Citraselebriti – Di lepas pantai selatan China berdiri salah satu proyek infrastruktur paling ambisius di dunia, Jembatan Hong Kong–Zhuhai–Makau (Hong Kong–Zhuhai–Macao Bridge/HZMB). Jalur penyeberangan sepanjang sekitar 55 kilometer ini menghubungkan Hong Kong, Makau, dan Kota Zhuhai melalui kombinasi jembatan, pulau buatan, serta terowongan bawah laut.
Proyek tersebut dibangun untuk mengatasi tantangan geografis di kawasan Delta Sungai Mutiara (Pearl River Delta), salah satu jalur pelayaran dan pusat ekonomi tersibuk di dunia. Sebelum HZMB beroperasi, perjalanan darat antara Zhuhai dan Hong Kong dapat memakan waktu hampir empat jam karena harus memutar mengelilingi delta atau menggunakan kapal feri yang bergantung pada kondisi cuaca.
Kini, waktu tempuh tersebut dapat dipangkas menjadi kurang dari 30 menit, sehingga mempercepat mobilitas orang maupun distribusi barang di kawasan tersebut.
Salah satu keunikan HZMB adalah desainnya yang menggabungkan jembatan dengan terowongan bawah laut sepanjang sekitar 6,7 kilometer. Saat melintasi jalur pelayaran utama, jalan raya tidak lagi berada di atas laut, melainkan masuk ke dalam terowongan yang berada di dasar laut sehingga kapal-kapal kontainer berukuran raksasa tetap dapat melintas tanpa hambatan.
Terowongan tersebut dibangun menggunakan 33 segmen beton raksasa dengan berat sekitar 80.000 ton per segmen. Seluruh bagian diproduksi di darat, kemudian diapungkan ke lokasi sebelum diturunkan ke dasar laut dan disambungkan dengan tingkat presisi yang sangat tinggi agar kedap air.
Untuk menghubungkan jembatan dengan terowongan, para insinyur juga membangun dua pulau buatan di tengah laut. Pulau tersebut dibentuk menggunakan sekitar 120 silinder baja berdiameter besar yang ditanam ke dasar laut sebelum diisi material penguat hingga membentuk fondasi yang kokoh.
Selain menghadapi kondisi dasar laut yang lunak, proyek ini juga dirancang untuk menghadapi berbagai ancaman alam. Struktur HZMB diklaim mampu bertahan terhadap gempa bumi berkekuatan hingga magnitudo 8, terpaan topan super, serta benturan kapal kargo berbobot ratusan ribu ton.
Dalam proses pembangunannya, proyek ini menggunakan lebih dari 400.000 ton baja dan sekitar 1 juta meter kubik beton. Pengerjaannya berlangsung sekitar sembilan tahun dengan melibatkan puluhan ribu pekerja, insinyur, penyelam, dan tenaga konstruksi.
Para penyelam memiliki peran penting dalam memasang serta menyegel setiap segmen terowongan di bawah laut. Mereka bekerja dalam kondisi visibilitas rendah dengan arus laut yang kuat untuk memastikan setiap sambungan terpasang secara presisi.
Meski dipuji sebagai pencapaian teknik sipil, proyek HZMB juga menuai kritik selama masa pembangunan. Sejumlah pihak menyoroti persoalan keselamatan kerja, pembengkakan biaya, hingga dampaknya terhadap habitat lumba-lumba putih China yang hidup di kawasan Delta Sungai Mutiara.
Sebagai respons, tim proyek menerapkan sejumlah langkah mitigasi, termasuk penyesuaian jadwal pemancangan fondasi dan pemantauan lingkungan untuk mengurangi gangguan terhadap ekosistem laut.
Terlepas dari berbagai kontroversi, HZMB kini diakui sebagai salah satu pencapaian terbesar dalam bidang teknik sipil modern. Kombinasi jembatan, pulau buatan, dan terowongan bawah laut dalam satu sistem sepanjang 55 kilometer menjadikannya salah satu proyek infrastruktur paling kompleks yang pernah dibangun.
Selain menjadi ikon rekayasa modern, HZMB juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan dengan mempercepat konektivitas antara Hong Kong, Makau, dan Zhuhai, sehingga memperkuat integrasi kawasan Delta Sungai Mutiara sebagai salah satu pusat ekonomi terbesar di dunia.
Artikel Terkait
OH YOOJIN Rilis Single Baru “What’s Up, Fox?”, Tampilkan Pesona Ceria dengan Sentuhan Pop Ceria
Sony Xperia 1 IX Dirumorkan Hadir dengan Kamera 200 MP dan Layar Tanpa Bezel
Resep Salmon Panggang dengan Kentang Tumbuk, Menu Lezat dan Praktis untuk Keluarga
iPhone 18 Pro Dirumorkan Hadir dengan Aperture Variabel dan Chip A20 Pro 2 nm