Citraselebriti– Dunia penerbangan terus berkembang dengan hadirnya berbagai konsep pesawat futuristik yang menawarkan teknologi elektrifikasi, kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal atau VTOL, hingga sistem penerbangan otonom.
Berbagai pesawat tersebut tidak hanya dirancang untuk transportasi penumpang, tetapi juga menyasar kebutuhan logistik, pertahanan, misi maritim, hingga penerbangan pribadi. Berikut 15 pesawat dan kendaraan udara yang tengah mendorong batas teknologi penerbangan.
1. LOD Hilly
LOD Hilly merupakan pesawat VTOL hybrid-electric otonom yang dikembangkan LOD di Abu Dhabi untuk kebutuhan transportasi kargo jarak menengah.
Pesawat ini dirancang beroperasi tanpa landasan konvensional. Hilly memiliki bobot lepas landas maksimum 1.411 kilogram dan mampu membawa kargo hingga 250 kilogram.
Jangkauannya diklaim mencapai 700 kilometer dengan cadangan waktu terbang 30 menit. Kecepatan jelajahnya mencapai 100 knot dan kecepatan maksimum 120 knot.
Hilly dilengkapi ruang kargo berkapasitas 2,7 meter kubik yang dapat menampung dua Euro Pallet. Sistem otonomnya mendukung penerbangan otomatis, optimasi rute, penghindaran rintangan, hingga pengelolaan muatan.
2. Anduril YFQ-44A Fury
YFQ-44A Fury merupakan pesawat tempur otonom yang dikembangkan Anduril untuk program Collaborative Combat Aircraft milik Angkatan Udara Amerika Serikat.
Fury dirancang beroperasi bersama pesawat tempur berawak maupun menjalankan misi secara mandiri. Pesawat ini memiliki kecepatan hingga Mach 0,95 dan dirancang memiliki kemampuan manuver setara pesawat tempur.
Penggunaan mesin jet yang tersedia secara komersial serta sistem modular ditujukan untuk mempercepat produksi dan mempermudah pemeliharaan.
Sistem otonominya dapat menjalankan rencana misi, mengendalikan penerbangan, mengatur throttle, hingga kembali untuk melakukan pendaratan dengan operator tetap melakukan pengawasan.
3. Wisk Generation 6
Wisk Generation 6 merupakan pesawat VTOL bertenaga listrik yang dirancang untuk transportasi udara perkotaan secara otonom.
Pesawat ini mampu membawa empat penumpang tanpa pilot di dalam kabin. Penerbangan diawasi oleh operator dari darat.
Generation 6 menggunakan 12 baling-baling, terdiri dari enam unit yang dapat melakukan tilting di bagian depan dan enam unit pengangkat tetap di belakang sayap.
Wisk menyebut pesawat tersebut memiliki jarak jelajah sekitar 90 mil atau 145 kilometer dengan cadangan, serta kecepatan jelajah 120 knot.
Penerbangan perdana Generation 6 dilakukan pada Desember 2025 dan mencakup lepas landas vertikal, hovering, serta manuver stabilisasi.
4. Elroy Air Chaparral
Elroy Air Chaparral merupakan pesawat VTOL hybrid-electric otonom yang dikembangkan untuk pengiriman kargo tanpa membutuhkan bandara atau landasan konvensional.
Pesawat ini dapat membawa lebih dari 500 pound atau sekitar 227 kilogram kargo, memiliki jarak maksimum sekitar 450 mil dan kecepatan jelajah 115 knot.
Sistem propulsinya menggabungkan turbo-generator dengan baterai. Delapan baling-baling digunakan untuk menghasilkan daya angkat, sementara empat baling-baling lainnya membantu penerbangan jelajah.
Chaparral juga menggunakan modul kargo yang dapat dipersiapkan sebelum penerbangan. Pada 2025, pesawat ini berhasil mendemonstrasikan transisi otonom dari penerbangan vertikal ke penerbangan menggunakan sayap dan melakukan pengiriman kargo point-to-point.
5. EHang VT35
EHang VT35 merupakan pesawat VTOL listrik tanpa pilot yang dikembangkan untuk perjalanan penumpang jarak lebih jauh, termasuk rute antarkota, lintas laut, dan lintas pegunungan.
Pesawat menggunakan konfigurasi lift-and-cruise dengan delapan baling-baling untuk penerbangan vertikal dan satu baling-baling belakang untuk penerbangan ke depan.
EHang menargetkan kecepatan jelajah ekonomis minimal 216 km/jam, jarak jelajah dengan muatan penuh minimal 200 kilometer, endurance 60 menit, serta payload minimal 200 kilogram.
