• Selasa, 13/10/2026

Kuntz Agus Jaga Emosi Novel Brian Khrisna dalam Proses Syuting Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

- Senin, 12/10/2026

Citraselebriti — Proses penggarapan film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati melibatkan perjalanan panjang, mulai dari tahap persiapan produksi, pengembangan naskah, hingga pengambilan gambar yang dimulai setelah Lebaran. Film yang diangkat dari novel karya Brian Khrisna ini berupaya mempertahankan inti cerita dan kekuatan emosi yang menjadi daya tarik karya aslinya.

Sutradara Kuntz Agus mengungkapkan, proses pengembangan film tersebut telah dimulai sejak akhir tahun lalu. Bersama tim produksi, ia mengolah cerita novel menjadi sebuah karya layar lebar dengan tetap menjaga perasaan dan pesan yang ingin disampaikan kepada penonton.

Menurut Kuntz Agus, judul film tersebut sengaja dipertahankan sama seperti novel karya Brian Khrisna yang menjadi sumber adaptasinya. Tim produksi tidak mengubah judul karena ingin tetap merujuk pada karya asli yang telah memiliki identitas tersendiri.

Dalam proses mengadaptasi novel menjadi film, Kuntz Agus mengakui ada kemungkinan perubahan pada sejumlah dialog maupun adegan. Namun, baginya, hal terpenting adalah menjaga emosi yang terkandung dalam cerita agar tetap tersampaikan kepada penonton.

“Karena kadang kita tidak mengingat detail ceritanya. Yang kita ingat adalah rasa, perasaan, feeling, emosi, apa yang ada dalam peristiwa itu,” ujar Kuntz Agus dalam wawancara usai peluncuran trailer dan poster film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026)..

Ia menjelaskan, saat membaca kembali novel tersebut, dirinya memberikan perhatian khusus terhadap kalimat-kalimat yang dianggap penting untuk diucapkan oleh para pemain. Selain itu, ia juga menandai bagian-bagian cerita yang memiliki kekuatan emosional dan mampu menyentuh pembaca.

Kuntz Agus ingin memastikan bahwa emosi yang ditulis Brian Khrisna tetap hadir dalam versi film, meskipun penyampaiannya melalui dialog, adegan, atau pendekatan visual yang berbeda.

“Pada intinya, mungkin dialog atau adegan itu sedikit berbeda, tapi emosi yang ada di dalam itu yang harus saya sampaikan kepada penonton. Saya percaya bahwa emosi itu adalah cara komunikasi yang paling baik dengan penonton,” tuturnya.

Sementara itu, Brian Khrisna menjelaskan bahwa novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki proses penulisan yang memperhatikan aspek kesehatan mental. Menurutnya, buku tersebut disusun berdasarkan hasil wawancara dengan tiga orang yang mengalami depresi akut.

Dalam proses penulisannya, materi cerita juga dikonsultasikan dengan psikiater dan seorang dosen psikologi. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pembahasan mengenai depresi dan pengalaman orang-orang yang mengalaminya disampaikan secara hati-hati.

Brian mengungkapkan, proses konsultasi itu menjadi bagian penting dalam pengembangan novel hingga akhirnya mendapat respons positif dari pembaca dan diadaptasi menjadi film.

Dalam mengalihkan novel ke layar lebar, Brian juga memberikan kebebasan kepada Kuntz Agus dan tim produksi untuk mengeksplorasi cerita sesuai kebutuhan medium film.

Kuntz Agus mengatakan, kebebasan tersebut menjadi ruang bagi tim untuk mengembangkan pendekatan sinematik tanpa kehilangan arah utama cerita. Masukan dari Brian, terutama mengenai karakter Ale, menjadi salah satu pegangan dalam proses eksplorasi tersebut.

“Rian benar-benar memberi kebebasan kepada kami untuk mengeksplorasi tentang mengalihwahanakan ini ke dalam film. Kami tetap mendapatkan saran bahwa karakter Ale itu seperti ini. Itu yang kemudian menjadi kata kunci kami untuk bereksplorasi,” kata Kuntz Agus.

Selain mempertahankan karakter dan emosi cerita, pemilihan pemain juga menjadi bagian penting dalam proses adaptasi. Kuntz Agus mengungkapkan, dirinya lebih mengutamakan kesesuaian karakter dan emosi dibandingkan sekadar menyamakan penampilan fisik tokoh dengan deskripsi dalam novel.

Pertimbangan tersebut turut mendasari pemilihan Teuku Rifnu Wikana. Menurut Kuntz Agus, hal yang paling penting adalah kemampuan aktor untuk menghadirkan karakter sesuai kebutuhan cerita.

Ia percaya bahwa kualitas seorang karakter tidak hanya terlihat dari wajah atau bentuk fisik, tetapi juga dari kebaikan dan kedalaman emosi yang mampu ditampilkan melalui akting.

Film ini juga menawarkan perjalanan emosional yang berlapis. Kuntz Agus menjelaskan, cerita mengikuti perjalanan Ale ketika bertemu dengan orang-orang yang membantu dirinya menjadi lebih baik.

Perjalanan tersebut membawa penonton melewati berbagai fase, mulai dari suasana yang tenang dan depresif hingga situasi yang lebih dinamis, sebelum menghadirkan momen-momen emosional.

Meski dikenal melalui film-film yang sarat emosi dan air mata, Kuntz Agus menegaskan bahwa Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati memiliki pendekatan yang berbeda. Ia ingin penonton tidak hanya melihat kisah Ale sebagai perjalanan penuh kesedihan, tetapi juga sebagai pengalaman tentang kehangatan dan harapan.

“Perjalanan Ale ini bukan perjalanan yang sedih dan ditangisi, tetapi adalah kehangatan yang dirayakan,” ungkapnya.

Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati dibintangi Chicco Kurniawan, Teuku Rifnu Wikana, Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Nita Gunawan, Jourdy Pranata, Pangeran Lantang, dan Dewi Irawan, bersama sejumlah pemain lainnya.

Kuntz Agus dan Brian Khrisna berharap kekuatan cerita dalam novel dapat diterjemahkan ke dalam bahasa sinema, sekaligus mengajak penonton memahami perjalanan emosional seseorang yang berhadapan dengan persoalan kesehatan mental.

Tags

Artikel Terkait

Terkini