Citraselebriti — Teknologi kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) terus berkembang dan mulai menawarkan fungsi yang jauh melampaui perangkat wearable konvensional. Kacamata AI terbaru menggabungkan asisten suara, kamera, penerjemah bahasa, audio open-ear, hingga layar virtual dan teknologi spatial computing.
Memasuki lanskap teknologi 2027, sejumlah produsen menghadirkan pendekatan berbeda. Ada yang mempertahankan desain seperti kacamata sehari-hari, sementara lainnya menawarkan pengalaman extended reality (XR) untuk gaming, hiburan, produktivitas, hingga pekerjaan multitasking.
Berikut 10 kacamata AI yang menjadi bagian dari perkembangan teknologi wearable terbaru:
1. Reneo GT Max
Reneo GT Max membawa pengalaman hiburan ke dalam layar virtual berukuran besar. Perangkat ini menawarkan layar virtual hingga setara 307 inci, dengan ukuran bioskop virtual 267 inci serta bidang pandang 59 derajat.
Diluncurkan pada September 2026, GT Max menggunakan teknologi tandem micro-OLED dengan refresh rate hingga 120 Hz dan tingkat kecerahan mencapai 1.200 nits.
Reneo juga membekali perangkat ini dengan Vision 4000 display chip dan Zone 363 DOF chip untuk membantu menentukan posisi layar secara spasial.
Pengguna dapat memilih mode Follow, Steady, atau Pinned. Ketiganya memungkinkan layar virtual mengikuti arah pandangan, tetap stabil, atau terkunci pada posisi tertentu.
Untuk audio, GT Max dilengkapi empat speaker yang dituning bersama Bang & Olufsen, head-tracked spatial audio, serta Whisper Mode 2.0.
Dengan bobot sekitar 78 gram, perangkat ini dirancang untuk menikmati film, gaming, streaming, dan konten layar besar tanpa harus menggunakan televisi atau monitor konvensional.
2. HTC Vive Eagle
HTC Vive Eagle menghadirkan teknologi AI dalam bentuk kacamata yang tetap terlihat seperti eyewear biasa. Perangkat ini menggabungkan kontrol suara, kamera, penerjemahan bahasa, dan audio open-ear.
Kamera ultrawide 12 MP memungkinkan pengguna mengambil foto maupun video melalui perintah suara sehingga aktivitas dokumentasi dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan smartphone.
HTC juga membekali Vive Eagle dengan asisten Vive AI yang dapat mengakses platform AI seperti OpenAI GPT dan Google Gemini.
Kacamata ini dapat digunakan untuk membuat pengingat, mencatat informasi, memberikan rekomendasi restoran, hingga mengontrol fungsi tertentu pada smartphone.
Fitur penerjemahannya mendukung lebih dari 13 bahasa dan dapat menerjemahkan teks yang ditangkap kamera.
Perangkat menggunakan Qualcomm Snapdragon AR1 Gen1 dan memiliki sertifikasi IP54. Baterainya menawarkan lebih dari 36 jam waktu standby dan sekitar 4,5 jam pemutaran musik secara terus-menerus. Pengisian cepat dapat mencapai 50 persen dalam waktu sekitar 10 menit.
3. Samsung Galaxy Glasses
Samsung membawa Galaxy AI ke dalam format kacamata pintar melalui Galaxy Glasses. Perangkat ini menggabungkan kamera, mikrofon, speaker, dan Gemini untuk menghadirkan asisten AI secara hands-free.
Diperkenalkan pada Juli 2026, Galaxy Glasses dikembangkan Samsung bersama Gentle Monster dan Warby Parker.
Menggunakan platform Qualcomm Snapdragon AR1 Gen1, perangkat ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan Gemini melalui suara, memahami objek yang dilihat kamera, mendapatkan petunjuk arah, menerjemahkan bahasa, merekam momen, hingga mengajukan pertanyaan mengenai lingkungan sekitar.
Samsung mengklaim daya tahan baterainya mencapai hingga sembilan jam dalam sekali pengisian. Charging case juga menyediakan lebih dari tujuh kali pengisian tambahan.
Aspek privasi turut menjadi perhatian dengan kehadiran LED eksternal dan internal yang menunjukkan ketika proses perekaman berlangsung. Fitur wear detection juga dapat menonaktifkan perekaman ketika kacamata dilepas.