Sistem otonomnya mencakup navigasi point-to-point, penghindaran rintangan, pengawasan jarak jauh, dan sistem kontrol penerbangan redundan.
6. Volant V2100 Skylar
Volant V2100 atau Skylar merupakan pesawat VTOL listrik berukuran besar yang dikembangkan Volant Aerotech untuk transportasi penumpang dan berbagai aplikasi penerbangan jarak rendah.
Pesawat memiliki bentang sayap 16 meter, panjang badan 9,5 meter, dan bobot lepas landas maksimum 2.500 kilogram.
Skylar dirancang membawa hingga enam orang dengan payload komersial 500 kilogram. Jarak jelajahnya berada di kisaran 200 hingga 400 kilometer dengan kecepatan jelajah 235 km/jam.
Delapan motor listrik digunakan untuk menggerakkan pesawat melalui sistem propulsi multi-redundan.
7. Regent Viceroy Seaglider
Regent Viceroy Seaglider merupakan kendaraan maritim listrik yang menggabungkan karakteristik kapal, hidrofoil, dan pesawat.
Kendaraan ini dapat beroperasi dalam tiga mode, yakni mengapung menggunakan lambung, melaju menggunakan hydrofoil, kemudian terbang rendah di atas permukaan air menggunakan efek ground effect.
Viceroy mampu membawa hingga 12 penumpang atau payload sekitar 3.500 pound. Kendaraan ini memiliki panjang 55 kaki, bentang sayap 65 kaki, kecepatan maksimum hingga 180 mph, dan jarak tempuh hingga 180 mil dalam sekali pengisian daya.
Viceroy dirancang beroperasi sepenuhnya di atas air dan dapat melakukan lepas landas maupun pendaratan dalam kondisi gelombang hingga sekitar 5 kaki.
8. Volocopter Volo X Pro
Volo X Pro merupakan pesawat listrik VTOL berukuran kecil yang dikembangkan Volocopter untuk penerbangan pribadi dan profesional.
Pesawat ultraringan ini memiliki konfigurasi dua tempat duduk berdampingan dan menggunakan 18 unit propulsi listrik.
Bobot lepas landas maksimumnya mencapai 600 kilogram dengan payload hingga 154 kilogram. Kecepatan jelajahnya sekitar 70 km/jam dengan jarak maksimum hingga 40 kilometer, tergantung konfigurasi baterai.
Volo X Pro ditujukan untuk olahraga udara, sekolah penerbangan, klub terbang, wisata udara, serta sejumlah layanan penerbangan profesional.
9. BRM B23-915
BRM B23-915 merupakan pesawat dua tempat duduk berperforma tinggi yang menggunakan mesin turbocharged Rotax 915iS bertenaga 141 hp.
Pesawat ini memiliki konfigurasi low-wing dengan roda pendaratan tricycle tetap dan dirancang untuk pelatihan, touring, serta penerbangan rekreasi.
Kecepatan maksimumnya mencapai 150 knot atau sekitar 278 km/jam, sementara kecepatan jelajahnya 136 knot. Jangkauan standar mencapai 340 nautical miles dengan bobot lepas landas maksimum 750 kilogram.
B23-915 juga dilengkapi sistem parasut untuk keselamatan seluruh pesawat.
10. Tecnam P2016T
Tecnam P2016T merupakan pesawat bermesin ganda dengan empat tempat duduk yang dirancang untuk pelatihan penerbangan, touring, dan berbagai kebutuhan general aviation.
Pesawat menggunakan konfigurasi high-wing, roda pendaratan tricycle yang dapat ditarik, serta dua mesin Rotax 912S3 yang masing-masing menghasilkan tenaga 100 hp.
Kecepatan jelajah maksimumnya mencapai 145 knot dengan jarak jelajah hingga 1.100 nautical miles dan service ceiling 17.000 kaki.
Konfigurasi mesin ganda membuatnya cocok digunakan untuk pelatihan multi-engine, sementara versi modifikasinya dapat digunakan untuk misi pengawasan dan maritim.
11. Archer Halo
Archer Halo merupakan pesawat VTOL otonom yang dikembangkan Archer Aviation dan Anduril untuk misi pengangkutan jarak jauh dan kebutuhan transportasi khusus.
Diperkenalkan pada Juli 2026, Halo dirancang lepas landas secara vertikal dan terbang tanpa pilot di dalam pesawat.
Pesawat menggunakan sistem propulsi series-hybrid electric dengan dual tilt rotor. Ruang muat modular memungkinkan Halo digunakan untuk pengangkutan barang, dukungan industri energi lepas pantai, bantuan kemanusiaan, pengiriman medis, hingga operasi maritim.
