Citraselebriti- Kyrgyzstan, negara di Asia Tengah yang merdeka dari Uni Soviet pada 1991, terus menunjukkan identitasnya sebagai bangsa yang kaya akan tradisi nomaden, budaya berkuda, serta bentang alam pegunungan yang masih alami. Di balik lanskap Pegunungan Tian Shan yang megah, masyarakat setempat hidup berdampingan dengan alam sambil mempertahankan warisan leluhur yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Sebagian besar kehidupan masyarakat pedesaan berpusat di jailoo, padang rumput pegunungan yang menjadi tempat para penggembala membawa ternak mereka selama musim panas. Di kawasan Lembah Tur, sekitar 13 keluarga peternak tinggal di ketinggian sekitar 2.600 meter untuk menggembalakan domba, sapi, dan kuda hingga musim dingin tiba.
Salah satu penggembala, Mushkat Boro, mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan kuda asli Kyrgyzstan. Baginya, kuda bukan sekadar hewan ternak, melainkan bagian penting dari kehidupan masyarakat. Sebuah pepatah kuno Kyrgyz bahkan menyebut bahwa “kuda adalah sayap manusia.”
Mushkat secara khusus membiakkan ras kuda Chaarat, kuda tutul khas Kyrgyzstan yang hampir punah akibat persilangan besar-besaran dengan kuda Rusia pada era Soviet. Sejak 2009, ia berupaya mengembalikan populasi ras tersebut karena dikenal tangguh menghadapi iklim pegunungan, memiliki kuku yang kuat, serta mampu bertahan selama musim dingin.
Selain beternak, keluarga Mushkat juga memproduksi kumis, minuman tradisional hasil fermentasi susu kuda betina yang menjadi minuman nasional Kyrgyzstan. Proses pembuatannya dilakukan selama sekitar dua pekan menggunakan tong kayu atau kantong kulit, sementara bahan bakar utama berasal dari kotoran ternak kering karena pepohonan sangat sedikit ditemukan di dataran tinggi.
Masyarakat Kyrgyz juga dikenal memiliki hubungan yang erat dengan alam. Mereka hanya menggunakan sumber daya yang telah mati, tidak mengubah aliran sungai, dan menjaga kebersihan sumber air sebagai bentuk penghormatan terhadap lingkungan.
Tradisi berkuda juga tercermin dalam olahraga nasional kok boru, permainan berkuda kuno yang telah dimainkan selama lebih dari 2.500 tahun dan diyakini sebagai cikal bakal olahraga polo. Dalam pertandingan ini, dua tim saling berebut bangkai kambing untuk dimasukkan ke gawang lawan. Meski terkenal keras dan berisiko tinggi, olahraga tersebut tetap menjadi simbol kebanggaan nasional masyarakat Kyrgyz.
Menjelang musim dingin, para penggembala harus meninggalkan jailoo dan membawa seluruh ternak turun ke dataran yang lebih hangat. Proses perpindahan ini berlangsung selama beberapa hari dan menjadi bagian dari siklus kehidupan nomaden yang masih dijalankan hingga kini.
Di sisi lain, kekayaan alam Kyrgyzstan juga menarik perhatian para peneliti satwa liar. Pegunungan Tian Shan menjadi habitat macan tutul salju (snow leopard), salah satu spesies paling langka di dunia yang hidup pada ketinggian hingga 6.000 meter.
Ahli ornitologi asal Prancis, Bastian, telah melakukan penelitian di Kyrgyzstan sejak 2009. Bersama organisasi nirlaba yang bergerak di bidang konservasi, ia memimpin ekspedisi ilmiah sekaligus mengajak anak-anak dari panti asuhan di Karakol mengenal ekosistem pegunungan serta pentingnya menjaga satwa liar.
Melalui kamera jebak dan penelitian lapangan, timnya memantau keberadaan macan tutul salju, argali, burung pemangsa, dan berbagai spesies pegunungan lainnya. Menurut Bastian, melibatkan generasi muda dalam kegiatan konservasi menjadi cara efektif untuk menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.
Upaya membangun masa depan Kyrgyzstan juga dilakukan melalui pendidikan. Program perpustakaan keliling digital bernama Bilim menghadirkan buku, komputer, materi pembelajaran, hingga film edukasi ke desa-desa terpencil di Provinsi Naryn yang sulit dijangkau fasilitas pendidikan.
Program tersebut dipimpin Iliaz Uzenov bersama rekannya Kuban Mov. Selama beberapa minggu setiap bulan, mereka mengunjungi desa-desa pegunungan untuk memberikan akses informasi secara gratis kepada anak-anak maupun orang dewasa.
Selain menyediakan bahan bacaan, program ini juga turut melestarikan bahasa Kyrgyz yang sempat tersisih pada masa Uni Soviet. Berbagai buku, kamus elektronik, hingga materi audiovisual disajikan dalam bahasa ibu masyarakat setempat agar warisan budaya tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Di sela perjalanan, Iliaz juga mengunjungi Caravanserai Tash Rabat, bangunan batu bersejarah di Jalur Sutra yang diperkirakan dibangun oleh biarawan Kristen pada abad ke-10. Tempat tersebut menjadi saksi pertemuan berbagai peradaban, agama, dan budaya yang pernah melintasi Asia Tengah selama berabad-abad.
Kini, lebih dari tiga dekade setelah meraih kemerdekaan, Kyrgyzstan terus berupaya menjaga keseimbangan antara tradisi, pendidikan, dan pelestarian alam. Dari padang rumput pegunungan, olahraga berkuda, konservasi satwa liar, hingga perpustakaan keliling, negara ini memperlihatkan bagaimana warisan budaya dan alam dapat berjalan berdampingan untuk membangun masa depan yang berkelanjutan.
Artikel Terkait
Darius Sinathrya Bersyukur Anak-anak Makin Mandiri Selama Menimba Ilmu dan Berkarier Sepak Bola di Portugal
Yasamin Jasem Akui Percaya Santet karena Cerita dari Orang Terdekat
Azela Putri dan Fatih Unru Bangun Chemistry Kakak-Adik di Film Horor Paket Santet
Betrand Peto Beri Dukungan Penuh untuk Ruben Onsu di Tengah Polemik Gugatan Hak Asuh