Tempat Paling Terisolasi di Dunia, dari Desa di Himalaya hingga Permukiman Beku Siberia

- Rabu, 19/08/2026
Tempat Paling Terisolasi di Dunia, dari Desa di Himalaya hingga Permukiman Beku Siberia
Sebagian terisolasi oleh pegunungan

Citraselebriti- Di berbagai penjuru dunia, masih ada komunitas yang hidup jauh dari hiruk-pikuk peradaban modern. Sebagian terisolasi oleh pegunungan, lautan, iklim ekstrem, hingga kondisi geografis yang membuat perjalanan keluar-masuk menjadi sangat sulit.

Bagi sebagian orang, keberadaan dokter, kendaraan, jalan raya, hingga kemudahan bepergian merupakan hal biasa. Namun di tempat-tempat terpencil, semua fasilitas tersebut bisa menjadi kemewahan.

Menariknya, meski hidup dalam keterbatasan, masyarakat di kawasan-kawasan tersebut tetap memilih bertahan karena tempat itu telah menjadi rumah dan bagian dari identitas mereka.

Salah satunya adalah Klaksvík, Kepulauan Faroe. Kota yang dikenal sebagai salah satu pusat utama Kepulauan Faroe ini dahulu hampir sepenuhnya terputus dari dunia luar. Klaksvík berada di antara dua pulau dan membentuk kawasan seperti huruf U di sepanjang fjord sempit.

Selama berabad-abad, kapal feri menjadi sarana utama untuk bepergian. Namun badai Atlantik Utara kerap membuat layanan terhenti selama berhari-hari. Kondisi tersebut berubah pada 2006 setelah sebuah terowongan sepanjang sekitar 3,9 mil atau 6,3 kilometer dibuka di bawah dasar laut, sehingga akses menuju Klaksvík menjadi jauh lebih mudah.

Aogashima, Jepang

Di Laut Filipina terdapat Aogashima, pulau vulkanik yang secara administratif berada di bawah Tokyo. Pulau ini memiliki kawah vulkanik raksasa yang mengelilingi gunung berapi lebih kecil.

Permukiman berada di dalam lembah hijau yang dikelilingi tebing curam menuju laut. Akses kapal juga tidak mudah karena ombak besar sering membuat kapal penumpang dan kargo gagal berlabuh.

Populasinya hanya sekitar 160 hingga 170 orang. Setelah letusan besar pada 1785 menewaskan sekitar separuh penduduk, para penyintas dan keturunannya kembali beberapa dekade kemudian karena keterikatan dengan tanah leluhur dan kehidupan yang tenang.

Ushguli, Georgia

Di kawasan Pegunungan Kaukasus terdapat Ushguli, wilayah yang kerap dijuluki sebagai salah satu permukiman tertinggi di Eropa.

Lebih dari 200 menara batu Svan yang dibangun berabad-abad lalu masih berdiri di lereng pegunungan. Dahulu, lemahnya jangkauan pemerintah membuat setiap keluarga menjadikan rumah mereka sebagai benteng untuk menghadapi serangan, konflik, serigala, dan cuaca ekstrem.

Pada musim dingin, terutama antara November hingga April, salju tebal dapat menutup jalur pegunungan sehingga Ushguli nyaris terputus dari dunia luar selama berbulan-bulan.

Chukotka, Rusia

Chukotka merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Rusia. Untuk memasuki kawasan tertentu di wilayah ini, wisatawan membutuhkan izin khusus dari pemerintah Rusia.

Wilayahnya sangat luas, tetapi tidak memiliki jaringan jalan raya atau kereta api yang menghubungkannya dengan sebagian besar wilayah Rusia. Banyak masyarakat masih mengandalkan kereta luncur dan rusa kutub untuk bepergian.

Musim dingin dapat berlangsung hampir 10 bulan dengan suhu yang turun sangat ekstrem. Tanah yang membeku sepanjang tahun juga membuat aktivitas pertanian hampir mustahil dilakukan.

Masyarakat Chukchi secara tradisional bergantung pada perburuan paus, walrus, dan rusa kutub. Sebagian masih tinggal di rumah tradisional berbentuk tenda yang dikenal sebagai yaranga dan dilapisi kulit rusa untuk menahan dingin.

Tlyaratinsky, Dagestan

Jauh di Pegunungan Kaukasus, Rusia, terdapat Distrik Tlyaratinsky yang terkenal karena medan pegunungannya yang ekstrem.

Banyak desa hanya terhubung melalui jalan tanah sempit di sisi gunung. Saat musim dingin atau terjadi longsor, akses tersebut dapat tertutup selama berhari-hari.

Masyarakat Avar yang tinggal di kawasan ini secara turun-temurun banyak menggantungkan hidup pada peternakan domba. Beberapa desa juga masih menghadapi keterbatasan internet dan akses menuju kota terdekat yang dapat memakan waktu seharian.

