Citraselebriti- Dunia penerbangan tengah bersiap menyambut konsep pesawat yang berbeda dari desain komersial pada umumnya. Startup asal California, Jet Zero, mengembangkan pesawat berbadan lebar dengan konsep blended wing body yang menggabungkan badan pesawat dan sayap menjadi satu kesatuan.
Konsep tersebut sebenarnya bukan teknologi baru. Bentuk pesawat seperti ini telah dipelajari selama hampir delapan dekade. Namun, keterbatasan teknologi penerbangan pada masa lalu membuat konsep tersebut sulit diwujudkan menjadi pesawat komersial.
Jet Zero kini berupaya membawa desain tersebut menuju layanan penerbangan komersial pada awal dekade 2030-an. Perusahaan bahkan telah membangun fasilitas produksi di North Carolina dan mengembangkan prototipe berukuran penuh di kawasan Mojave, California.
Mengubah Bentuk Pesawat Konvensional
Sebagian besar pesawat penumpang saat ini menggunakan desain tube and wing, yakni badan pesawat berbentuk tabung dengan sayap yang terpasang di sisi badan serta ekor di bagian belakang.
Pada desain tersebut, badan pesawat pada dasarnya tidak menghasilkan banyak gaya angkat. Sebagian besar gaya angkat dihasilkan oleh sayap, sehingga pesawat harus membawa struktur badan yang sekaligus menambah hambatan udara.
Konsep blended wing body mencoba menghilangkan batas antara badan dan sayap. Badan pesawat dibuat lebih lebar dan menyatu dengan sayap sehingga hampir seluruh struktur pesawat dapat menghasilkan gaya angkat.
Jet Zero menyebut desain yang mereka kembangkan sebagai “all-wing”. Menurut perusahaan, pendekatan tersebut berpotensi mengurangi konsumsi bahan bakar secara signifikan dibandingkan pesawat tube and wing.
Jet Zero menargetkan rasio lift-to-drag sekitar 22. Perusahaan juga menyebut potensi pengurangan konsumsi bahan bakar dan emisi sekitar 20 persen dibandingkan pesawat modern dengan ukuran dan misi yang sebanding, sementara klaim penghematan hingga sekitar 50 persen dikaitkan dengan perbandingan terhadap pesawat generasi lebih tua yang hendak digantikan.
Konsep yang Pernah Dianggap Terlalu Berisiko
Gagasan mengenai pesawat tanpa badan konvensional sebenarnya sudah muncul sejak era 1940-an. Salah satu tokoh penting dalam sejarahnya adalah Jack Northrop, yang mengembangkan konsep flying wing.
Salah satu proyek paling ambisiusnya adalah Northrop YB-49, pesawat bomber bertenaga jet yang melakukan penerbangan perdana pada 1947.
Pesawat tersebut memiliki rentang sayap sekitar 172 kaki dan menawarkan karakteristik aerodinamika yang menjanjikan. Namun, teknologi kendali penerbangan saat itu belum mampu mengatasi persoalan stabilitas secara efektif.
Tanpa ekor konvensional, pesawat membutuhkan koreksi kendali secara terus-menerus agar tetap stabil. Pada 1948, salah satu prototipe YB-49 mengalami kecelakaan saat pengujian dan seluruh awak di dalamnya tewas. Program tersebut kemudian dihentikan.
Kini, persoalan stabilitas tersebut dapat ditangani menggunakan teknologi fly-by-wire. Sistem ini menggunakan komputer untuk menerjemahkan perintah pilot sekaligus melakukan koreksi terhadap permukaan kendali pesawat secara sangat cepat.
Teknologi tersebut menjadi salah satu alasan pesawat dengan konfigurasi flying wing, seperti bomber B-2 Spirit, dapat beroperasi secara stabil.
NASA dan Boeing Pernah Mengujinya
Konsep blended wing body kembali mendapat perhatian pada era modern. Pada 1990-an, para insinyur McDonnell Douglas, termasuk Robert Liebeck, mengembangkan rancangan yang bertujuan meningkatkan efisiensi aerodinamika.
Setelah McDonnell Douglas bergabung dengan Boeing pada 1997, penelitian tersebut terus berlanjut.
NASA dan Boeing kemudian mengembangkan berbagai pesawat demonstrator, termasuk keluarga X-48. Pesawat nirawak tersebut digunakan untuk menguji karakteristik penerbangan blended wing body.
Antara 2007 hingga 2013, berbagai varian X-48 melakukan lebih dari 100 penerbangan pengujian. Hasilnya menunjukkan bahwa konsep tersebut dapat diterbangkan secara terkendali sekaligus menawarkan keuntungan aerodinamika.
Namun, Boeing pada akhirnya tidak melanjutkan konsep tersebut untuk pesawat penumpang komersial.
Sejumlah tantangan menjadi pertimbangan, termasuk desain kabin yang sangat lebar, persoalan jendela bagi penumpang yang duduk jauh dari garis tengah, proses pressurisasi kabin, serta kebutuhan membangun kembali sistem manufaktur yang berbeda dari pesawat konvensional.
Airbus juga telah mempelajari konsep serupa, tetapi belum membawa desain blended wing body ke tahap produksi pesawat penumpang komersial.
Jet Zero Kembangkan Z4
Jet Zero didirikan pada 2021 dan salah satu pendirinya memiliki pengalaman langsung dalam pengembangan X-48. Perusahaan tersebut kemudian mengembangkan pesawat komersial bernama Z4.
Z4 dirancang untuk membawa sekitar 250 penumpang dengan jarak jelajah sekitar 5.000 mil laut. Pesawat tersebut menyasar segmen middle of the market, yang selama ini menjadi ruang antara pesawat berbadan sempit dan berbadan lebar.
