• Minggu, 23/08/2026

Menelusuri Desa-Desa Terbengkalai di Berbagai Penjuru Dunia, dari Italia hingga Indonesia

- Sabtu, 22/08/2026
 Menelusuri Desa-Desa Terbengkalai di Berbagai Penjuru Dunia, dari Italia hingga Indonesia
permukiman yang ditinggalkan akibat bencana alam

Citraselebriti- Di berbagai penjuru dunia, terdapat desa dan kota yang dahulu dipenuhi kehidupan, tetapi kini berubah menjadi kawasan sunyi dengan rumah-rumah kosong dan jalanan yang nyaris tanpa penghuni.

Penyebabnya pun beragam. Ada permukiman yang ditinggalkan akibat bencana alam, ada yang kehilangan penduduk karena lokasi yang terlalu terpencil, sementara sebagian lainnya sengaja dikosongkan karena perubahan ekonomi, pembangunan bendungan, hingga kondisi lingkungan yang dianggap tidak lagi aman.

Menariknya, banyak kawasan terbengkalai tersebut justru berada di lokasi dengan pemandangan alam yang luar biasa.

Salah satunya adalah Castrovalva di Abruzzo, Italia. Desa yang berdiri di atas tebing curam ini memiliki rumah-rumah batu yang mengikuti kontur lereng gunung. Selama berabad-abad, masyarakatnya hidup dari pertanian dan peternakan.

Namun, memasuki abad ke-20, akses yang sulit dan terbatasnya peluang ekonomi membuat penduduk mulai meninggalkan desa. Kini, Castrovalva jauh lebih sunyi dibandingkan masa kejayaannya.

Kisah serupa terjadi di Sewell, kota pertambangan di Chile. Permukiman ini dibangun pada awal abad ke-20 untuk para pekerja tambang tembaga. Karena berada di lereng yang sangat curam, Sewell memiliki desain unik dengan tangga besar sebagai salah satu jalur utama.

Pada masa kejayaannya, kota tersebut memiliki rumah, sekolah, rumah sakit, bioskop, dan berbagai fasilitas umum. Namun, setelah industri tembaga mengalami perubahan dan penduduk dipindahkan ke wilayah lain, Sewell kehilangan hampir seluruh penghuninya.

Di Turki, Halfeti menjadi contoh lain bagaimana pembangunan dapat mengubah sebuah permukiman. Sebagian kawasan lama Halfeti terendam setelah pembangunan bendungan menyebabkan air waduk memenuhi wilayah tersebut.

Salah satu bagian yang masih terlihat adalah menara masjid yang berdiri di atas permukaan air. Ironisnya, kawasan yang dahulu menjadi simbol kehilangan kini justru menjadi tujuan wisata dengan perahu yang melintas di atas permukiman lama.

Di Italia, Pentedattilo juga menyimpan kisah panjang. Desa ini berdiri di lereng Gunung Calvario dan memiliki formasi batu yang menyerupai telapak tangan raksasa. Gempa bumi yang berulang serta perubahan kehidupan ekonomi membuat penduduk perlahan meninggalkan desa tersebut.

Sementara itu, Calcata menawarkan kisah berbeda. Desa yang berdiri di atas batu vulkanik ini sempat dianggap berbahaya karena kondisi batuan di bawahnya. Penduduk kemudian meninggalkan kawasan tersebut.

Namun, pada 1970-an, para seniman dan kaum hippie mulai menempati rumah-rumah kosong. Calcata akhirnya kembali hidup dan kini dihuni oleh komunitas seniman, pengrajin, serta intelektual dari berbagai negara.

Bencana alam juga menjadi penyebab utama hilangnya sebuah permukiman. Di Meksiko, kawasan San Juan Parangaricutiro pernah menjadi desa pertanian hingga munculnya gunung berapi Parícutin pada 1943.

Aliran lava akhirnya mencapai desa pada 1944 dan menelan hampir seluruh permukiman. Salah satu bangunan yang bertahan adalah gereja, dengan menaranya yang masih terlihat di antara hamparan lava yang mengeras.