Desainnya juga memungkinkan pesawat diangkut menggunakan kontainer pengiriman standar sehingga lebih fleksibel untuk dikerahkan.
12. Shield AI XBAT
XBAT dari Shield AI merupakan pesawat VTOL otonom yang dirancang untuk misi ekspedisi dan maritim ketika landasan konvensional tidak tersedia.
Pesawat menggunakan sistem otonomi Hivemind milik Shield AI untuk mendukung operasi di lingkungan yang menantang.
XBAT ditargetkan memiliki jarak jelajah lebih dari 2.000 nautical miles dengan muatan misi penuh. Pesawat dapat dikembangkan untuk berbagai misi, termasuk serangan, counter-air, electronic warfare, serta intelligence, surveillance and reconnaissance.
Sistem Hivemind dirancang memungkinkan penerbangan otonom dalam kondisi komunikasi terganggu dan GPS yang mengalami degradasi.
13. H2X X1
H2X X1 merupakan demonstrator pesawat listrik bertenaga baterai yang dikembangkan untuk menguji teknologi pesawat regional ES-30 di masa depan.
Pada Agustus 2026, X1 melakukan penerbangan perdana di Plattsburgh International Airport, New York.
Pesawat memiliki bentang sayap sekitar 106 kaki, panjang 76 kaki, dan bobot lepas landas lebih dari 25.000 pound. Empat motor listrik yang terpasang pada sayap mendapatkan tenaga sepenuhnya dari baterai dan menghasilkan lebih dari 1 megawatt dalam penerbangan perdana.
X1 bukan pesawat komersial untuk penumpang, melainkan platform uji terbang untuk pengembangan ES-30 berkapasitas sekitar 30 penumpang.
14. Skyfly Axe
Skyfly Axe merupakan pesawat listrik dua tempat duduk yang menggabungkan kemampuan VTOL dengan efisiensi pesawat bersayap tetap.
Pesawat menggunakan delapan motor listrik yang menggerakkan empat baling-baling. Baterai yang dapat dilepas ditempatkan di dalam badan pesawat.
Skyfly menyebut Axe memiliki jarak tempuh sekitar 100 mil, kecepatan jelajah 100 mph, serta kapasitas payload hingga 200 kilogram.
Pesawat ini telah menjalani pengujian hovering dan penerbangan fixed-wing, termasuk pengujian sirkuit dan stall di ketinggian lebih dari 2.500 kaki.
15. Regent Squire
Regent Squire merupakan sea glider otonom yang dirancang untuk kebutuhan misi maritim dengan menggabungkan kemampuan kapal, hydrofoil, dan pesawat.
Kendaraan ini dapat mengapung di permukaan air, naik menggunakan hydrofoil, kemudian terbang dekat permukaan dengan memanfaatkan ground effect.
Squire memiliki panjang sekitar 13 kaki, bentang sayap 18 kaki, dan tinggi 5,5 kaki. Kendaraan ini mampu membawa payload lebih dari 50 pound, mencapai kecepatan 70 knot, serta memiliki jarak tempuh lebih dari 100 nautical miles.
Sebagai platform tanpa awak, Squire ditujukan untuk misi intelligence, surveillance and reconnaissance, logistik, pencarian dan penyelamatan, hingga peperangan antikapal selam.
Pada April 2026, Squire berhasil melakukan demonstrasi penerbangan ground effect, menjadi salah satu tahap pengembangan menuju operasi maritim tanpa awak.
Deretan pesawat tersebut memperlihatkan bahwa masa depan penerbangan tidak hanya berfokus pada peningkatan kecepatan. Elektrifikasi, kemampuan VTOL, otonomi, desain modular, serta integrasi teknologi maritim mulai membuka kemungkinan baru dalam transportasi, logistik, pertahanan, dan penerbangan pribadi.
Jika teknologi tersebut berhasil mencapai tahap sertifikasi dan operasi komersial secara luas, cara manusia dan barang berpindah melalui udara berpotensi mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun mendatang.
Artikel Terkait
Kelly Osbourne Ungkap Momen Keluarga Berduka Usai Kepergian Ozzy Osbourne
Pasta Daging Kaisar Satu Kuali, Menu Praktis dan Mengenyangkan untuk Makan Malam
Dua Lipa Bawakan “Training Season” dalam Penampilan Spesial di Radio 1 Live Lounge
Pesawat Futuristik yang Mengubah Masa Depan Penerbangan, dari Taksi Udara hingga Pesawat Otonom