4. XREAL Aura
XREAL Aura menawarkan konsep spatial computing dengan memisahkan sebagian perangkat keras dari kacamata. Kacamata XR yang ringan dipasangkan dengan computing puck yang menangani pemrosesan dan sumber daya baterai.
Sistem tersebut menggunakan platform Android XR dari Google dengan dukungan Gemini. Pengguna dapat mengakses interaksi AI, aplikasi spasial, layar virtual, navigasi Google Maps secara imersif, serta video YouTube 180 dan 360 derajat.
Aura menggunakan spatial co-processor XREAL X1S, sedangkan computing puck mengandalkan Qualcomm Snapdragon XR platform.
Perangkat ini memiliki bidang pandang 70 derajat dan teknologi optical see-through sehingga konten digital dapat ditampilkan tanpa sepenuhnya menutup pandangan terhadap lingkungan nyata.
Aura juga dapat terhubung dengan laptop melalui DisplayPort untuk menghadirkan ruang kerja tiga dimensi. Dukungan lensa resep turut tersedia.
XREAL memperkirakan Aura meluncur pada musim gugur 2026, sementara harga dan konfigurasi final diumumkan mendekati waktu peluncuran.
5. RayNeo IO
RayNeo IO menggabungkan layar transparan dengan berbagai fitur AI dalam desain yang mendekati kacamata biasa.
Perangkat ini menawarkan layar transparan setara 33 inci dengan sistem optik Blue Lake yang diklaim memiliki transmisi cahaya hingga 97 persen.
Dengan bobot sekitar 33 gram, frame Crown Panto dirancang untuk penggunaan sehari-hari.
Perintah suara dapat digunakan untuk mengaktifkan AI RayNeo dan menampilkan informasi melalui layar. Perangkat juga mendukung penerjemahan langsung hingga 55 bahasa dan 109 aksen.
Fitur lainnya mencakup pembuatan catatan rapat secara otomatis, invisible teleprompter yang mengikuti ritme bicara, serta fitur Lifelog untuk membuat timeline aktivitas pribadi.
Berbeda dari sejumlah kacamata AI yang menggunakan kamera, RayNeo IO mengusung desain tanpa kamera. Data juga diproses dengan pendekatan anonim di perangkat.
RayNeo mengklaim perangkat dapat digunakan hingga dua hari untuk pemakaian sehari-hari dan memiliki perlindungan IP54.
6. Unseen Reality URXR1
URXR1 membawa spatial computing ke dalam bentuk kacamata yang lebih ringkas dibandingkan headset VR tradisional.
Dikembangkan Unseen Reality, perangkat ini memiliki bobot sekitar 93 gram dan menggunakan dua micro-OLED berukuran 1,03 inci dengan resolusi 2448 x 264 piksel per mata.
Layarnya memiliki refresh rate 90 Hz dan bidang pandang diagonal hingga 90 derajat.
Sistem spatial processing mendukung pelacakan 3D DOF dan 6 DOF. Dua kamera SLAM serta IMU 1.000 Hz membantu menjaga posisi layar virtual di ruang fisik.
URXR1 juga mendukung video see-through dengan latensi di bawah 10 milidetik serta kontrol menggunakan gestur tangan.
Perangkat terhubung melalui USB-C DisplayPort. Power hub tambahan memungkinkan penggunaan bersama smartphone, tablet, dan Nintendo Switch.
Melalui URXR Connect, pengguna dapat mengakses hingga tiga layar spasial, tampilan panorama, serta lingkungan virtual cinema.
Pengiriman perangkat diperkirakan dimulai pada pertengahan Oktober 2026.
7. Nemo
Nemo mengubah kacamata pintar menjadi bagian dari sistem spatial computing portabel. Nemo 1 menggunakan layar beresolusi 1920 x 1080 piksel per mata dengan bidang pandang 46 derajat dan 49 piksel per derajat.
Kacamata ini tidak membawa seluruh baterai dan prosesor di dalam frame. Pemrosesan dilakukan oleh perangkat terpisah bernama Nemo Core.
Nemo Core menggunakan prosesor Qualcomm XR2, RAM 8 GB, penyimpanan 128 GB, Wi-Fi 6, Bluetooth, trackpad, dan kontrol air mouse.
Menjalankan Nemo OS, sistem ini dapat mendukung ribuan aplikasi Android dan web serta terhubung dengan komputer Windows maupun Mac.
