Citraselebriti — Sejumlah pemain film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, di antaranya Tika Panggabean, Zulfa Maharani, Jourdy Pranata, Benedictus Siregar, dan Chicco Kurniawan, mengungkapkan alasan mereka menerima tawaran bermain dalam film yang diadaptasi dari novel karya Brian Khrisna tersebut.
Para pemain menceritakan pengalaman mereka selama terlibat dalam produksi film yang mengangkat kisah kehidupan manusia, hubungan dengan orang-orang terdekat, serta perjuangan menghadapi persoalan kesehatan mental.
Tika Panggabean dalam film ini berperan sebagai Mami Loui, pemilik sebuah kafe karaoke dan diskotek yang membawahi sejumlah anak buah.
“Aku di Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati ini berperan sebagai Mami Loui, seorang pemilik kafe karaoke, diskotek yang membawahi banyak anak-anaknya. Mami lah, gitu mungkin,” kata Tika dalam wawancara di Plaza Senayan, Jakarta, Senin (12/10/2026
Sementara itu, Jourdy Pranata memerankan Gilang, adik dari karakter yang disebutnya bernama Murat dalam sesi wawancara. Benedictus Siregar berperan sebagai Ali, Zulfa Maharani sebagai Juleha, sedangkan Chicco Kurniawan memerankan Pram, karakter yang memiliki hubungan dengan penjual mi ayam.
Chicco mengaku langsung tertarik ketika membaca premis cerita yang ditawarkan kepadanya. Selain memiliki ketertarikan terhadap ceritanya, ia juga sudah pernah bekerja sama dengan sutradara Kuntz Agus.
“Jujur, dari awal premisnya tuh sudah langsung bikin tertarik. Sebelumnya juga sudah pernah kerja sama sama Mas Kuntz. Rasanya penting punya arahan yang bisa terkoneksi, dan rasanya di sini kejadian. Jadi, enggak ada alasan buat bilang enggak ke cerita yang bagus,” ujar Chicco.
Zulfa Maharani mengaku memiliki alasan tersendiri untuk menerima tawaran tersebut. Ia ternyata sudah membaca novel Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati sebelum mendapatkan kesempatan untuk mengikuti proses casting.
“Aku penggemar novelnya. Aku baca novelnya, jadi pas ditawarin casting tuh kayak manifest aja sih. Karena pas baca dulu, aku berpikir, wah, ini kalau difilmin menarik banget,” tutur Zulfa.
Menurut Zulfa, cerita tersebut memiliki kedekatan dengan kehidupan banyak orang. Ia menilai kisah yang diangkat dalam film ini terasa seperti potongan kehidupan sehari-hari atau slice of life yang dapat dipahami oleh masyarakat Indonesia.
“Ini tuh kayak slice of life. Banyak manusia yang mungkin relate, apalagi di Indonesia. Jadi, ini film yang penting dan enggak mungkin enggak mau ngambil,” lanjutnya.
Alasan serupa juga disampaikan pemain lainnya. Salah seorang pemain mengungkapkan bahwa proyek ini menjadi kesempatan pertamanya membintangi film drama. Meski sempat merasa gugup, pengalaman tersebut justru membuatnya semakin tertarik untuk terlibat.
Sementara itu, pemain lainnya mengaku sempat melihat buku tersebut sebelum mendapatkan tawaran bermain. Ketika akhirnya menerima tawaran film, ia merasa seperti mendapatkan kesempatan untuk terlibat dalam cerita yang sebelumnya sudah menarik perhatiannya.
Setelah membaca novelnya, ia semakin yakin bahwa kisah tersebut memiliki pesan yang penting untuk disampaikan kepada penonton.
“Aku baca novelnya setelah casting, dan pas aku baca, aku sangat percaya kalau buku ini dan filmnya akan menyelamatkan banyak orang. Jadi, aku mau terlibat di dalam situ,” ungkapnya.
Seporsi Mi Ayam sebagai Alasan untuk Bertahan
Dalam sesi wawancara tersebut, para pemain juga ditanya mengenai makna seporsi mi ayam bagi kehidupan mereka. Pertanyaan itu merujuk pada judul film yang menggambarkan sesuatu yang sederhana, tetapi bisa memiliki arti besar bagi seseorang.
Jourdy Pranata mengaku bahwa orang-orang di rumah, terutama sang ibu, merupakan sosok yang paling berarti baginya.