Fontainhas, India

Berbeda dengan wilayah lain yang terisolasi oleh alam, Fontainhas di Panaji, Goa, India, seolah terpisah dari dunia modern karena mempertahankan suasana masa lalu.

Kawasan ini dipenuhi rumah bergaya Portugis yang dibangun sejak abad ke-18. Bangunan berwarna kuning, biru, dan merah tanah berdiri di sepanjang gang sempit berbatu.

Fontainhas juga mempertahankan karakter arsitektur tradisional dengan larangan pembangunan gedung tinggi di kawasan bersejarah tersebut.

Atule’er, China

Di Provinsi Sichuan, China, terdapat desa Atule’er yang pernah dikenal sebagai “desa di atas awan”.

Selama puluhan tahun, satu-satunya akses menuju desa adalah melalui rangkaian tangga rotan yang menempel di tebing dengan ketinggian sekitar 2.600 kaki atau hampir 800 meter.

Penduduk harus menggunakan tangga tersebut untuk membawa makanan, perlengkapan rumah tangga hingga material bangunan. Setelah kisah kehidupan mereka mendapat perhatian luas di China, pemerintah mengganti tangga rotan dengan sistem tangga baja yang lebih aman.

Jamestown, Saint Helena

Jamestown berada di Pulau Saint Helena, sebuah wilayah terpencil di Atlantik Selatan yang dahulu dikenal sebagai tempat pengasingan Napoleon Bonaparte.

Kota ini berada di lembah sempit yang dikelilingi tebing vulkanik curam. Sekitar 4.000 penduduk menjalani kehidupan yang relatif tenang dan jauh dari pusat transportasi dunia.

Selama hampir 500 tahun, pulau ini hanya dapat dicapai menggunakan kapal dari Afrika Selatan. Penerbangan komersial baru dimulai pada 2017, tetapi kondisi angin masih dapat mengganggu akses menuju pulau.

Palmerston Island, Kepulauan Cook

Palmerston Island merupakan atol kecil di Pasifik yang hampir seluruh penduduknya merupakan keturunan langsung seorang pria Inggris yang menetap di sana pada abad ke-19.

Pulau ini tidak memiliki bank, pasar, maupun toko serba ada. Masyarakat lebih banyak mengandalkan pertukaran barang dan hubungan erat antarkeluarga.

Perjalanan laut dari Rarotonga dapat memakan waktu sekitar dua hari dan sangat bergantung pada kondisi laut.

Gásadalur, Kepulauan Faroe

Desa Gásadalur dahulu benar-benar terisolasi karena berada di balik pegunungan. Selama berabad-abad, satu-satunya akses keluar-masuk adalah jalur curam melewati tebing dan kabut.

Surat serta kebutuhan pokok harus dikirim menggunakan helikopter atau dibawa melintasi pegunungan.

Kondisi berubah pada 2004 setelah sebuah terowongan dibangun menembus gunung. Meski akses semakin mudah, populasi Gásadalur tetap sangat kecil, hanya sekitar 16 orang.

Lokasinya yang berdampingan dengan Air Terjun Múlafossur membuat desa ini menjadi salah satu tempat yang paling banyak difoto di kawasan Eropa Utara.

Nueva Venecia, Kolombia

Di Kolombia terdapat komunitas unik bernama Nueva Venecia, yang berada di tengah rawa Ciénaga Grande de Santa Marta.

Rumah-rumah masyarakat dibangun di atas tiang kayu yang menancap ke dasar rawa. Tidak ada jalan raya, sehingga hampir seluruh aktivitas dilakukan menggunakan perahu.

Rumah-rumah kayu berwarna cerah berdiri di atas perairan, sementara kehidupan masyarakat sangat bergantung pada ikan dan udang yang tersedia di ekosistem rawa.

Pyramiden, Svalbard

Pyramiden merupakan permukiman bekas tambang batu bara Soviet di kepulauan Svalbard, Norwegia.

Dahulu ribuan pekerja dan keluarganya tinggal di sana. Bahkan, Pyramiden memiliki fasilitas seperti kolam renang, teater, dan perpustakaan.

Namun setelah tambang ditutup pada 1998, sebagian besar penduduk meninggalkan kota tersebut hampir dalam waktu bersamaan. Banyak barang ditinggalkan begitu saja, termasuk furnitur, piano, hingga patung Lenin.

Kini Pyramiden menjadi kota hantu yang menarik wisatawan karena bangunan-bangunan kosongnya berdiri di tengah lanskap Arktik.

Oymyakon, Siberia

Di Yakutia, Siberia, Rusia, terdapat Oymyakon, yang dikenal sebagai salah satu permukiman permanen terdingin di dunia.

