Citraselebriti — Grup musik asal Jepang, First Love is Never Returned, resmi merilis album penuh perdana bertajuk W.O.R.K.S.. Album ini menjadi tonggak penting bagi perjalanan band beranggotakan lima orang tersebut menuju debut major label secara penuh.
Menariknya, seluruh personel First Love is Never Returned masih menjalani pekerjaan reguler di luar aktivitas bermusik. Karena itu, album W.O.R.K.S. memiliki makna khusus yang berkaitan erat dengan kehidupan mereka sehari-hari.
Judul W.O.R.K.S. dirancang sebagai akronim dengan sejumlah makna. Di antaranya work, weekend, weekday; office, ordinary, only, open; real, rock, rhythm & blues; keep, kicks, key, kindness; serta story, songs, soul, sound.
Album tersebut berisi 12 lagu, dengan enam di antaranya merupakan materi baru. Rilisan ini juga menjadi karya pertama First Love is Never Returned yang didistribusikan secara nasional melalui toko-toko CD fisik di Jepang.
Sebelumnya, First Love is Never Returned telah membangun label sendiri bersama avex. Namun, saat itu mereka tidak menyebut langkah tersebut sebagai debut major label.
Salah satu lagu utama dalam album ini adalah “退職代行 Taisyoku Daikou”. Lagu tersebut ditulis oleh vokalis Kazuki Ishida dan mengangkat fenomena layanan di Jepang yang memungkinkan seseorang membayar pihak lain untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.
Melalui layanan tersebut, seseorang tidak perlu berhadapan langsung dengan atasan atau menjalani percakapan perpisahan yang dianggap canggung. Pihak ketiga akan menyampaikan pengunduran diri atas nama mereka.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan First Love is Never Returned menjadi lagu yang menggambarkan absurditas kehidupan kerja modern.
“退職代行 Taisyoku Daikou” dibangun dengan perubahan karakter yang cukup signifikan antara chorus pertama dan kedua. Tiga vokalis band digunakan untuk menggambarkan ketegangan antara karyawan dan atasan.
Produksi musiknya juga bergerak semakin cepat dan padat dengan sentuhan funk. Perubahan tersebut dibuat untuk menggambarkan kecemasan yang muncul ketika seseorang menghadapi situasi di tempat kerja.
Video musik “退職代行 Taisyoku Daikou” disutradarai Honoka Saito. Video tersebut dikemas dalam bentuk film pendek dengan menghadirkan duo komedi Tosa Brothers, Lucifer Yoshioka dan YouTuber Tamura Kae.
Hal lain yang membuat W.O.R.K.S. berbeda adalah seluruh anggota First Love is Never Returned ikut menulis lagu. Ishida menjadi kontributor utama, sementara Keita Kotakemori, Arata Yamamoto, Mizuki Tsunemoto dan Yuji Sato masing-masing menyumbangkan satu lagu sebagai penulis utama.
Dengan konsep tersebut, W.O.R.K.S. tidak hanya menjadi album yang berpusat pada satu vokalis, tetapi juga menjadi kumpulan suara dan perspektif dari kelima personel band.
Salah satunya adalah “TPTTC”, lagu yang sudah mereka bawakan secara langsung sejak 2019. Lagu ini menjadi karya pertama First Love is Never Returned yang sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris.
“TPTTC” memadukan nuansa pop-punk era 2000-an dengan karakter pop Amerika Serikat era 2020-an serta harmonisasi vokal bergaya boy band.
Arata Yamamoto menghadirkan “Atrium”, lagu yang terinspirasi dari kecintaannya terhadap karya Michael Jackson. Lagu tersebut mengandalkan groove mid-tempo dengan permainan loop yang menjadi bagian penting dalam produksinya.
Sementara itu, Keita Kotakemori menulis “期末評価会議 Kimatsu Hyouka Kaigi”. Lagu tersebut sengaja dibuat memiliki keterkaitan dengan “退職代行 Taisyoku Daikou” dari sudut pandang berbeda.
Jika “退職代行 Taisyoku Daikou” menggambarkan situasi dari sisi pekerja yang ingin meninggalkan pekerjaannya, “Kimatsu Hyouka Kaigi” menghadirkan sisi lain dari percakapan tersebut. Lagu ini menjadi salah satu karya dengan karakter band paling berat yang pernah mereka rekam dan kerap menjadi nomor kuat dalam penampilan live.
Mizuki Tsunemoto kemudian menghadirkan “Twilight” dengan pengaruh pop Amerika Serikat era 1980-an. Sedangkan Yuji Sato menyumbangkan “ミッドナイトブルー Midnight Blue” yang membawa sentuhan fusion dan AOR atau album-oriented rock.
Kedua lagu tersebut menjadi pengalaman pertama Tsunemoto dan Sato sebagai penulis utama lagu. Meski demikian, keduanya tetap menjadi bagian penting dari keseluruhan warna musik W.O.R.K.S.
Tidak hanya hadir dalam format CD, edisi CD+Blu-ray W.O.R.K.S. juga menawarkan materi tambahan dengan durasi hampir tiga jam.
Di dalamnya terdapat rekaman lengkap konser utama pertama First Love is Never Returned di Shibuya Club Quattro. Konser yang terjual habis tersebut menjadi momen ketika album W.O.R.K.S. pertama kali diumumkan.
Edisi tersebut juga dilengkapi dokumenter mengenai perjalanan First Love is Never Returned dari kampung halaman mereka di Sapporo serta wawancara dengan kelima personel.
Untuk mendukung perilisan album, First Love is Never Returned akan menggelar tur bertajuk #FLiNR ONE-MAN TOUR 26-27 “W.O.R.K.S.”. Tur tersebut berlangsung November hingga Januari dengan enam pertunjukan di lima kota.
Tur ini menjadi penampilan utama pertama mereka di Nagoya dan Fukuoka. Mereka juga akan tampil di venue berkapasitas lebih besar di Tokyo melalui Zepp Shinjuku dan Osaka melalui BIGCAT.
Sementara itu, Sapporo menjadi kota pembuka sekaligus penutup rangkaian tur. Penampilan perdana digelar di VyPass., venue yang memiliki hubungan erat dengan perjalanan band, sebelum ditutup di Penny Lane 24.
Setelah bertahun-tahun mengatakan tidak mengejar debut major label, First Love is Never Returned akhirnya mengambil langkah tersebut melalui W.O.R.K.S..
Album ini menjadi pernyataan lima personel tentang perjalanan mereka sebagai musisi yang tetap menjalani kehidupan kerja sehari-hari, sekaligus membangun musik dengan cara mereka sendiri.
Artikel Terkait
First Love is Never Returned Rilis Album W.O.R.K.S., Angkat Fenomena Jasa Pengunduran Diri di Jepang
Marcel Darwin Jadi Cowok Sempurna di Film Naik Level, Modal Tampang Tapi Numpang
Dylan Carr. Terobses pada Maya hingga Kehilangan Logika di Sinetron Cinta Seluas Samudra
Davina Karamoy Dalami Peran Hair Stylist di Film Naik Level, Modal Tampang Tapi Numpang