Di China, desa Houtouwan di Pulau Shengshan menjadi salah satu desa terbengkalai paling terkenal. Dahulu, lebih dari 2.000 orang tinggal di kawasan tersebut sebagai komunitas nelayan.

Namun, akses yang sulit dan menurunnya peluang ekonomi membuat penduduk pergi. Kini rumah-rumah kosong di Houtouwan perlahan diselimuti tanaman hijau sehingga desa tersebut tampak seperti ditelan alam.

Italia juga memiliki Craco, kota tua yang berdiri di atas bukit sempit. Longsor pada 1963 membuat sebagian penduduk harus meninggalkan rumah. Kondisi semakin buruk setelah gempa bumi 1980.

Kini Craco menjadi kota hantu dengan bangunan tua, rumah, gereja, dan peninggalan sejarah yang masih berdiri di atas bukit tandus.

Ada pula Civita di Bagnoregio, Italia, yang kerap dijuluki sebagai kota yang sekarat. Desa ini berdiri di atas bukit batu yang terus mengalami erosi dan hanya dapat dicapai melalui jembatan pejalan kaki.

Meski jumlah penduduk tetapnya sangat sedikit, Civita justru ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada musim panas.

Di Yunani, Vathia dikenal dengan rumah-rumah menaranya yang dahulu berfungsi sebagai simbol kekuatan keluarga sekaligus bagian dari sistem pertahanan masyarakat. Perubahan ekonomi membuat penduduk meninggalkan kehidupan pertanian di pegunungan dan berpindah ke kota-kota besar.

Sementara itu, Granadilla di Spanyol ditinggalkan setelah pembangunan waduk mengubah akses dan lahan di sekitarnya. Penduduk terakhir meninggalkan desa pada 1960-an. Kini, kawasan tersebut dipugar dan menjadi peninggalan sejarah dengan kastil abad ke-15 yang masih berdiri.

Di Italia, Amendolea Vecchia juga menjadi saksi perubahan zaman. Banjir Sungai Amendolea pada 1951 merusak kawasan tersebut. Lokasi yang terpencil dan kesulitan ekonomi kemudian mendorong semakin banyak penduduk pergi.

Dari Eropa, kisah desa terbengkalai juga ditemukan di Timur Tengah. Al Madam di Uni Emirat Arab merupakan permukiman yang perlahan ditelan pasir gurun. Rumah-rumah beton dan sebuah masjid kecil menjadi sisa kehidupan masyarakat yang dahulu tinggal di sana.

Jepang memiliki Hashima, atau Gunkanjima, yang dahulu merupakan kota pertambangan batu bara di sebuah pulau kecil. Pada 1959, sekitar 5.000 orang tinggal di pulau tersebut.

Namun, peralihan Jepang dari batu bara ke minyak membuat pertambangan semakin tidak menguntungkan. Penduduk akhirnya pergi dan Hashima berubah menjadi pulau kosong dengan bangunan beton yang terbengkalai.

Di Oman, kawasan tua Al Hamra berusia sekitar 400 tahun. Modernisasi membuat banyak penduduk pindah ke rumah-rumah baru yang lebih nyaman. Meski demikian, bangunan-bangunan lama masih bertahan dan menjadi bagian dari warisan sejarah kawasan tersebut.

Sementara di Spanyol, Belchite Viejo menjadi pengingat dahsyatnya Perang Saudara Spanyol. Pertempuran pada 1937 menghancurkan hampir seluruh kota. Pemerintah kemudian membangun kota baru di sebelahnya dan membiarkan kota lama tetap menjadi reruntuhan.

Di Yunani terdapat Spinalonga, pulau yang memiliki sejarah panjang dan kelam. Pada 1903, pulau tersebut dijadikan koloni khusus bagi penderita kusta. Selama puluhan tahun, ratusan orang hidup terisolasi dan membangun komunitas sendiri.

Setelah pengobatan kusta berkembang, pasien terakhir dipindahkan pada 1957. Spinalonga kemudian berubah menjadi situs bersejarah.

Di Rusia, Amuzgi merupakan desa pegunungan yang dibangun mengikuti lereng dengan rumah-rumah bertingkat. Desa ini dahulu dikenal karena keterampilan masyarakatnya mengolah logam.

