Darius Sinathrya Akui Rumah Terasa Sepi Saat Anak-anak Kembali ke Eropa

Senin, 24/08/2026

Citraselebriti— Aktor sekaligus presenter Darius Sinathrya mengaku mulai merasakan suasana rumah yang berbeda setelah ketiga anaknya kembali ke Eropa untuk melanjutkan pendidikan dan mengejar cita-cita masing-masing.

Darius mengatakan, dirinya kini harus kembali menjalani fase sebagai orang tua dengan anak-anak yang berada jauh dari rumah. Ia bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai fase empty nest, ketika anak-anak mulai meninggalkan rumah untuk menempuh pendidikan dan membangun masa depan.

“Sudah seminggu di rumah sendiri. Ya begitulah jadi orang tua, sudah fasenya empty nest. Anak-anak sudah pada ke tempat lain buat mengejar cita-cita mereka, buat sekolah, buat menempa diri mereka, mempersiapkan masa depan mereka,” ujar Darius saat ditemui usai bermain di Selebriti FC, Senayan, Jakarta, Senin (24/8).

Saat ini, sang istri, Donna , berada di Eropa untuk mendampingi Diego dan Sabrina. Sementara salah satu anak mereka, Lio, berada di negara yang berbeda. Darius pun harus berbagi waktu dengan Dona agar tetap bisa mendampingi anak-anak.

Menurut Darius, rencananya pada September atau Oktober mendatang giliran dirinya yang akan berangkat ke Eropa untuk menemani anak-anak. Pembagian waktu tersebut dilakukan dengan tetap menyesuaikan kesibukan pekerjaan mereka di Indonesia.

“Sekarang Donna  yang di Eropa bareng Diego sama Sabrina. Karena Lio sudah beda negara. Jadi nanti gantian. Mungkin rencananya September atau Oktober gantian aku yang ke sana,” katanya.

Meski mengaku rumah terasa sangat sepi tanpa kehadiran anak-anak, Darius berusaha tetap menjalani aktivitasnya seperti biasa. Ia mengatakan, kesibukan pekerjaan sedikit membantu mengalihkan rasa kehilangan suasana keluarga di rumah.

“Sepi banget. Cuma karena setiap hari ada kegiatan, jadi terasa kalau pagi bangun tidur biasanya selalu ada Donna, mau tidur juga ada. Kalau anak-anak memang sudah tahun keenam sejak Lio berangkat pertama kali,” tuturnya.

Darius menyadari bahwa sejak beberapa tahun terakhir, anak-anaknya memang mulai terbiasa menjalani aktivitas masing-masing. Bahkan ketika berada di Indonesia sekalipun, waktu berkumpul bersama keluarga sudah cukup terbatas karena kesibukan sekolah dan kegiatan olahraga.

Namun, menurut Darius, kehadiran Dona tetap menjadi bagian yang paling terasa dalam rutinitas sehari-hari.

“Kalau sama Donna  pasti bangun tidur, pulang, mau tidur pasti ketemu, pasti ngobrol. Jadi itu yang terasa banget ketika tidak ada,” ungkapnya.

Bangga Sekaligus Khawatir

Keputusan anak-anak untuk menempuh pendidikan dan mengejar cita-cita di Eropa membuat perasaan Darius dan Donna  bercampur aduk. Di satu sisi, keduanya merasa bangga melihat anak-anak berani menjalani impian. Namun di sisi lain, kekhawatiran sebagai orang tua tetap muncul.

Terlebih, kedua anak laki-laki mereka menekuni olahraga sepak bola yang memiliki risiko cedera cukup tinggi. Darius mengaku kerap menunggu kabar anak-anak ketika mereka menjalani latihan maupun pertandingan, meski waktu di Indonesia sudah larut malam.

“Ada khawatirnya juga, terutama yang cowok-cowok kan bola itu sangat high risk. Kadang kalau mereka latihan atau tanding pasti ditunggu-tunggu kabarnya. Posisi di sini sudah tengah malam lewat,” kata Darius.

