Citraselebriti– Jepang, negara yang pernah dikenal sebagai pelopor robot humanoid dunia, kini menghadapi kenyataan baru. Pada ajang Robot Technology Japan 2026 Expo di Nagoya, hampir seluruh robot humanoid yang dipamerkan untuk kebutuhan industri justru berasal dari China, sementara perusahaan Jepang lebih banyak menampilkan robot industri konvensional dan teknologi otomatisasi.
Pameran yang diikuti lebih dari 270 perusahaan dengan hampir 1.400 stan tersebut memperlihatkan perubahan besar dalam peta persaingan industri robot global. Robot humanoid asal China hadir dengan berbagai kemampuan praktis, mulai dari membagikan popcorn kepada pengunjung, menyortir barang, hingga menjalankan tugas kompleks hanya melalui perintah suara.
Salah satu yang menarik perhatian adalah Atom Max dari Dobot. Robot ini mampu mempelajari gerakan melalui demonstrasi satu kali, kemudian mengulanginya secara mandiri dengan tingkat presisi mencapai 0,05 milimeter, setara dengan lebar sehelai rambut manusia. Teknologi tersebut bahkan dapat diterapkan pada berbagai jenis robot lain milik perusahaan, termasuk robot industri yang bekerja di bawah air.
Robot lain, Ali dari LimX Dynamics, juga menjadi sorotan berkat sistem kecerdasan buatan yang mampu memahami konteks, mengingat beberapa instruksi sekaligus, mengenali objek, lalu menyelesaikan serangkaian tugas secara berurutan tanpa perlu diprogram ulang setiap langkahnya.
Jepang Fokus pada Robot Industri
Berbeda dengan China yang agresif mengembangkan robot humanoid, perusahaan Jepang justru lebih banyak memperlihatkan inovasi di bidang robot industri.
Kawasaki Heavy Industries, misalnya, menampilkan sistem robot kolaboratif yang mampu bekerja sama mengecat komponen secara otomatis. Sementara perusahaan lain menghadirkan manipulator dengan teknologi force feedback, memungkinkan operator merasakan hambatan atau tekanan dari robot yang dikendalikan dari jarak jauh.
Satu-satunya robot humanoid Jepang yang tampil di pameran adalah robot milik Toyota. Namun robot tersebut hanya mempertontonkan kemampuan bermain basket, bukan menjalankan pekerjaan industri sebagaimana robot-robot asal China.
Strategi Jepang Berbeda Sejak 2018
Fenomena ini bukan terjadi secara tiba-tiba. Pada 2018, Honda resmi menghentikan pengembangan ASIMO, robot humanoid legendaris yang selama dua dekade menjadi simbol kemajuan teknologi Jepang.
Alih-alih melanjutkan pengembangan robot humanoid komersial, Honda mengalihkan teknologi tersebut untuk menciptakan robot avatar yang dikendalikan dari jarak jauh. Sistem tersebut dirancang membantu manusia melakukan pekerjaan berisiko tinggi dengan dukungan kecerdasan buatan.
Pendekatan serupa juga diterapkan berbagai perusahaan dan lembaga riset Jepang. Mereka lebih memilih mengembangkan robot untuk sektor-sektor yang membutuhkan tingkat akurasi tinggi, seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, penelitian ilmiah, luar angkasa, hingga layanan kesehatan.
Digunakan di Fukushima hingga Laboratorium
Salah satu contoh nyata adalah lengan robot sepanjang 22 meter yang digunakan dalam proyek pembersihan reaktor nuklir Fukushima Daiichi. Robot tersebut bertugas mengambil sampel material radioaktif dari dalam reaktor yang tidak mungkin dimasuki manusia karena tingkat radiasi yang sangat tinggi.
Di bidang penelitian, robot humanoid Maholo LabDroid kini digunakan di Tokyo Institute of Science untuk melakukan eksperimen laboratorium secara otomatis sepanjang malam. Robot tersebut mampu menggunakan peralatan laboratorium standar tanpa perlu modifikasi khusus dan diklaim dapat mempercepat proses penemuan obat baru.
Sementara itu, startup Jepang GITAI mengembangkan robot untuk misi luar angkasa, termasuk proyek lengan robot di Stasiun Luar Angkasa Internasional dan kendaraan penjelajah Bulan.
China Unggul dalam Produksi Massal
Keunggulan China dinilai berasal dari rantai pasok industri yang sudah matang berkat perkembangan sektor kendaraan listrik dan drone. Negara tersebut mampu memproduksi ribuan robot humanoid dengan biaya lebih rendah, kemudian mengujinya langsung di pabrik, gudang, hingga berbagai lingkungan kerja nyata.
Pada 2026, China diperkirakan menguasai sekitar 80–90 persen produksi robot humanoid dunia. Sejumlah perusahaan seperti Unitree bahkan telah mencapai titik keuntungan, sementara produsen lain terus memperluas pasar internasional.
Jepang Siapkan Investasi AI Robot
Meski terlihat tertinggal dalam perlombaan robot humanoid, Jepang belum menyerah. Pemerintah menargetkan 10 juta robot berbasis AI beroperasi pada 2040 dengan dukungan investasi lebih dari 4 miliar dolar AS.
Fokus utama Jepang adalah membangun sistem kecerdasan buatan yang dapat digunakan pada berbagai jenis robot, baik untuk sektor industri, layanan kesehatan, hingga perawatan lansia.
Toyota Research Institute juga menjadi salah satu pemain penting dalam pengembangan kecerdasan buatan robot. Lembaga ini bahkan bekerja sama dengan Boston Dynamics untuk mengembangkan model perilaku AI pada robot humanoid Atlas.
Dua Pendekatan Berbeda
Saat China berlomba memproduksi robot humanoid dalam jumlah besar dan Amerika Serikat fokus membangun perusahaan bernilai miliaran dolar, Jepang justru memilih strategi berbeda.
Negeri Sakura lebih mengutamakan pengembangan teknologi robot untuk aplikasi berisiko tinggi yang membutuhkan keandalan maksimal, meski hasilnya tidak selalu menjadi perhatian publik.
Pendekatan tersebut memunculkan pertanyaan besar di industri robotika global: apakah Jepang benar-benar tertinggal dalam perlombaan robot humanoid, atau justru sedang mempersiapkan fondasi teknologi yang akan menjadi penentu masa depan ketika pasar robot memasuki tahap yang lebih matang.
Artikel Terkait
OH YOOJIN Rilis Single Baru “What’s Up, Fox?”, Tampilkan Pesona Ceria dengan Sentuhan Pop Ceria
Sony Xperia 1 IX Dirumorkan Hadir dengan Kamera 200 MP dan Layar Tanpa Bezel
Resep Salmon Panggang dengan Kentang Tumbuk, Menu Lezat dan Praktis untuk Keluarga
iPhone 18 Pro Dirumorkan Hadir dengan Aperture Variabel dan Chip A20 Pro 2 nm