Pesawat dirancang untuk melaju pada kecepatan sekitar Mach 0,8 dan dapat menggunakan bahan bakar jet konvensional maupun campuran sustainable aviation fuel.
Jet Zero juga menargetkan Z4 dapat menggunakan fasilitas bandara yang sudah tersedia sehingga tidak membutuhkan perubahan besar pada infrastruktur airport gate.
Prototipe Berukuran Penuh Dibangun di Mojave
Sebelum Z4 dapat membawa penumpang, Jet Zero harus membuktikan kemampuan desain tersebut melalui prototipe berukuran penuh.
Demonstrator yang dikenal sebagai Jet E1 sedang dikembangkan di Mojave, California, oleh Scaled Composites, perusahaan yang merupakan bagian dari Northrop Grumman.
Prototipe tersebut memiliki rentang sayap sekitar 178 hingga 185 kaki dengan bobot kotor sekitar 260.000 pon, menjadikannya kurang lebih sekelas Boeing 757 dalam ukuran.
Untuk pengujian awal, Jet E1 menggunakan dua mesin Pratt & Whitney PW2040, keluarga mesin yang juga digunakan pada Boeing 757. Pendekatan ini memungkinkan Jet Zero menguji desain badan pesawat tanpa harus sekaligus mengembangkan mesin baru.
Jet Zero menargetkan penerbangan perdana demonstrator tersebut pada akhir 2027.
Desain prototipe juga masih mengalami penyempurnaan. Pada 2026, Jet Zero mengungkap perubahan pada bagian ekor dengan mengganti rancangan rudder di ujung sayap menjadi konfigurasi V-tail yang dipadukan dengan winglet.
Mulai Mendapat Dukungan Militer dan Maskapai
Proyek Jet Zero juga mendapat perhatian dari sektor militer dan industri penerbangan.
Pada 2023, Angkatan Udara Amerika Serikat memberikan kontrak senilai sekitar 235 juta dolar ASuntuk pembangunan dan pengujian demonstrator berukuran penuh.
Konsep blended wing body dinilai menarik untuk kebutuhan militer karena dapat digunakan sebagai basis pesawat tanker maupun transportasi dengan potensi efisiensi bahan bakar yang besar.
Dukungan kemudian datang dari industri penerbangan komersial. Alaska Airlines berinvestasi melalui unit venturanya pada 2024.
Pada 2025, United Airlines mengumumkan kesepakatan bersyarat untuk membeli hingga 100 pesawat, dengan opsi tambahan hingga 100 unit, bergantung pada pencapaian sejumlah target pengembangan Jet Zero.
Delta Air Lines juga terlibat dalam memberikan masukan terkait kebutuhan operasional dan desain kabin. Secara keseluruhan, sekitar 14 maskapai disebut telah bergabung dalam kelompok kerja untuk memberikan masukan terhadap pengembangan pesawat tersebut.
Pada awal 2026, Jet Zero juga memperoleh pendanaan sekitar 175 juta dolar AS dari sejumlah investor, termasuk United dan Northrop Grumman.
Bangun Pabrik Sebelum Pesawat Terbang
Langkah besar lainnya dilakukan Jet Zero dengan pembangunan fasilitas produksi pertamanya di Greensboro, North Carolina.
Fasilitas tersebut direncanakan memiliki luas sekitar 8 juta kaki persegi, yang menjadikannya salah satu fasilitas manufaktur pesawat terbesar jika terealisasi sesuai rencana.
Keputusan membangun pabrik sebelum prototipe berukuran penuh melakukan penerbangan perdana menunjukkan besarnya taruhan Jet Zero terhadap konsep tersebut.
Namun, tantangan yang dihadapi perusahaan juga tidak kecil. Sertifikasi pesawat penumpang baru merupakan proses panjang dan kompleks. Selain persoalan teknis, Jet Zero harus membuktikan bahwa kabin yang jauh lebih lebar dapat memberikan pengalaman nyaman bagi penumpang.
Persoalan lain seperti posisi jendela, sensasi saat pesawat melakukan manuver, struktur kabin bertekanan, hingga biaya produksi juga harus dibuktikan secara nyata.
Komitmen maskapai yang ada saat ini pun masih bergantung pada keberhasilan Jet Zero mencapai berbagai tahapan pengembangan.
Meski demikian, teknologi yang mendasari konsep tersebut kini jauh lebih matang dibandingkan era Jack Northrop. Sistem fly-by-wire telah berkembang, pengujian X-48 telah memberikan data penerbangan nyata, sementara tekanan industri untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan emisi semakin besar.
Jika berhasil, Jet Zero bukan hanya memperkenalkan pesawat baru, tetapi juga berpotensi mengubah kembali bentuk dasar pesawat penumpang yang selama puluhan tahun hampir tidak berubah.
Z4 kini menjadi proyek yang menarik untuk diamati. Penerbangan perdana pada akhir 2027 akan menjadi salah satu tonggak penting untuk mengetahui apakah konsep blended wing body benar-benar siap meninggalkan laboratorium dan masuk ke era baru penerbangan komersial.
Artikel Terkait
Jet Zero Siapkan Pesawat Blended Wing Body, Janjikan Efisiensi Bahan Bakar hingga 50 Persen
“MADAM: BON VOYAGE” Hadirkan Kisah Pembunuh Legendaris yang Ingin Jalani Hidup Normal
Oseng Ati Ampela Pedas, Gurih dan Bikin Nagih, Cocok Disantap dengan Nasi Hangat
Mengintip Kehidupan Masyarakat Nepal di Bawah Bayang-Bayang Gunung Everest