Kawai Labiba Perdana Perankan Arwah dalam Film Putri Jangan Gentayangan Lagi

- Sabtu, 31/10/2026

Citraselebriti — Aktris Kawai Labiba mendapat pengalaman baru dalam perjalanan karier aktingnya lewat film horor Putri Jangan Gentayangan Lagi. Dalam film produksi MVP Pictures tersebut, Kawai dipercaya memerankan Putri alias Uti, anak pertama Mak Eli yang kisah hidupnya diangkat dari cerita nyata.

Kawai mengaku memerankan sosok arwah untuk pertama kalinya. Peran tersebut menjadi tantangan tersendiri karena ia harus menggabungkan kebutuhan teknis sebagai hantu dengan penghayatan emosi dalam setiap adegan.

“Ini pertama kalinya aku berperan sebagai arwah. Tantangannya luar biasa, tetapi dari tantangan-tantangan itu aku juga banyak belajar,” ujar Kawai dalam jumpa pers di Epicentrum, Jakarta, Jumat ( 30/10).

Salah satu pengalaman unik yang dialaminya adalah harus menggunakan lensa kontak putih sekitar 60 persen selama proses syuting. Kondisi tersebut membuat penglihatannya terbatas sehingga ia bahkan baru mengetahui hasil beberapa adegan ketika menyaksikan filmnya.

Kawai juga mengapresiasi penggunaan CGI dan efek praktis yang mendukung penampilan karakter Putri. Selain itu, ia mengaku banyak belajar dari sutradara Rizal Mantovani, terutama dalam membagi konsentrasi antara kebutuhan teknis dan penghayatan karakter.

Menurut Kawai, memerankan Putri bukan sekadar membangun sosok hantu yang menyeramkan. Ia terlebih dahulu berusaha memahami kehidupan almarhumah melalui cerita Mak Eli, sebelum mengembangkan karakter bersama sutradara dan acting coach.

“Ketika pertama kali mendapatkan skrip dan tahu kalau ini diangkat dari kisah nyata, aku berusaha mendapatkan datanya dari Mak Eli dulu. Dari data tersebut kemudian diolah bersama Mas Rizal dan Om Deri,” jelasnya.

Dari cerita yang diperolehnya, Kawai melihat Putri sebagai sosok anak perempuan yang kuat dan memiliki keinginan besar membantu keluarganya. Namun, persoalan miskomunikasi menjadi salah satu bagian dari perjalanan hidup Putri.

Kawai mengaku bisa memahami perasaan tersebut karena dirinya juga melihat tanggung jawab sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga sebagai sesuatu yang besar.

Untuk membangun karakter Putri, Kawai membagi penghayatannya ke dalam beberapa fase kehidupan. Ia menyebut terdapat tujuh fase yang harus diperhatikan, mulai dari dua fase ketika Putri masih hidup hingga lima fase setelah menjadi arwah.

Perbedaan fase tersebut juga menjadi tantangan dalam menjaga kesinambungan karakter, termasuk perubahan riasan dan penampilan fisik yang dilakukan dari kepala hingga kaki.

“Aku harus mempertahankan kontinuitas Putri ini sedang berada di fase apa. Makeup-nya benar-benar dari ujung ubun-ubun sampai kaki,” ungkapnya.

Selain riasan, Kawai juga harus menjalani berbagai kebutuhan teknis, seperti menggunakan sling untuk adegan tertentu, menahan darah buatan di dalam mulut, hingga berhadapan dengan belatung asli saat pengambilan gambar.

Dalam membangun sosok hantu Putri, Kawai sempat berdiskusi dengan Rizal Mantovani mengenai pendekatan akting yang tepat. Ia awalnya berpikir bahwa karakter hantu harus dimainkan sebagai sosok yang sudah berbeda sepenuhnya dari manusia.

Namun, Rizal justru mengarahkannya agar tetap mempertahankan sisi kemanusiaan Putri.

“Justru harus human karena Putri ini sebelumnya berasal dari manusia. Dia punya cerita, punya emosi, punya background, jadi jangan sampai kehilangan sisi humannya,” tutur Kawai menirukan arahan sang sutradara.

Arahan tersebut kemudian menjadi dasar Kawai dalam mengembangkan ekspresi, gerakan tubuh, serta gestur Putri yang terlihat patah-patah. Proses pengembangan karakter dilakukan bersama Rizal Mantovani dan acting coach Om Deri, baik saat persiapan maupun selama produksi.

Kawai juga mengaku sempat merasa gugup sebelum produksi dimulai. Ia khawatir apakah Mak Eli bersedia jika dirinya dipercaya memerankan putri tercinta yang telah meninggal dunia.

Namun, setelah menjalani reading dan berkomunikasi langsung dengan Mak Eli, Kawai merasa mendapat tanggung jawab besar untuk membawakan sosok Putri dengan penuh penghormatan.

Proses syuting pun dijalani dengan doa dan dukungan dari Mak Eli. Kawai mengaku perasaannya campur aduk ketika menyaksikan film tersebut, terlebih karena kisah kehidupan Putri memiliki kedekatan emosional dengannya.

Film Putri Jangan Gentayangan Lagi turut dibintangi Kinaryosih sebagai Mak Eli, Denisa sebagai Alana, adik Putri, serta Fadi Alaydrus, Bintang Agara, Mirza Ali, dan Matacha.

Kawai berharap penonton tidak hanya melihat sisi horor dari kisah Putri, tetapi juga memahami perjalanan emosional dan hubungan keluarga yang menjadi bagian penting dalam cerita tersebut.

Tags

Artikel Terkait

Terkini