Saat musim dingin ekstrem, penduduk harus mengenakan pakaian berlapis-lapis untuk melindungi tubuh dari suhu yang sangat rendah.

Masyarakat tetap bertahan dengan mengandalkan perburuan, peternakan rusa, serta menangkap ikan melalui lubang yang dibuat pada sungai beku.

Bahkan proses pemakaman menjadi tantangan. Tanah yang membeku sangat keras harus dicairkan secara bertahap menggunakan api selama beberapa hari sebelum lubang makam dapat digali.

Lamayuru, India

Lembah Lamayuru di kawasan Himalaya Ladakh sering dijuluki “bulan” karena lanskapnya yang tandus dan menyerupai permukaan planet lain.

Di tengah lembah tersebut berdiri Lamayuru Monastery yang menempel di sisi tebing. Desa kecil di bawahnya bertahan dalam kondisi yang sangat kering dan sulit ditanami.

Pada musim dingin, longsoran salju dapat menutup Srinagar-Leh Highway sehingga kawasan ini terputus dari dunia luar selama berbulan-bulan.

Korowai, Papua

Di pedalaman Papua terdapat masyarakat Korowai yang secara tradisional dikenal membangun rumah sangat tinggi di atas pepohonan.

Rumah-rumah tersebut dapat berdiri puluhan meter dari permukaan tanah. Ketinggian bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari strategi bertahan hidup untuk menghindari banjir, serangga, dan ancaman tertentu.

Kontak dengan dunia luar baru terjadi secara intensif pada dekade 1970-an. Kehidupan masyarakat secara tradisional sangat bergantung pada sagu yang menjadi sumber makanan sekaligus bahan untuk kebutuhan sehari-hari.

Konso, Ethiopia

Di dataran tinggi Ethiopia, Konso tampak seperti benteng yang dikelilingi lapisan tembok batu.

Masyarakat Konso dahulu berpindah ke dataran tinggi untuk melindungi diri dari konflik. Kondisi tanah yang tandus kemudian mendorong mereka mengembangkan sistem terasering batu untuk mempertahankan air dan memungkinkan pertanian.

Masyarakat juga memiliki sistem penanda waktu tradisional menggunakan tiang kayu yang diperbarui secara berkala untuk menandai pergantian generasi kepemimpinan.

Ittoqqortoormiit, Greenland

Ittoqqortoormiit merupakan salah satu kota paling terpencil di Greenland. Penduduknya hanya sekitar 350 orang dan kawasan ini berada di dekat sistem fjord terbesar di dunia.

Komunitas tersebut didirikan pada 1925 oleh masyarakat Inuit dari Greenland bagian barat dan secara tradisional bergantung pada perburuan anjing laut, paus, serta satwa Arktik lainnya.

Akses ke kota hanya dapat dilakukan melalui pesawat kecil atau kapal pada waktu tertentu. Ketika laut membeku, kondisi es mengendalikan hampir seluruh aktivitas masyarakat.

Karimabad, Pakistan

Karimabad berada di Lembah Hunza dan dikelilingi pegunungan tinggi. Wilayah ini dahulu hampir sepenuhnya terpisah dari dunia luar.

Masyarakat masih mempertahankan sistem pertanian terasering dengan tanaman seperti aprikot, apel, dan kenari.

Karimabad juga dikenal dengan bahasa Burushaski, bahasa yang hingga kini tidak memiliki hubungan yang telah terbukti dengan keluarga bahasa lain.

Saat musim dingin, longsoran salju dan es dapat menghalangi akses melalui jalur pegunungan.

La Rinconada, Peru

Di Pegunungan Andes, sekitar 16.700 kaki atau lebih dari 5.000 meter di atas permukaan laut, terdapat La Rinconada, salah satu permukiman permanen tertinggi di dunia.

Sekitar puluhan ribu orang tinggal di kawasan dengan udara tipis dan suhu dingin tersebut. Infrastruktur dasar seperti air bersih, sanitasi, dan pengelolaan sampah juga sangat terbatas.

Alasan utama masyarakat datang adalah pertambangan emas. Populasi kota berkembang pesat seiring meningkatnya aktivitas pertambangan.

Phugtal Gompa, India

Phugtal Gompa merupakan kompleks biara Buddha yang menempel di tebing curam di kawasan Zanskar, Himalaya India.

Sekitar 70 biksu tinggal dan belajar di tempat tersebut. Bangunan-bangunannya terlihat seperti sarang lebah raksasa yang menggantung di atas Sungai Lungnak.

Sumber air utama berasal dari mata air alami di dalam gua. Pada musim dingin, perjalanan menuju lokasi dapat memerlukan waktu berhari-hari dengan berjalan kaki melewati ngarai pegunungan.