Nemo juga mampu membuat hingga enam layar virtual sehingga pengguna dapat membangun ruang kerja tanpa membutuhkan monitor fisik.
8. Rollme Aura View
Rollme Aura View memadukan desain kacamata konvensional dengan sejumlah fitur AI dalam perangkat yang ringkas.
Diperkenalkan pada Agustus 2026, perangkat ini menggunakan frame metal half-rim dengan lensa berwarna cokelat.
Di dalamnya terdapat kamera Sony 12 MP, mikrofon, speaker, dan perangkat keras khusus AI. Kamera dapat mengambil foto dalam waktu sekitar 0,6 detik dan dilengkapi electronic image stabilization untuk membantu menghasilkan video yang lebih stabil.
Sistem dual-chip mendukung asisten suara dan pengenalan visual. Pengguna dapat meminta perangkat mengenali objek, landmark, hingga menerjemahkan teks yang terlihat melalui kamera.
Fitur live translation juga tersedia untuk membantu percakapan lintas bahasa.
Dengan speaker open-ear, pengguna tetap dapat mendengarkan audio tanpa menutup telinga. Mikrofon dengan noise reduction digunakan untuk menangani panggilan melalui Bluetooth.
Rollme mengklaim baterainya dirancang untuk penggunaan sepanjang hari. Saat diperkenalkan, Aura View memiliki harga peluncuran sekitar 99,99 dolar AS.
9. VITURE Pro 2
VITURE Pro 2 mengubah kacamata menjadi layar pribadi portabel untuk gaming, hiburan, dan komputasi.
Perangkat ini menggunakan panel micro-OLED Sony dengan sistem optik UltraClarity 3.0 dari VITURE. Layar virtualnya dapat mencapai ukuran hingga 146 inci.
Setiap mata mendapatkan resolusi 1920 x 1080 piksel, dengan bidang pandang 50 derajat, tingkat kecerahan hingga 1.600 nits, serta refresh rate 120 Hz.
Pengguna juga dapat menyesuaikan diopter dari 0 hingga minus 5.0 untuk membantu koreksi penglihatan.
VITURE Pro 2 terhubung melalui USB-C DisplayPort dan kompatibel dengan laptop, perangkat gaming handheld, serta sejumlah perangkat lainnya.
Software SpaceWalker menghadirkan fitur spatial seperti lingkungan multi-screen virtual dan tampilan 3D.
Dengan harga yang tercantum sekitar 299 dolar AS, perangkat ini menawarkan alternatif layar portabel bagi pengguna yang menginginkan monitor virtual berukuran besar.
10. TOZO AI Smart Glasses
TOZO AI Smart Glasses atau AIVU mengambil pendekatan berbeda dengan lebih menitikberatkan pada interaksi AI hands-free.
Perangkat ini diperkenalkan TOZO dalam ajang Global Sources Hong Kong pada April 2026. AIVU dirancang untuk menghadirkan asisten suara pintar, penyampaian informasi secara real-time, serta sejumlah fungsi yang berkaitan dengan pekerjaan.
Pengguna dapat berinteraksi dengan kacamata melalui percakapan suara secara natural tanpa harus terus-menerus mengambil smartphone.
Konsep tersebut dinilai dapat berguna saat bekerja, bepergian, mengerjakan beberapa aktivitas sekaligus, maupun dalam situasi yang membutuhkan akses informasi secara hands-free.
TOZO memperkenalkan AIVU sebagai bagian dari ekspansinya ke sektor smart wearable dan teknologi AI pada 2026.
Namun, hingga diperkenalkan, sejumlah spesifikasi penting seperti kamera, kapasitas baterai, layar, dan bobot belum dipublikasikan secara resmi.
Dengan pendekatan tersebut, TOZO AIVU lebih menempatkan AI sebagai pusat pengalaman penggunaan, dengan tujuan membuat interaksi dengan asisten digital terasa lebih alami melalui perangkat yang dikenakan sehari-hari.
Artikel Terkait
Ahmad Dhani Ungkap Dewa 19 Capai Puncak Kesuksesan Finansial dalam 5 Tahun Terakhir
Kacamata AI Canggih yang Membentuk Tren Teknologi Wearable 2027
Diperiksa 23 Pertanyaan, Kuasa Hukum Ungkap Kondisi Korban Dugaan Kekerasan Seksual
XG Siapkan Single Baru “DEPENDS”, XGALX Resmi Masuki Era Baru