Namun, kebijakan pemindahan penduduk pada era Soviet membuat Amuzgi perlahan kehilangan penghuni.

Di Sisilia, Italia, Poggioreale Vecchia ditinggalkan setelah gempa dahsyat pada 1968 menghancurkan kawasan tersebut. Penduduk dipindahkan ke permukiman baru, sementara kota lama dibiarkan kosong.

Di Yunani, Anavatos berdiri di atas puncak batu dan menyerupai benteng alami. Gempa besar pada 1881 serta kondisi geografis yang sulit membuat penduduk perlahan meninggalkan desa tersebut.

Indonesia juga memiliki kawasan yang menyimpan kisah serupa. Curah Kobokan di lereng Gunung Semeru, Jawa Timur, pernah menjadi kawasan permukiman dan aktivitas masyarakat.

Namun, erupsi Semeru pada 4 Desember 2021 menyebabkan awan panas guguran meluncur dari lereng gunung dan menutupi kawasan tersebut dengan material vulkanik. Setelah bencana, wilayah berisiko tinggi tersebut tidak lagi dianggap aman sebagai permukiman.

Di Italia, Celleno Vecchia menghadapi masalah erosi dan pergerakan tanah. Penduduk akhirnya pindah ke kawasan yang lebih stabil dan meninggalkan rumah-rumah batu yang kini menjadi peninggalan sejarah.

Di Spanyol, Ruesta pernah menjadi bagian dari jalur penting menuju Santiago de Compostela. Pembangunan bendungan menghilangkan sebagian lahan pertanian dan mengubah kehidupan masyarakat. Desa ini akhirnya ditinggalkan pada 1962.

Namun, Ruesta perlahan kembali hidup setelah sejumlah bangunan dipugar dan digunakan untuk menyambut para peziarah.

Di Kapadokia, Turki, Çavuşin memiliki rumah-rumah yang dipahat langsung ke dalam batu vulkanik. Kondisi batu yang tidak stabil kemudian membuat penduduk meninggalkan sebagian kawasan lama dan pindah ke permukiman baru.

Sementara Tiermas di Spanyol mengalami perubahan akibat pembangunan waduk. Desa yang sejak zaman Romawi dikenal dengan sumber air panasnya tersebut akhirnya kehilangan rumah dan lahannya setelah kawasan terdampak genangan.

Di Sardinia, Italia, Tratalias menghadapi persoalan kelembapan dan sanitasi setelah pembangunan waduk. Meski kehidupan lama berakhir, sejumlah bangunan kemudian dipugar dan dimanfaatkan sebagai kawasan sejarah dan budaya.

Di Pulau Korfu, Yunani, Paleá Perítheia pernah menjadi permukiman besar yang dihuni ratusan orang. Ancaman bajak laut pada masa lalu membuat masyarakat memilih tinggal di pegunungan. Namun, pada abad ke-20, penduduk kembali turun menuju wilayah pesisir untuk mendapatkan peluang ekonomi yang lebih baik.

Di Namibia, Kolmanskop menjadi simbol kota yang ditelan gurun. Permukiman tersebut berkembang setelah penemuan berlian dan memiliki arsitektur bergaya Eropa. Ketika hasil tambang menurun, penduduk pergi dan pasir perlahan menutupi rumah-rumahnya.

Di wilayah Arktik, Pyramiden merupakan bekas kota pertambangan batu bara yang pernah dihuni sekitar 1.400 orang. Tambang akhirnya ditutup pada 1998 dan penduduk dievakuasi. Suhu ekstrem membuat sejumlah bangunan dan benda peninggalan di kota tersebut relatif terawetkan.

Di Kalabria, Italia, Roghudi Vecchio ditinggalkan setelah banjir berulang Sungai Amendolea membuat kehidupan masyarakat semakin berbahaya. Pemerintah kemudian memerintahkan pemindahan penduduk secara permanen pada 1973.

