Citraselebriti– Para pemain film horor Paket Santet, Yasamin Jasem dan Fatih Unru, membagikan pengalaman mereka saat mendalami kisah tentang santet yang menjadi tema utama film tersebut. Keduanya mengaku proses membaca naskah hingga menjalani syuting menghadirkan rasa penasaran sekaligus ketakutan karena cerita yang diangkat terasa dekat dengan kehidupan masyarakat.
Yasamin mengaku dirinya berada di posisi “percaya tidak percaya” terhadap praktik santet. Meski belum pernah mengalaminya secara langsung, ia kerap mendengar kisah serupa dari keluarga maupun teman.
“Aku lebih condong percaya karena sering mendengar cerita dari orang-orang terdekat. Ada saudara yang katanya pernah dikirimi santet sampai ditemukan hewan atau paku di sekitar rumahnya. Dari situ aku jadi penasaran kenapa ada orang yang sampai tega melakukan hal seperti itu kepada orang lain,” ujar Yasamin Ditemui dalam peluncuran poster dan trailer film Paket Santet di CGV FX Sudirman, Jakarta, Senin (13/7).
Menurutnya, perkembangan media sosial juga membuat berbagai kisah mistis semakin mudah ditemukan. Banyak orang membagikan pengalaman yang mereka alami, sehingga memunculkan rasa ingin tahu sekaligus menambah kesan bahwa praktik santet masih dipercaya oleh sebagian masyarakat.
Sementara itu, Fatih Unru menilai persoalan santet bukan lagi sekadar soal percaya atau tidak percaya. Baginya, kemungkinan bahwa hal tersebut bisa saja benar-benar terjadi sudah cukup menimbulkan rasa takut.
“Buat saya bukan lagi soal percaya atau tidak percaya. Kalau memang hal seperti itu benar terjadi, walaupun bukan kepada saya, itu sudah cukup membuat takut. Apalagi saat membaca skenario, saya jadi terus berpikir, ‘bagaimana kalau itu terjadi kepada saya?’ Dari situ muncul rasa takut bahkan saat membayangkan menerima sebuah paket,” katanya.
Fatih menambahkan, tantangan terbesar selama proses produksi bukan hanya membangun emosi para karakter, tetapi juga menyatukan imajinasi seluruh pemain terhadap ancaman yang nantinya banyak diwujudkan melalui efek visual.
Menurutnya, sebagian besar adegan yang melibatkan kawanan tawon sebagai medium kutukan dikerjakan dengan bantuan efek visual (CGI). Para pemain harus berakting menggunakan titik penanda (marking) dan membayangkan sendiri bagaimana serangan tawon tersebut terjadi.
“Yang paling menantang adalah menyamakan imajinasi semua pemain. Kami harus membayangkan seperti apa serangan tawon itu, bagaimana reaksinya, dan seperti apa dampaknya nanti saat dipadukan dengan efek visual di tahap pascaproduksi,” jelas Fatih.
Yasamin menambahkan seluruh pemain menghadapi tantangan yang hampir sama, baik dari sisi drama maupun adegan horor. Menurutnya, kekuatan cerita Paket Santet justru terletak pada keseimbangan antara unsur drama dan horor.
“Horor juga harus ditopang oleh drama yang kuat supaya penonton percaya dengan dunia yang sedang dibangun. Dengan begitu, ketegangan dan rasa takut yang ingin disampaikan bisa terasa lebih nyata,” tutup Yasamin.
Film Paket Santet dijadwalkan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026, menghadirkan kisah teror santet yang dikirim melalui sebuah paket misterius dengan balutan drama keluarga dan ketegangan psikologis.
Artikel Terkait
Darius Sinathrya Bersyukur Anak-anak Makin Mandiri Selama Menimba Ilmu dan Berkarier Sepak Bola di Portugal
Yasamin Jasem Akui Percaya Santet karena Cerita dari Orang Terdekat
Azela Putri dan Fatih Unru Bangun Chemistry Kakak-Adik di Film Horor Paket Santet
Betrand Peto Beri Dukungan Penuh untuk Ruben Onsu di Tengah Polemik Gugatan Hak Asuh