Wae Rebo, Indonesia

Di Flores, Nusa Tenggara Timur, terdapat Wae Rebo, desa adat yang berada di lembah berkabut pada ketinggian lebih dari 1.000 meter.

Di pusat desa berdiri rumah adat berbentuk kerucut yang dikenal sebagai Mbaru Niang. Bangunan-bangunan tersebut menjadi salah satu simbol penting kebudayaan masyarakat Manggarai.

Warga banyak bergantung pada perkebunan kopi Arabika. Akses menuju Wae Rebo tidak mudah karena pengunjung harus berjalan kaki selama beberapa jam melewati hutan tropis, sungai, dan jalur menanjak.

Maasai, Kenya dan Tanzania

Masyarakat Maasai di Kenya dan Tanzania mempertahankan gaya hidup nomaden yang membuat mereka tidak terlalu bergantung pada fasilitas perkotaan.

Permukiman tradisional atau boma dibangun dari lumpur, kotoran sapi, dan ranting. Ketika musim berubah, komunitas dapat berpindah mengikuti sumber air dan padang penggembalaan.

Sapi menjadi pusat kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai sumber makanan tetapi juga sebagai simbol kekayaan, status sosial, dan bagian dari tradisi pernikahan.

Longyearbyen, Svalbard

Longyearbyen memiliki aturan unik terkait pemakaman. Karena tanah yang membeku membuat jasad sulit terurai, pemakaman baru sudah lama tidak dilakukan di kawasan tersebut.

Kota ini mengalami empat bulan musim dingin tanpa matahari, kemudian memasuki periode musim panas ketika siang dan malam hampir tidak dibedakan karena matahari terus terlihat.

Beruang kutub juga kerap muncul di sekitar wilayah tersebut sehingga masyarakat harus berhati-hati ketika meninggalkan kawasan permukiman.

Di bawah pegunungan beku Svalbard terdapat Global Seed Vault yang menyimpan benih dari berbagai negara sebagai cadangan untuk menghadapi ancaman terhadap ketahanan pangan dunia.

Tristan da Cunha

Tristan da Cunha merupakan salah satu contoh ekstrem keterisolasian manusia. Kepulauan ini berada jauh di tengah Atlantik Selatan dan tidak memiliki bandara komersial.

Hampir seluruh kebutuhan masyarakat harus dipesan jauh-jauh hari dan dikirim menggunakan kapal yang jumlah kedatangannya sangat terbatas.

Karena tidak ada jalur transportasi reguler, keterlambatan satu kapal saja dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Socotra, Yaman

Pulau Socotra sering disebut seperti dunia lain karena telah terisolasi selama jutaan tahun.

Lanskapnya dipenuhi tanaman unik, termasuk pohon darah naga atau dragon’s blood tree yang memiliki bentuk seperti payung raksasa.

Masyarakat lokal masih mempertahankan kehidupan tradisional melalui peternakan kambing dan pengumpulan resin pohon darah naga.

Kondisi politik Yaman serta minimnya penerbangan internasional membuat perjalanan menuju Socotra menjadi sangat terbatas.

Iqaluit, Kanada

Iqaluit berada di tepi Samudra Arktik dan tidak memiliki jaringan jalan atau kereta api yang menghubungkannya dengan wilayah lain di Amerika Utara.

Pasokan masyarakat bergantung pada pesawat dan kapal. Kapal hanya dapat masuk pada periode musim panas ketika es laut mencair.

Saat musim dingin berlangsung berbulan-bulan dan suhu turun sangat rendah, laut membeku dan masyarakat mengandalkan kendaraan salju serta kereta luncur anjing untuk bergerak.

Undredal, Norwegia

Undredal merupakan komunitas kecil di Norwegia yang dihuni sekitar 100 orang.

Desa ini berada di lembah sempit yang dikelilingi pegunungan dan fjord. Hingga 1988, kawasan tersebut belum memiliki akses jalan kendaraan.

Kondisi geografis membuat masyarakat memilih memelihara kambing yang mampu beradaptasi dengan lereng terjal. Jumlah kambing bahkan jauh lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk.

Kehidupan di Undredal pun masih berlangsung dengan ritme sederhana, bergantung pada peternakan, alam, dan kondisi lingkungan.

Berbagai tempat tersebut menunjukkan bahwa keterisolasian tidak selalu berarti kehidupan harus berakhir. Sebaliknya, masyarakat di lokasi-lokasi terpencil justru mengembangkan cara hidup yang sesuai dengan lingkungan mereka.

Bagi sebagian orang, meninggalkan tempat tersebut mungkin berarti mencari kehidupan yang lebih mudah. Namun bagi mereka yang telah menjadikannya rumah, keterbatasan geografis justru menjadi bagian dari identitas dan alasan untuk tetap bertahan.

Tags

Artikel Terkait

Terkini