“Kalau ditanya seporsi mi ayamnya apa, aku langsung ingat orang rumah, mama aku. Orang rumahku aja sudah cukup buatku,” kata Jourdy.
Baginya, keberadaan keluarga menjadi salah satu alasan sederhana yang membuat seseorang tetap bertahan menjalani kehidupan.
Pemain lainnya juga menyebut keluarga, teman-teman terdekat, hingga hewan peliharaan sebagai bagian penting dalam hidup mereka. Ada yang menganggap kucing peliharaannya sebagai saksi berbagai peristiwa kehidupan yang tidak selalu diketahui orang lain.
Sementara itu, Chicco Kurniawan memberikan jawaban yang lebih luas. Menurutnya, orang-orang yang bersedia mendengarkan tanpa terburu-buru memberikan penilaian merupakan sosok yang bisa memberikan rasa aman.
“Banyak banget. Mungkin keluarga, mungkin teman-teman. Tapi, orang yang mau mencoba mengerti tanpa menilai duluan. Di mana pun itu bentuknya, yang kadang-kadang bikin aku merasa aman adalah ketika orang mau mendengarkan dulu daripada langsung menilai,” ujar Chicco.
Menurut Chicco, kesediaan seseorang untuk mendengarkan cerita orang lain menjadi hal penting, terutama ketika orang tersebut sedang menghadapi persoalan dalam kehidupannya.
Chicco Kurniawan Bicara soal Kesehatan Mental
Selain mengungkapkan kedekatan para pemain selama proses produksi, Chicco juga membahas pesan kesehatan mental yang diangkat melalui karakter Ale dalam film tersebut.
Ia menilai persoalan kesehatan mental tidak bisa diselesaikan dengan cara yang sederhana. Setiap orang memiliki pengalaman dan kebutuhan berbeda, sehingga proses untuk menghadapi masalah tidak selalu bisa disamakan.
Menurut Chicco, keberanian untuk bercerita merupakan salah satu hal yang penting. Namun, tidak semua orang yang mengalami persoalan kesehatan mental langsung siap menerima bantuan dari orang lain.
“Selalu menyenangkan melihat orang yang kadang-kadang takut sekali untuk mengambil risiko bahwa bercerita itu enggak apa-apa. Tapi, belum tentu orang yang punya masalah kesehatan mental mau dibantu kalau dianya sendiri enggak mau dibantu,” jelas Chicco.
Ia melihat karakter Ale sebagai gambaran seseorang yang mulai siap membuka diri dan mengungkapkan apa yang sedang dialaminya.
Melalui karakter tersebut, Chicco berharap penonton dapat memahami bahwa proses menghadapi persoalan kesehatan mental membutuhkan waktu dan tidak bisa dipaksakan.
“Enggak semuanya, menyembuhkan mental itu enggak semudah itu. Enggak sesimpel kita ngobrol sama teman terus jadi sembuh. Kadang-kadang bentuknya berbeda,” tuturnya.
Chicco menegaskan bahwa film ini penting karena memberikan gambaran bahwa setiap orang memiliki perjalanan masing-masing dalam menghadapi persoalan hidup.
“Kalau orang mengalami masalah mental, spektrumnya besar banget. Tapi, ini spesifik di Ale. Melewatinnya ternyata enggak perlu buru-buru, enggak perlu ada paksaan, enggak perlu ada keharusan harus ngapain,” kata Chicco.
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati, para pemain berharap kisah yang disampaikan dapat mengajak penonton untuk lebih memahami orang-orang di sekitarnya, termasuk mereka yang sedang berjuang menghadapi persoalan pribadi.
Film ini tidak hanya menghadirkan cerita tentang kehidupan sehari-hari, tetapi juga mengingatkan bahwa perhatian, kesediaan untuk mendengarkan, dan kehadiran orang-orang terdekat dapat memiliki arti besar bagi seseorang yang sedang menghadapi masa sulit.
Artikel Terkait
Tika Panggabean hingga Chicco Kurniawan Ungkap Alasan Terlibat dalam Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Fajar Nugra Sebut Karakter Bobi di Film Hungry Ghost Festival Jadi Penyeimbang Raka dan Tintin
Kuntz Agus Jaga Emosi Novel Brian Khrisna dalam Proses Syuting Film Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Endi Arfian Baru Tahu Festival Hantu Lapar Tradisi Nyata di Indonesia lewat Film Hungry Ghost Festival