Citraselebriti- Konsep pesawat blended wing body (BWB) atau pesawat dengan desain badan dan sayap yang menyatu diprediksi mulai memasuki era penerbangan komersial pada awal 2030-an. Namun, sebelum membawa penumpang, teknologi ini justru diperkirakan lebih dulu digunakan untuk mengangkut kargo dan kebutuhan militer.
Berbeda dari pesawat komersial konvensional yang memiliki bentuk tabung dengan sayap terpisah, blended wing body memiliki badan pesawat yang melebar dan menyatu dengan sayap. Bentuknya menyerupai manta ray yang sedang melayang di udara.
Sejumlah maskapai bahkan telah menunjukkan ketertarikan terhadap teknologi tersebut. Salah satu maskapai besar Amerika Serikat disebut telah menandatangani kesepakatan yang mencakup pembelian hingga 200 unit pesawat, sementara maskapai dari Asia dan Timur Tengah juga terlibat dalam kelompok penasihat pengembangan teknologi tersebut.
Keunggulan utama desain BWB terletak pada efisiensi aerodinamika. Pada pesawat konvensional, sebagian besar badan pesawat berfungsi sebagai wadah bertekanan dan hampir tidak menghasilkan daya angkat. Sementara pada blended wing body, seluruh badan dan sayap menjadi satu permukaan penghasil daya angkat.
Dengan konsep tersebut, konsumsi bahan bakar berpotensi turun signifikan. Salah satu pengembang di California memperkirakan efisiensi bahan bakar hingga 50 persen per penumpang-mile dibandingkan pesawat konvensional dengan ukuran serupa. Sementara pengembangan versi kargo diklaim dapat menghemat sekitar 30 persen bahan bakar sekaligus menyediakan kapasitas volumetrik hingga 40 persen lebih besar.
Konsep tersebut sebenarnya bukan teknologi baru. NASA dan Boeing telah melakukan pengujian blended wing body melalui pesawat riset X-48.
Pada 2007 hingga 2013, X-48 melakukan lebih dari 120 penerbangan uji dari Edwards Air Force Base, California. Pesawat tanpa ekor tersebut digunakan untuk menguji kemampuan BWB dalam berbagai kondisi, termasuk pengendalian pada kecepatan rendah, kondisi kegagalan mesin saat lepas landas, hingga pemulihan dari kondisi stall.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa secara aerodinamika, konsep blended wing body dapat dikendalikan dan diterbangkan.
Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika pesawat tersebut harus membawa manusia.
Salah satu persoalan utama adalah sistem kabin bertekanan. Badan pesawat berbentuk silinder dinilai ideal untuk menahan tekanan karena beban dapat tersebar secara merata pada struktur. Sebaliknya, kabin BWB yang lebar dan relatif datar membutuhkan penguatan struktur tambahan.
Penguatan tersebut berpotensi menambah bobot pesawat dan pada akhirnya mengurangi sebagian keuntungan efisiensi bahan bakar yang menjadi alasan utama penggunaan desain BWB.
Masalah berikutnya adalah evakuasi penumpang. Pesawat komersial harus memenuhi ketentuan keselamatan yang mengharuskan seluruh penumpang dapat dievakuasi dalam waktu 90 detik dalam kondisi tertentu.
Pada pesawat konvensional, bentuk kabin yang sempit membuat penumpang relatif dekat dengan pintu darurat. Sementara pada BWB, kabin yang jauh lebih lebar membuat penumpang di bagian tengah berada lebih jauh dari sisi pesawat.
Sejumlah solusi untuk jalur evakuasi, penempatan pintu, hingga posisi tangki bahan bakar juga dapat menambah bobot, biaya, dan kompleksitas struktur.
Selain itu, kenyamanan penumpang menjadi tantangan tersendiri. Penumpang yang duduk jauh dari garis tengah pesawat berpotensi merasakan gerakan naik-turun yang lebih besar ketika pesawat melakukan manuver berbelok. Posisi jendela juga menjadi persoalan karena tidak semua penumpang dapat memiliki akses langsung ke jendela seperti pada pesawat konvensional.
Kondisi tersebut membuat kargo menjadi pilihan paling logis sebagai tahap awal pengembangan.
Kargo tidak membutuhkan jendela, tidak memerlukan proses evakuasi 90 detik, dan tidak merasakan kenyamanan penerbangan. Bahkan dalam rancangan tertentu, ruang kargo tidak selalu membutuhkan tingkat tekanan seperti kabin penumpang.
Salah satu perusahaan asal San Diego telah mengembangkan BWB sejak awal sebagai pesawat kargo regional. Pesawat tersebut dirancang memiliki bobot sekitar 19.000 pound, bentang sayap 85 kaki dan menggunakan dua mesin turboprop.
Pesawat itu ditargetkan mampu membawa sekitar 3,8 ton kargo hingga jarak sekitar 900 nautical mile.
Prototype skala kecil telah melakukan penerbangan pada April 2023 setelah melalui pengujian terowongan angin selama bertahun-tahun. Sementara penerbangan pertama versi penuh ditargetkan berlangsung pada 2027 atau awal 2028.
Perusahaan tersebut juga menyiapkan fasilitas produksi seluas sekitar 250.000 kaki persegi dengan target produksi hingga 60 pesawat kargo per tahun.
