kebahagiaan, keberuntungan, dan perayaan.
Setelah melewati kawasan Water Margin, suasana kembali berubah ketika memasuki Fantasy Immortal Realm. Area ini mengangkat dunia fantasi yang terinspirasi dari mitologi, legenda, serta budaya xianxia.
Xianxia merupakan genre fantasi khas China yang memadukan bela diri, mitologi, kekuatan supernatural, dan konsep kultivasi untuk mencapai keabadian. Karena itu, pertunjukan di kawasan tersebut menghadirkan suasana yang lebih fantastis dan penuh imajinasi.
Para pengunjung juga dapat melihat penampil yang mengenakan hanfu atau pakaian tradisional China. Ditambah latar bangunan dan pemandangan yang dibuat menyerupai dunia kuno, kawasan ini memberikan pengalaman seolah-olah wisatawan sedang berada di China pada masa lampau.
Ketika hari semakin sore, suasana semakin meriah dengan hadirnya parade bertema fantasi. Menariknya, pertunjukan di Wansui Mountain tidak selalu berlangsung di atas panggung. Atraksi dapat muncul di tengah jalan ketika wisatawan sedang berjalan-jalan.
Namun, salah satu atraksi terbesar yang paling ditunggu adalah pertunjukan laga wuxia dalam skala besar yang mengadaptasi kisah klasik Water Margin.
Pertunjukan tersebut mengambil latar masa pemerintahan Kaisar Huizong dari Dinasti Song. Cerita menggambarkan kondisi pemerintahan yang korup dan kehidupan rakyat yang semakin sulit akibat pajak serta eksploitasi.
Dalam kisah tersebut, Song Jiang dan Chao Gai mengumpulkan para pendekar di Gunung Liang. Para pendekar dari berbagai wilayah kemudian bergabung dan menjadi bagian dari kelompok tersebut.
Konflik bermula ketika Shi Xiu, Yang Xiong, dan Shi Qian melakukan perjalanan menuju Gunung Liang. Ketiganya melewati Desa Keluarga Zhu, tetapi Shi Qian ditangkap Zhu Biao akibat sebuah kesalahpahaman.
Kabar penangkapan tersebut kemudian sampai kepada Song Jiang. Ia meminta izin kepada Chao Gai untuk memimpin pasukan Gunung Liang menuju Desa Keluarga Zhu demi menyelamatkan Shi Qian.
Serangan pertama ternyata gagal. Pasukan Gunung Liang tidak mengetahui kondisi medan di sekitar desa sehingga mereka masuk ke dalam jebakan. Setelah mundur, Song Jiang mendirikan kemah di sekitar wilayah tersebut dan menyiapkan serangan berikutnya.
Dalam pertunjukan, penonton kemudian disuguhkan adegan persiapan pasukan, dialog antar tokoh, hingga kedatangan Hu Sanniang yang terkenal sebagai pendekar perempuan dengan kemampuan bertarung menggunakan dua pedang.
Hu Sanniang kemudian menantang para pendekar Gunung Liang. Wang Ying yang dikenal sebagai “Stumpy Tiger” maju menghadapi Hu Sanniang. Pertarungan keduanya dibumbui dialog komedi sebelum berubah menjadi adegan laga.
Pertarungan kemudian semakin besar setelah sejumlah pendekar lain ikut turun ke medan pertempuran. Song Jiang akhirnya memerintahkan pasukannya untuk mundur dan menyusun strategi baru karena Desa Keluarga Zhu memiliki pertahanan yang sangat kuat.
Dalam cerita tersebut, pihak Gunung Liang kemudian menggunakan strategi untuk mengalahkan lawannya. Salah satu kunci kemenangan adalah kedatangan Sun Li bersama pasukannya.
Sun Li awalnya datang sebagai pasukan bantuan untuk mempertahankan Desa Keluarga Zhu. Namun, dalam alur cerita, ia ternyata telah lama bergabung dengan Gunung Liang. Pengkhianatan tersebut menjadi titik balik penting dalam pertempuran.
Setelah berhasil membuka jalan menuju desa, pasukan Gunung Liang menyerbu masuk. Pertempuran besar pun terjadi antara kedua pihak.
Dalam klimaks pertunjukan, Desa Keluarga Zhu akhirnya berhasil direbut. Sun Li kemudian mengumumkan kemenangan dan mengajak para pendekar Gunung Liang merayakannya dengan pesta kemenangan.
Kisah tersebut ditutup dengan pasukan Song Jiang dan para pendekar Gunung Liang meninggalkan lokasi setelah berhasil menyelamatkan rekan mereka. Dalam cerita, sebagian harta yang diperoleh kemudian dibagikan kepada masyarakat miskin, sementara sisanya dibawa kembali ke Gunung Liang.
Pertunjukan tersebut menjadi salah satu daya tarik utama Wansui Mountain Martial Arts City. Dengan menggabungkan seni pertunjukan, sejarah, sastra klasik, budaya tradisional, hingga atraksi laga berskala besar, kawasan ini menawarkan pengalaman wisata yang berbeda.
Wansui Mountain pada akhirnya bukan hanya menghadirkan tempat untuk menikmati pertunjukan, tetapi juga membawa pengunjung masuk ke dalam dunia wuxia yang selama ini dikenal melalui film, serial televisi, opera, dan karya sastra China.