Ia pun selalu berharap mendapatkan kabar baik dan terus mendoakan anak-anaknya. Di tengah kekhawatiran tersebut, Darius juga merasa bahagia karena anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menjalani impian mereka.

“Senang, bangga mereka bisa menjalani impian mereka. Berharap mereka benar-benar mewujudkan impiannya dan menjalani semuanya dengan penuh syukur, dengan perasaan happy juga,” ujarnya.

Darius menegaskan bahwa keputusan anak-anak berada di Eropa bukan semata-mata karena keinginan dirinya dan Donna. Menurutnya, keberadaan mereka di sana merupakan bentuk dukungan orang tua terhadap pilihan dan cita-cita anak.

“Mereka ke sana bukan karena kita yang ingin atau kita yang minta. Itu adalah bentuk support aku sama Donna  sebagai orang tua terhadap apa yang mereka ingin jalani,” jelasnya.

Karena itu, Darius mengatakan dirinya dan Donna  justru lebih banyak memantau kondisi anak-anak, terutama bagaimana mereka menjalani kehidupan jauh dari keluarga.

“Kita ingin mereka menjalaninya enjoy, happy, jadi bisa maksimal juga prosesnya,” tambahnya.

Tetap Rutin Berkomunikasi

Untuk mengobati rasa rindu, keluarga Darius memiliki rutinitas komunikasi melalui grup keluarga dan video call. Setiap pagi, mereka biasanya saling menyapa melalui grup keluarga.

Darius dan Dona juga berusaha menyempatkan diri melakukan panggilan video dengan anak-anak. Biasanya, waktu komunikasi disesuaikan dengan jadwal sekolah dan latihan mereka di Eropa.

“Setiap hari pasti selalu saling sapa. Kita ada grup keluarga. Jadi pagi itu selalu saling sapa. Terus biasanya aku sama Dona juga video call,” kata Darius.

Ia mencontohkan, ketika anak-anak selesai sekolah dan sebelum menjalani latihan, mereka biasanya memiliki waktu untuk berbicara dan bertukar cerita. Darius juga mengikuti perkembangan karier sepak bola anak-anaknya.

Diego saat ini mulai menjalani pertandingan persahabatan sebagai bagian dari persiapan musim kompetisi. Sementara Lio sudah mulai mengikuti liga dan telah menjalani dua pertandingan.

“Lio juga sudah mulai liga. Kemarin dia sudah dua pertandingan dan bisa meraih dua poin penuh. Anaknya juga happy dapat bonus dari klubnya. Kalau menang dapat poin, dapat bonus,” ungkapnya.

Meski demikian, Darius mengakui tidak setiap hari mereka bisa melakukan video call. Kesibukan masing-masing terkadang membuat komunikasi melalui panggilan video harus tertunda selama beberapa hari.

“Walaupun kadang ada masanya ketika sama-sama sibuk, enggak ketemu waktunya. Mungkin dua-tiga hari kita enggak video call. Tapi aku sama Dona biasanya tetap aktif setiap hari,” ujarnya.

Bergantian Mendampingi Anak

Darius dan Dona juga telah memiliki pola tersendiri untuk memastikan salah satu dari mereka tetap bisa mendampingi anak-anak di Eropa tanpa mengabaikan pekerjaan di Indonesia.

Jika Darius memiliki pekerjaan di Tanah Air, Dona akan berada di Eropa. Begitu pula sebaliknya ketika Dona harus kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan pekerjaan.

“Aku sama Dona coba bagi waktu. Ketika aku ada jadwal, dia yang di sana. Ketika dia harus pulang untuk membereskan pekerjaan yang tertunda, dia pulang, aku yang gantian berangkat,” jelas Darius.

Dalam kondisi tertentu ketika keduanya sama-sama memiliki pekerjaan di Indonesia, mereka bahkan meminta bantuan manajer untuk mendampingi anak-anak di Eropa.