Setelah versi kargo berhasil membuktikan kemampuan desain tersebut, arsitektur yang sama direncanakan dikembangkan menjadi pesawat penumpang berkapasitas sekitar 200 orang untuk pasar awal 2030-an.
Dengan demikian, pesawat kargo bukan sekadar produk sampingan. Pesawat tersebut menjadi semacam laboratorium terbang untuk mengumpulkan data aerodinamika, pengalaman manufaktur, serta membangun kepercayaan regulator sebelum teknologi digunakan untuk mengangkut penumpang.
Pengembangan blended wing body juga mendapat dukungan dari sektor militer Amerika Serikat.
Pada 2023, Angkatan Udara Amerika Serikat memberikan kontrak senilai sekitar 235 juta dolar AS untuk membangun demonstrator BWB skala penuh. Pesawat tersebut tengah dikembangkan di kawasan Mojave dengan bentang sayap sekitar 185 kaki dan ditargetkan melakukan penerbangan perdana pada akhir 2027.
Menariknya, bagian yang nantinya dapat digunakan sebagai kabin penumpang tidak sepenuhnya diperlakukan sebagai kabin pada pesawat demonstrator. Hanya kokpit yang dibuat bertekanan, sementara area belakangnya digunakan untuk membawa bahan bakar.
Konsep tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi BWB dapat terlebih dahulu diuji sebagai pesawat pengangkut bahan bakar dan kargo sebelum digunakan sebagai pesawat penumpang.
Untuk kebutuhan militer, desain BWB juga berpotensi memberikan keuntungan besar pada pesawat tanker. Karena seluruh badan pesawat dapat menghasilkan daya angkat, pesawat tanker berbasis BWB diproyeksikan mampu membawa lebih banyak bahan bakar atau menempuh jarak lebih jauh dibandingkan tanker konvensional.
Pengembangan tersebut sekaligus memperlihatkan pola yang telah terjadi dalam sejarah penerbangan. Sejumlah teknologi revolusioner sebelumnya memang lebih dahulu berkembang melalui kebutuhan militer dan kargo sebelum akhirnya digunakan oleh maskapai komersial.
Boeing 747, misalnya, memiliki hubungan erat dengan kebutuhan pesawat angkut militer berukuran besar pada era 1960-an. Sementara teknologi mesin jet juga lebih dahulu berkembang melalui penerbangan militer sebelum akhirnya membawa penumpang dalam jumlah besar.
Kini, blended wing body tampaknya mengikuti pola serupa.
Perusahaan yang fokus mengembangkan versi penumpang disebut telah menggalang pendanaan sekitar 175 juta dolar AS dan mulai membangun fasilitas produksi berukuran sekitar 8 juta kaki persegi di North Carolina pada Juni 2026.
Perusahaan tersebut juga menjajaki pembiayaan hingga 3 miliar dolar AS melalui lembaga pembiayaan ekspor pemerintah Amerika Serikat dan tengah mempersiapkan proses sertifikasi tipe.
Jika seluruh jadwal berjalan sesuai rencana, akhir dekade 2020-an akan menjadi periode penting bagi teknologi ini. Pesawat BWB versi kargo dapat mulai mengumpulkan jam terbang, sementara demonstrator militer menjalani serangkaian pengujian di udara.
Memasuki awal 2030-an, pengalaman dari penerbangan kargo dan militer diharapkan dapat menjadi fondasi bagi lahirnya pesawat penumpang BWB.
Dengan begitu, ketika penumpang akhirnya membuka pintu dan memasuki kabin pesawat berbentuk lebar tersebut, teknologi yang terlihat revolusioner itu sebenarnya sudah melewati proses pengujian bertahun-tahun.
Bukan penumpang yang menjadi pelopor. Kargo dan bahan bakar justru diperkirakan menjadi muatan pertama yang membuktikan bahwa blended wing body layak terbang.
Strategi tersebut menunjukkan satu hal penting dalam pengembangan pesawat baru: tantangan terbesar bukan selalu membuat pesawat bisa terbang, melainkan memastikan pesawat tersebut cukup aman untuk membawa ratusan manusia.
Kargo tidak membutuhkan pintu evakuasi dalam 90 detik. Kargo tidak membutuhkan jendela. Kargo juga tidak akan mempersoalkan kenyamanan ketika pesawat melakukan manuver.
Karena itu, sebelum era baru penerbangan penumpang benar-benar dimulai, kemungkinan besar dunia akan terlebih dahulu menyaksikan pesawat blended wing body bekerja secara diam-diam mengangkut barang dan bahan bakar.
Ketika akhirnya penumpang naik pada 2030-an, bentuk pesawat yang terlihat asing itu mungkin sudah bukan lagi eksperimen. Ia telah terbukti melalui ribuan jam penerbangan—satu kotak kargo dan satu muatan bahan bakar pada satu waktu.
Artikel Terkait
BCL dan Josh Flo Hadirkan “Terpesona Hadirmu”, Lagu Cinta tentang Seseorang yang Tak Tergantikan
Mawar de Jongh Hadirkan Lagu “Kan”, Gambarkan Nasihat untuk Sahabat yang Terlalu Jatuh Cinta
Pesawat Blended Wing Diprediksi Terbang Bawa Kargo Sebelum Angkut Penumpang
Tetangga Ungkap Ketakutan terhadap Brian Hickerson setelah Kematian Hayden Panettiere