Kisah yang Penting

Kisah yang Penting
Ist

SEBUAH mobil bak bermesin diesel bergerak bimbang di Tol Romokalisari yang lengang pada malam buta. Posisinya berangsur merapat ke kiri, mendekati truk-truk bermuatan besar yang bergerak lamban. Separuh rodanya di lajur darurat, separuh lagi di jalur lambat.

Agus memegang kemudi dengan sebelah tangan. Sebelah lagi sibuk menyeka mata yang tak henti mencucurkan air mata. Ia meringis dan mengerang, bukan karena sedih, melainkan perih dan pendar yang mengganggu penglihatannya sejak meninggalkan bengkel beberapa jam lalu.

Sedikit lagi, sedikit lagi. Ia berusaha menyemangati diri, menavigasi arah berdasarkan cuplikan buram di antara kedipan matanya.

Napas Agus tahu-tahu tertahan. Truk besar berwarna merah muncul di harapannya seolah-olah dihadirkan oleh tukang sulap. Agus membanting setir ke kanan, diikuti pijakan rem untuk menahan jarak dari mobil angkutan sayuran yang mengisi jalur kanan. Terdengar klakson meraung dari belakang. Mobilnya seketika dihujani kedipan lampu jauh dari mereka yang gusar dengan manuver mendadaknya.

Jantung Agus berdebar kencang. Ia baru saja lolos dari lubang jarum. Hidup, untungnya, masih berpihak padanya. Telat sekian detik, ia dan mobilnya sudah menjadi roti lapis di tengah Tol Romokalisari. Ia bisa memicu rangkaian kecelakaan. Entah berapa nyawa dapat melayang konyol, semata-mata karena pendar yang tak kunjung padam dan air mata yang tak henti mengucur. Semata-mata karena ia tak tahu kapan harus berhenti.

Perlahan, Agus membawa kemudinya kembali ke kiri, ke lajur darurat, lalu diam di sana. Seusai menarik rem tangan, menekan tombol hazard, Agus merebahkan jok. Ia meringkuk sambil sesekali menyeka pipi. Air matanya, meski tetap terasa sama basah, kini seperti datang dari tempat berbeda. Tak lagi dari perih fisik, tetapi juga rasa sedih.

Agus meraih telepon genggam yang sejak tadi tergeletak di jok penumpang. Susah payah ia meraba bentuk-bentuk huruf yang terbaca buram, mengontak satu-satunya nomor yang terpikir olehnya pada situasi itu.

“Halo? San?”

“Mas Agus?” Ichsan, adik iparnya di Lamongan, balas menyapa dengan suara serak. Agus baru saja memutus tidur adik iparnya yang mulai lelap.

“San, bisa jemput aku?” tanya Agus. “Tapi, tolong, jangan bilang dulu ke Fidah.”

TAGS : Gayahidup Kisah yang Penting