“Kadang-kadang memang dua-duanya harus ada di sini. Jadi anak-anak seminggu-dua minggu enggak ada kita. Kadang manajer kita yang berangkat buat nemenin di sana,” katanya.

Darius menyebut situasi tersebut menjadi bagian dari dinamika keluarga mereka seiring anak-anak tumbuh dan mulai mandiri.

Manfaatkan Waktu Saat Berkumpul

Meski kini harus menjalani hubungan jarak jauh dengan anak-anak, Darius mengatakan keluarga mereka selalu berusaha memanfaatkan waktu libur sekolah untuk berkumpul.

Sejak dahulu, Darius dan Dona memang berkomitmen menjadikan libur pertengahan tahun serta Natal dan Tahun Baru sebagai momen untuk melakukan family time.

Ketika anak-anak masih berada di Indonesia, Darius juga kerap mendampingi aktivitas mereka, khususnya pertandingan sepak bola pada akhir pekan.

“Kalau weekend aku enggak ada kerjaan, aku biasanya nganterin dan nemenin mereka. Biasanya weekend ada pertandingan, kompetisi, turnamen atau liga yang mereka ikuti,” ujarnya.

Selain menemani pertandingan, Darius juga menghabiskan waktu bersama anak-anak dengan berbagai kegiatan sederhana, seperti menonton film, bermain gim, pergi ke toko buku, hingga menghabiskan waktu di rumah.

“Kalau Sabrina misalnya kita nonton bareng atau ke toko buku. Atau di rumah family time, sama-sama nonton film atau main game sama yang cowok-cowok,” tuturnya.

Saat akhirnya bisa berkumpul di Eropa, Darius mengatakan dirinya dan Dona justru kembali menjalani peran sebagai orang tua secara penuh.

“Kalau di sana aku sama Dona jadinya kayak full time parenting lagi. Dua puluh empat jam selama tujuh hari seminggu itu pasti sama anak-anak,” katanya.

Tak Hanya Menjaga Fisik, Darius Perhatikan Kondisi Mental Anak

Sebagai orang tua, Darius juga memberikan sejumlah pesan kepada anak-anaknya yang kini hidup jauh dari keluarga. Selain mengingatkan soal kedisiplinan, ia meminta mereka menjaga pola makan, istirahat, waktu penggunaan gawai, serta asupan nutrisi.

Hal tersebut menjadi perhatian khusus bagi anak-anaknya yang aktif bermain sepak bola karena membutuhkan kondisi fisik yang prima dan pemulihan yang baik.

“Kita selalu ingatin mereka jangan sampai telat makan, disiplin, atur waktu istirahat yang cukup, tidur, screen time harus dijaga. Vitamin jangan sampai lupa. Apalagi yang cowok main bola, butuh nutrisi yang bagus buat menjaga recovery mereka,” ujar Darius.

Selain kesehatan fisik, Darius juga memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis anak-anaknya. Ia memiliki sesi percakapan pribadi dengan Diego untuk mendengarkan cerita dan perasaan sang anak.

Menurut Darius, dirinya tidak selalu ingin memberikan nasihat dalam percakapan tersebut. Ia lebih memilih menjadi pendengar agar anak-anak merasa nyaman untuk menceritakan apa yang sedang mereka alami.

“Aku juga ada sesi sama Diego untuk ngobrol secara personal, lebih dengarin gimana mood-nya mereka, perasaan mereka. Mungkin jadi tempat buat curhat mereka,” katanya.

Percakapan tersebut dilakukan secara berkala, sekitar dua minggu sekali atau dua kali dalam sebulan. Darius mengaku lebih banyak mendengarkan tanpa langsung memberikan nasihat sebagai orang tua.

“Yang penting mereka bisa keluarin dan kita tahu posisi, kondisi mental atau pemikiran mereka secara psikologis lagi seperti apa,” pungkas Darius.

Tags

Terkini