Amerika Serikat juga memiliki peninggalan permukiman kuno seperti Cliff Palace di Mesa Verde, Colorado. Permukiman yang dibangun masyarakat leluhur penduduk asli Amerika tersebut akhirnya ditinggalkan setelah kekeringan panjang menyebabkan pertanian semakin sulit.

Di Sardinia, Gairo Vecchio mengalami nasib serupa akibat longsor yang dipicu hujan deras pada 1951. Ketika kondisi semakin berbahaya, penduduk dipindahkan ke kawasan yang lebih aman.

Sementara Baiados Tigres di Angola menjadi contoh desa nelayan yang terisolasi akibat perubahan geografis dan badai. Setelah hubungan dengan daratan utama terputus, penduduk dievakuasi secara bertahap hingga kawasan tersebut akhirnya kosong dan perlahan ditelan pasir.

Di Belgia, Doel menjadi desa terbengkalai yang memiliki kisah berbeda. Rencana perluasan Pelabuhan Antwerpen membuat pemerintah berencana mengosongkan kawasan tersebut. Sebagian penduduk pergi, tetapi sejumlah bangunan masih berdiri dan kini menjadi ruang unik yang dipenuhi karya grafiti.

Di Italia, Fossa mengalami kerusakan besar akibat gempa bumi Abruzzo pada 2009. Banyak bangunan menjadi tidak stabil sehingga penduduk dievakuasi dan kawasan tersebut dibatasi.

Di California, Amerika Serikat, Bodie berkembang sebagai kota tambang emas pada akhir abad ke-19. Ribuan orang pernah tinggal di sana, lengkap dengan hotel, toko, sekolah, gereja, dan berbagai fasilitas.

Ketika hasil tambang menurun, penduduk pergi. Kini Bodie menjadi kota hantu yang relatif terawat dengan bangunan dan berbagai benda peninggalan yang masih dibiarkan berada di tempatnya.

Di Turki, Kayaköy ditinggalkan setelah pertukaran penduduk antara Yunani dan Turki pada 1923. Dahulu dihuni ribuan masyarakat Kristen Ortodoks berbahasa Yunani, kini kawasan tersebut hanya menyisakan ratusan bangunan batu dan gereja tua.

Di Gurun Atacama, Chile, Humberstone menjadi peninggalan industri pertambangan kalium nitrat. Kota tersebut pernah memiliki ribuan penduduk, rumah pekerja, rumah sakit, sekolah, hotel, teater, pasar, gereja, hingga kolam renang.

Setelah industri tersebut tidak lagi menguntungkan, Humberstone ditinggalkan. Kawasan itu kemudian juga pernah digunakan sebagai kamp tahanan politik setelah kudeta militer Chile pada 1973.

Di Colorado, Amerika Serikat, St. Elmo merupakan salah satu kota hantu yang paling terawat. Kota ini berkembang setelah penemuan emas dan perak, tetapi kemudian kehilangan penduduk seiring menurunnya aktivitas pertambangan dan dihentikannya layanan kereta api.

Sementara di Yunani, terdapat Dionysos Resort Village, sebuah proyek wisata yang dibangun pada akhir 1990-an. Kawasan tersebut dirancang sebagai kompleks liburan dengan apartemen, kolam renang, toko, dan berbagai fasilitas.

Namun, persoalan keuangan, pengelolaan, dan lingkungan membuat proyek tersebut tidak berkembang sesuai rencana. Sebagian besar bangunan akhirnya kosong dan mulai ditumbuhi tanaman.

Deretan desa dan kota terbengkalai tersebut menunjukkan bahwa sebuah permukiman dapat berubah karena banyak faktor, mulai dari bencana alam, perubahan ekonomi, modernisasi, perang, pembangunan infrastruktur, hingga perpindahan penduduk.

Meski kehidupan di dalamnya telah berakhir, bangunan-bangunan yang tersisa tetap menyimpan cerita tentang masyarakat yang pernah tinggal, bekerja, membangun keluarga, dan menjalani kehidupan di tempat-tempat tersebut. Kini, sebagian menjadi situs sejarah dan tujuan wisata, sementara lainnya perlahan kembali menjadi bagian dari alam.

Tags

Artikel Terkait

Terkini